
"Kalau tidak ada yang mau menjelaskan ya sudah," ucap Itnas pasrah melihat keduanya setelah saling pandang hanya terdiam saja dan menunduk.
Kanq memandang wajah Syahdu untuk meminta persetujuan agar diperbolehkan menjelaskan kepada Itnas. Namun, Syahdu sama sekali tidak merespon dia masih saja bersikap cuek pada Kana.
Kana menghela nafas panjang. Baiklah akan saya jelaskan Nas ucapnya," sambil melirik Syahdu yang masih saja tetap cuek.
Kana menarik nafas panjang lagi selalu menghembuskan secara perlahan.
"Begini Nas." Kana mulai menjelaskan.
"Beberapa minggu yang lalu saat mobil Syahdu kempes di tengah jalan dia langsung menelpon ojek online untuk mengantar dirinya ke kantor. Ternyata ojek online yang dia pesan itu adalah orang yang tadi juga mengantarkan saya ke tempat ini. Gino namanya." Kana diam sebentar sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Oke, terus apa hubungannya Gino itu dengan perselisihan kalian ini?" tanya Itnas masih tidak mengerti. Walaupun paham keduanya pasti memperebutkan Gino, tetapi apa alasannya Syahdu bisa marah terhadap Kana.
Setelah pertama kali bertemu dengan Gino ternyata syahdu malah tertarik dengan pria itu. Oleh karena itu setelah pertemuannya dengan tukang ojek itu setiap hari Syahdu tidak membawa mobil ke kantor, tetapi malah meminta tukang ojek tersebut yang mengantarkan dirinya ke kantor artinya Syahdu menjadikan Gino ojek langganannya."
Kana berhenti lagi sesaat, sebelum melanjutkan ceritanya dia melirik ke arah Syahdu. Tetap saja Gadis itu masih bersikap cuek padanya.
Pada suatu hari ketika Syahdu menelpon Gino lagi untuk mengantarnya pulang pria itu bertemu denganku dan mengajak diriku berbincang-bincang karena dia orangnya humble maka kami menjadi akrab. Syahdu terlihat cemburu karena melihat kami begitu dekat dan bahkan Gino sering berinisiatif mengantar diriku pulang juga setelah mengantar Syahdu. Haah!" Kana membuang nafas kasar.
"Terus hanya karena itu kalian malah saling tidak menyapa seperti sekarang dan hubungan kalian menjadi renggang?" tanya Itnas heran.
"Bukan aku yang tidak ingin bicara tapi Syahdu yang tidak ingin berbicara padaku," bela Kana.
"Kau lihat sendiri kan betapa cueknya dia padaku apalagi ditambah waktu itu saat Pak Vierdo pingsan saya menegurnya mungkin dia tambah marah padaku," jelas Kana sambil melirik wajah Syahdu lagi.
"Ceritanya belum selesai, kan?" Tiba-tiba Syahdu menyambung pembicaraan.
__ADS_1
Langsung saja Itnas melihat wajah Syahdu.
"Iya memang belum," jawab Kana.
"Aku lanjutkan ceratanya Nas," ucap Kana pada Itnas dan Itnas hanya mengangguk sedangkan Thalita hanya menjadi pendengar yang baik tanpa mau menyela pembicaraan ketiganya. Kaum lelaki hanya terlihat menggaruk kepala mereka kemudian saling tatap lalu sama-sama menggeleng.
"Kalau urusan wanita mah memang aneh," batin Vierdo.
"Pada suatu hari Gino mengucapkan kata cinta padaku."
Sontak saja semua orang kaget dengan pengakuan Kana karena begitu berani dan mudahnya pria itu malah mengucap kata cinta hanya selang beberapa minggu saja bertemu dengan Kana apalagi pekerjaan pria itu hanya tukang ojek sedangkan Kana kerja kantoran.
Ah, bukannya cinta memang tidak memandang profesi terus apa yang salah dengan Gino? Toh pekerjaan apapun asal halal sama saja menurut Tuhan.
"Terus kamu jawab apa?" tanya Itnas penasaran. Jangan-jangan ini yang membuat Syahdu ngambek. Dia yang berjuang untuk mendapatkan Gino malah Kana yang mendapatkan pria itu.
"Bohong kalau kamu menolaknya kenapa juga dia terus menemuimu," protes Syahdu tidak percaya.
"Aku berani bersumpah Du, aku menolaknya tetapi dia saja yang terus mengejar-ngejar aku untuk mau dia antarkan. Maaf, sebab kepepet aku kadang mau saja diantarkan oleh dia. Asal kamu tahu saja perasaanku masih tetap sama seperti dulu. Kamu tahu kan siapa pria yang disukai ku selama ini?"
"Siapa?" tanya Vierdo menggoda Kana saat melihat Wendi berjalan ke arah mereka.
"Pak Vier sudah tahu kok, malah pak Vier belum menepati janji padaku," ujar Kana dan langsung menunduk karena ternyata Wendi duduk di sampingnya.
Kana mengelus dada bersyukur dalam hati tidak menyebut nama Wendi. Kalau tidak dimanakah harga dirinya mau ditaruh sekarang? Masa' di atas meja bisa berbaur dengan makanan nantinya.
"Nanti dulu ya, aku kelarkan satu-satu," janji Vierdo.
__ADS_1
"Sekarang Leona dan Leon dulu setelah mereka benar-benar bersatu menjadi suami istri baru kamu," ucap Vierdo dan Kana hanya mengangguk sedangkan Wendi yang baru datang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan hanya diam dan menjadi pendengar saja.
"Sebaiknya kalau ada apa-apa bicarakan dengan baik-baik, dan kamu Du, perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kalau memang Gino mau sama kamu tapi hatinya buat Kana buat apa? Kau tidak akan bahagia dengan hubungan yang seperti itu," nasehat Itnas membuat Syahdu membuka pikirannya bahwa mengabaikan Kana hanya karena pria itu tidak akan membuat dirinya bahagia karena memang tidak ada cinta di mata Gino untuknya.
"Baik Nas," ucap Syahdu mengangguk.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar," ucap Itnas kemudian menghela nafas lega. "Semoga kamu menemukan pasangan yang cocok dan sangat mencintaimu."
"Amin, makasih Nas."
"Maafkan aku ya Kan." Syahdu mengulurkan tangannya pada Kana untuk meminta maaf. Kana menerima jabatan tangan Syahdu dan tersenyum.
"Aku maafkan. Kalau perlu aku kasih tahu Gino saja tentang perasaanmu. Barangkali setelah tahu akan perasaanmu dia bisa membalasnya."
"Tidak usah Kan," tolak Syahdu.
Kana hanya mengangguk.
Semua orang bernafas lega dan tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada Leon dan Leona yang berjalan ke arah mereka sambil menggenggam tangan satu sama lain.
"Wah mereka mau ngapain?" tanya Vierdo tak percaya mereka berdua memakai gaun dan jas.
"Apakah mereka mau menikah sekarang?" tanya Juno tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Semua orang menggeleng tidak tahu dan memandang fokus oada pasangan yang berjalan melewati meja mereka.
"Mau kemana mereka?" Itnas mengernyit heran sekaligus penasaran.
__ADS_1
Bersambung.