Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 19. Curhat dengan sahabat


__ADS_3

Sesuai janji hari ini kedua sahabat Itnas yaitu Kana dan Syahdu menghampiri kediaman Itnas. Mereka benar-benar penasaran dengan konflik yang menimpa sahabatnya itu.


Itnas, Syahdu dan Kana memilih duduk di gazebo di taman belakang rumah Itnas. Sebelum bercerita mereka bertiga menyantap rujak buah yang dibawakan Syahdu setelah sebelumnya sempat sarapan bersama di rumah Itnas.


Bukan tanpa alasan Syahdu memilih membawa rujak. Selain karena memang kebiasaan mereka bertiga ketika ngumpul memang suka rujakan Syahdu juga mengantisipasi kalau cerita Itnas akan sedih. Syahdu takut mewek mendengar curhatan Itnas padahal diantara mereka bertiga Syahdu lah yang dikenal pantang menangis.


Jika nanti Syahdu sampai menangis nanti rujak lah yang akan dia jadikan kambing hitam dengan mengatakan bukan nangis tapi kepedasan.


Pagi itu angin bertiup lembut membelai rambut lurus Itnas yang panjang. Suasana yang sejuk ditambah pemandangan taman belakang yang indah seakan menentramkan hati tapi tidak dengan hati Itnas dia begitu tidak menikmati indahnya hari itu karena di dalam hatinya tersimpan banyak beban pikiran.


"Ayo dong Nas dimulai ceritanya!" pinta Syahdu yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan curhatan sahabatnya itu. Setelah mereka bertiga itu menghabiskan rujaknya.


Itnas pun mulai bercerita tentang awal pertemuannya dengan Vierdo berlanjut ke hubungan keduanya hingga akhirnya dia pun yang terpaksa memutuskan hubungan dengan mantan kekasihnya itu akibat perjodohan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.


Awalnya Syahdu dan Kana terperangah mendengar cerita Itnas, tetapi kemudian mereka paham setelah menghubungkan kejadian yang menyebabkan Itnas pingsan waktu itu dan keinginan Itnas yang mau resign dari perusahaan tempat mereka bekerja.


Diantara mereka bertiga hanya Itnas lah yang sepertinya tertutup kepada kedua sahabatnya. Dia jarang menceritakan sesuatu hal yang menurutnya tidak perlu untuk diceritakan. Apalagi sewaktu mereka memutuskan menjadi sahabat saat itu hubungannya dengan Vierdo berstatus hubungan jarak jauh.


Berbeda dengan Kana apalagi Syahdu yang ketika punya masalah selalu curhat, Itnas malah seolah menutupi keadaan dirinya. Oleh karena itu pantaslah kalau kedua sahabat Itnas itu terkejut mendengar Itnas punya kekasih dulu. Pasalnya Itnas tidak pernah bercerita kalau dia sudah punya pacar dan bahkan sekarang malah punya suami.


"Nas, Lo nganggep kita ini apaan sih selama ini sampai nggak mau bercerita sama kami tentang apa yang terjadi dalam hidup lo," protes Syahdu.


"Ho'oh, padahal kalau kita punya masalah kita selalu curhat sama lo." Kana menimpali.


"Maaf bukannya gue nggak nganggep kalian sahabat cuma gue nggak mau ngerepotin dan jadi beban kalian," sesal Itnas.


"Sesama sahabat itu harus saling berbagi Nas, berbagi suka dan duka bukan sukanya aja. Elo kalau ada kabar baik, kabar bahagia selalu berbagi sama kami, tapi giliran lo punya masalah dipendam sendiri tidak mau berbagi sama kami dengan alasan tidak mau merepotkan dan menjadi beban kami padahal kami kan selalu ngerepotin lo," kata Kana panjang lebar.


"Dan kami pun siap membantu Lo semampu kami," sambung Syahdu.


"Maaf dan terima kasih kalian peduli sama gue." Hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Itnas atas protes kedua sahabatnya.


"Yasudah lanjutin ceritanya!" pinta Syahdu.


"Aku penasaran cerita perjodohan lo sama persis nggak ya dengan novel-novel online yang sering gue baca," lanjut Syahdu.

__ADS_1


Kana menyenggol bahu Itnas. "Kebiasaan selalu menghubungkan dengan novel," gerutunya.


Itnas pun menceritakan tentang keadaan pernikahannya dengan Yudha. Namun, ceritanya melenceng dari khayalan Syahdu. Bagaimana tidak semua novel yang dibaca Syahdu tentang kisah perjodohan adalah kisah yang awalnya bercerita tentang sepasang suami istri yang terjebak perjodohan dan biasanya si suami membuat surat perjanjian yang panjang lebar ditulis dan harus ditandatangani oleh pihak istri. Yang isinya seolah menganggap pernikahan mereka hanyalah kawin kontrak yang harus berakhir dalam jangka waktu tertentu lengkap dengan hak dan kewajiban yang harus dilakukan pihak wanita yang disebut istri. Kenyataannya pada akhirnya si suami lah yang memutuskan tidak ingin berpisah dan malah bucin dengan sang istri.


