Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 20. Sedikit Terkuak


__ADS_3

30 hari berlalu dari semenjak Itnas menyetorkan surat pengunduran diri. Sambil menunggu masa-masa dia bisa keluar dari perusahaan Itnas mencoba memasukkan beberapa surat lamaran pekerjaan di berbagai perusahaan lainnya. Namun selama itu tidak ada satu pun dari surat lamarannya yang membuahkan hasil, karena sampai saat itu tidak ada satu pun perusahaan yang memanggil dirinya.


Beberapa hari ini Itnas memilih bersantai ria setelah melepas pekerjaannya. Mumpung lagi tidak bekerja dan memiliki banyak waktu luang dia memutuskan untuk berlibur ke Bali.


Setelah mendapatkan izin dari Yudha lewat telepon, Itnas langsung meluncur ke bandara dan terbang ke Bali.


Di sana dia menyewa hotel untuk bermalam sedangkan siangnya dia gunakan waktu untuk berselancar di dunia hiburan serta pantai yang selalu menjadi daya tariknya.


Semburat senja di pantai Bali benar-benar menggugah hati, tetapi perpaduan warna merah dan jingga tersebut seolah selalu dikaitkan dengan rasa pilu dan sendu.


Seperti saat sekarang memandang senja bagi Itnas sungguh menyayat hati. Dulu dia pernah mengagumi senja. Namun, sekarang baginya senja hanyalah keindahan yang datang untuk meninggalkannya.


Dia teringat kisah indahnya bersama sang mantan yang harus dia relakan berlalu seperti halnya senja yang selalu meninggalkan siang tanpa permisi dan tanpa ada penolakan.


Sama-sama meninggalkan rindu yang mendalam. Namun, bedanya senja masih bisa menyambangi di penghujung siang tapi kisah dirinya akankah pernah kembali?


Itnas meraup wajahnya kasar.


I**ni tidak benar, mengapa aku merasa merindu dan masih mengharapkannya. Ya Tuhan ampunilah dosaku dan arahkanlah pikiranku ke jalan yang benar, bukankah Engkau Dzat yang selalu bisa membolak-balik hati manusia.


Itnas mencoba mengalihkan pikirannya. Memandang ombak yang selalu menjilati pasir. Menikmati deburannya yang selalu membuat hati tenang. Damai begitulah yang dia rasakan kini.


Di saat sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan laut tiba-tiba ponsel Itnas berbunyi. Itnas berdiri dan merogoh ponsel tersebut dari kantong celananya. Setelah dilihat ternyata Kana yang memanggil.


"Iya Kan ada apa?" Tanpa basa-basi Itnas menjawab telepon Kana.


"Gue mau ngasih kabar kalo ada lowongan di sebuah perusahaan periklanan, tetapi hanya di bagian Comercial Photography. Kalo lo minat gue daftarin deh sama sahabat gue." Terdengar suara Kana dari seberang sana.


"Boleh Kan nanti aku suruh bik Sri buat nganterin surat lamaran pekerjaan ke rumah elo."

__ADS_1


"Emang kenapa nggak lo antar sendiri?"


"Gue masih di Bali Kan, jadi gue minta tolong lo untuk anterin surat lamaran pekerjaan gue ke perusahaan itu atau kalo tidak langsung titipin ke sahabat elo."


"Ngapain lo di Bali?"


"Ya liburan lah emang ngapain lagi, soalnya gue lagi gabut nih di rumah terus."


"Cih, nih anak piknik sendiri gak ngajak-ngajak. Emang lo aja yang gabut gue juga kali."


"Abisnya lo kan kerja diajak pun nggak bakalan bisa. Daripada lo ngiler mending gue rahasiain aja."


"Cih, rahasiain apaan sekarang lo malah ngasih tahu gue."


"Sorry terpaksa daripada elo nggak mau bantu nyetorin tuh surat lamaran ke perusahaan sahabat elo."


"Ish. Tuh perusahaan bukan milik teman gue dia cuma karyawan di tempat itu."


"Kalo itu sih bisa diusahakan tapi lo yakin Nas?"


"Maksud Lo?"


"Ya, kan bagian yang kosong hanya di bagian Comercial Photography. Lo yakin bisa motret-motret gitu?"