Nyatanya kisah Itnas tidak sesuai dengan harapan Syahdu.


"Jadi selama menikah Yudha nggak pernah nyentuh elo?" Syahdu keheranan.


Itnas hanya mengangguk.


"Istri tak tersentuh," gumam Kana lirih namun masih bisa di dengar oleh kedua sahabatnya.


Syahdu menyenggol bahu Kana sepertinya dia ingin balas dendam atas protes Kana tadi yang mengatakan bahwa Syahdu sering mengaitkan hidup seseorang dengan novel. Nyatanya sekarang Kana malah menyebutkan salah satu judul novel online.


"Kok malah mirip novel yang aku baca sih." Kana malah memperjelas.


Itnas tertunduk dia malah merasa malu mendengar ocehan sahabatnya. Dia merasa menjadi orang yang benar-benar bodoh.


"Suami kamu bukan penyuka sesama jenis kan Nas?" Pertanyaan konyol Syahdu tetapi masuk akal, bagaimana mungkin seorang suami tidak mau menyentuh istrinya padahal Itnas cantik dan pintar, terus apa kurangnya Itnas?


"Hah, istri muda?"


"Hah, punya anak?"


Ucap Syahdu dan Kana nyaris bersamaan. Berita ini sungguh membuat kedua orang itu syok. Lebih syok ketimbang Itnas mengakui kalau Yudha seorang gay.


"Kok Lo mau sih Nas," protes Syahdu


"Ya mau gimana lagi," jawab Itnas sambil mengendikkan bahu.


"Ya lo protes lah nggak mau gitu masa baru nikah udah dipoligami."


"Gak bisa Du soalnya mantannya mas Yudha hamil jadi gue nggak mungkin kan nggak ngizinin dia nikahin tuh cewek."


"Yo wes kamu aja yang minta cerai beres. Nggak usah pertahanin tuh rumah tangga yang nggak jelas." Syahdu malah ngegas. Rupanya pedasnya rujak yang ia santap tidak mau dijadikan kambing hitam terbukti Syahdu tidak menangis saat mendengarkan cerita Itnas malah sekarang hatinya panas karena kesal dengan sahabatnya.

__ADS_1


"Terpaksa Du demi bokap, lo kan tahu kalo bokap gue jantungan. Kayaknya lo nggak nyimak ya cerita gue tadi. Kalo sampai aku pisah bisa-bisa tuh penyakit bokap kambuh. Gue nggak maulah ambil resiko."


"Ya nggak usah bilang Nas sama bokap lo. Rahasiain gitu!"


"Sayangnya aku nggak pandai berakting."


"Sudah-sudah kalian kok malah ribut sih," lerai Kana yang sedari tadi hanya diam karena saking syoknya mendengar cerita kehidupan Itnas. Dibenci mantan, dijodohkan, diabaikan suami bahkan dipoligami. Benar-benar miris kisah sahabatnya ini.


"Apakah lo nyaman dengan pernikahan lo Nas?" tanya Kana kemudian.


"Entahlah." Jawaban Itnas datar. Dia sendiri bahkan tidak tahu keinginan hatinya sekarang seperti apa.


"Menurut gue lo cerai aja ama Yudha trus lo kembali lagi ama pak Vier. Aku yakin pak Vier itu masih cinta ama elo. Makanya dia masih kesal ama elo karena dia tuh masih belum bisa move on dari lo. Gue yakin kalo dia sudah move on dari lo dia pasti bisa ikhlas dan maafin lo tapi nyatanya dia masih marah kan sama lo."


"Entahlah aku tidak pernah berpikir untuk kembali padanya justru aku ingin pergi dari hidupnya."


"Kamu masih cinta kan sama dia?"


"Du ... kamu tuh sama kayak mama ya ngeselinnya. Pakek maksa segala aku kembali sama pak Vier."


"Tuh Tante Refi aja sependapat sama gue."


"Udah ah aku nggak mau bahas tentang pak Vier lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Kalian bisa bantu aku nggak cariin aku kerja entar kalo aku udah resign?"


"Nanti aku usahain," ucap Kana


"Tapi kalo aku bisa ngasih pendapat gue setuju ama Syahdu lo lebih baik cerai aja tuh sama si Yudha. Dia bukan hanya tidak bisa adil terhadap kedua istrinya, tetapi juga lalai akan kewajibannya. Suami seperti itu tidak pantas dipertahankan. Terserah lo nanti mau nikah dengan siapa tidak harus dengan pak Vier dan jangan sampai kamu takut menyandang status janda kalo status itu lebih menjamin kebahagiaan lo. Yang lo harus pikirkan sekarang adalah bagaimana cara lo menjelaskan sama bokap lo supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi kalo lo memang nyaman dengan pernikahan ini ya terserah lo kalo lo mau lanjutin."


Mendengar ceramah Kana Itnas hanya mengangguk. "Nanti saya pikirkan karena terus terang saya pun tidak tahu apa yang hati saya inginkan.


Kana dan Syahdu hanya geleng-geleng kepala.


"Aneh," ucap mereka bersamaan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2