"Ya ampun Kana jangankan gue, anak paud aja tahu kalau hanya disuruh cekrek-cekrek."


"Nas gue nggak mau bercanda. Elo mengerti kan apa yang gue maksud?"


"Iya gue ngerti kok. Tenang aja gue dulu pas kuliah memang jurusannya di bidang potography kok."

__ADS_1


"Kalo begitu pas dong?"


"Ho'oh."


"Ya udah gue tutup teleponnya mau balik kerja, lo nikmati aja masa-masa santai lo sebelum kembali bekerja supaya nggak gabut lagi. Syukur-syukur lo dapat jodoh di sana."


"Yaelah nih anak minta di damprat kayaknya." Dari seberang telepon terdengar suara cekikikan Kana sebelum sambungan teleponnya terputus.


Setelah menutup telepon Itnas seolah melihat siluet seseorang. Dia mengedarkan pandanganya mencari sosok yang sepertinya dia kenal. Namun, sepertinya orang yang dia cari sudah tidak ada lagi di tempat itu.


Itnas terus mencari dan mencari. Akhirnya dia melihat dua sosok manusia yang saling merangkul itu berjalan menuju hotel yang terletak di pinggir pantai. Itnas terus mengikuti sepasang kekasih tersebut tanpa mereka ketahui hingga keduanya menghilang dari balik pintu kamar sebuah hotel. Namun, sebelum masuk si lelaki tersebut sempat menengok kebelakang dan Itnas dengan sigapnya memotret dengan kamera ponselnya.


Setelah keduanya masuk ke dalam kamar hotel Itnas mengamati kedua insan yang sepertinya dimabuk asmara itu lewat tangkapan kamera di layar hpnya. Ternyata dugaannya benar si lelaki itu adalah Yudha suaminya sendiri. Lantas siapakah wanita yang bersamanya?


Tidak mungkin wanita itu adalah Thalita karena dari rambutnya jelas itu bukan Thalita. Rambut wanita tadi lurus dan agak pendek sedangkan Thalita rambutnya panjang bergelombang dan dilihat dari perutnya pun wanita tadi langsing sedangkan Thalita agak buncit karena sedang hamil.


Itnas meraba-raba kalau wanita tersebut adalah selingkuhan Yudha. Brengsek memang tuh orang sudah punya dua istri masih saja selingkuh begitu pikiran Itnas. Pantas saja dia tidak mau menyentuh Itnas toh dia sudah dipuasin sama wanita ****** di luaran sana. Tapi tidak apa kenyataan ini justru meyakinkan Itnas bahwa Yudha tidak pantas untuknya.


Dia bertekad setelah ini walaupun Yudha meminta haknya pun dia tidak akan memberikannya. Lebih baik jadi istri yang tidak tersentuh seperti kata Kana daripada harus di sentuh suami yang suka celap-celup sana sini. Atau kalau perlu berpisah pun akan Itnas lakukan.


Mulai saat ini Itnas memutuskan untuk menyelidiki sifat Yudha yang sebenarnya sambil mencari cara bagaimana untuk menjelaskan pada sang papa agar beliau mendukung keputusannya nanti tanpa membuat sang papa syok.


Sejenak pikiran Itnas melayang kepada Thalita. Apakah benar yang dikatakan Thalita bahwa ia tidak pernah dinafkahi oleh Yudha seperti dirinya. Awalnya Itnas memang tidak percaya, tetapi melihat kejadian tadi sepertinya Itnas harus berpikir ulang untuk tidak mempercayai semua itu. Melihat sikap Yudha yang suka bermain dengan wanita bukan tidak mungkin gajinya habis untuk membiayai wanitanya di luaran sana.


Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia bekerja sama dengan madunya itu untuk mengungkap kebenaran tentang suaminya?


Tidak. Tidak mungkin Itnas bekerja sama dengan orang yang baru saja ia kenal. Bahkan perkenalannya pun dengan cara yang tidak baik. Dia memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Bukan hanya menyelidiki Yudha, ia pun bertekad menyelidiki hidup Thalita. Bisa sajakah kedua orang tersebut memiliki maksud yang tidak baik terhadap dirinya. Ya itulah keputusan Itnas untuk saat ini.


"Ya Tuhan semoga engkau merestui keputusanku kali ini."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2