Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 109. Kepo


__ADS_3

Sesuai janjinya, hari ini saat jam istirahat kantor Fikran menjemput Syahdu ke kantor Vierdo untuk mengajaknya agar mengantarkan dirinya ke tukang cukur rambut.


"Ruangan Syahdu yang mana Pak?" tanya Fikran pada seorang karyawan saat dirinya baru melangkah masuk ke gedung perusahaan Vierdo.


"Syahdu yang mana dulu Mas, karyawan di sini ada 2 yang namanya Syahdu."


"Oh ya?"


"Iya Mas."


"Syahdu yang saya cari adalah teman akrab Itnas, istrinya Pak Vierdo," jelas Fikran.


"Oh Mbak Syahdu yang itu? Mari saya antar Mas."


"Terima kasih Pak."


Bapak yang bekerja sebagai cleaning servis di perusahaan Vierdo itupun mengantarkan Fikran ke ruangan Syahdu. Fikran begitu santai mengikuti bapak tersebut dari belakang.


Hingga pada sebuah ruangan bapak tersebut langsung mengetuk pintu.


"Masuk!" seru seorang karyawati yang satu ruangan dengan Syahdu dan Kana.


Bapak tersebut masuk dan berjalan ke arah Syahdu. "Mbak Syahdu ada tamu tuh!" tunjuk bapak tadi ke arah pintu.


Syahdu memandang ke arah pintu, tetapi tidak nampak seorangpun di sana.


"Mana Pak tamunya?" tanya Syahdu sambil celingukan mencari keberadaan tamu yang dimaksud oleh bapak tersebut.


"Ada di samping pintu kayaknya Mbak, mungkin malu menampakkan diri dengan karyawan yang lainnnya yang ada di ruangan ini."


"Oke saya lihat dulu, siapa ya kira-kira?" Itnas bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu.


"Dar." Fikran mengangetkan Syahdu.


"Copot, copot, copot, astaga Fik kau mengangetkan diriku. Bagaimana kalau aku sampai jantungan?" Syahdu mengelus dadanya sendiri.


"Eh sorry, yuk kita pergi sekarang!" ajak Fikran tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Pergi ke mana Fik?" tanya Syahdu tidak paham.


"Lah kan kemarin sudah janji mau nemenin aku ke salon, masa sudah lupa sih?"


"Oh iya ya, sorry agak tulalit dikit." Syahdu terkekeh.


"Agak latah juga ya?"

__ADS_1


"Dikit, makanya jauhi aku nanti ketularan," canda Syahdu.


"Nggak apa-apa aku tidak takut," ujar Fikran sambil nyengir kuda.


"Ayo!" ajak Fikran lagi.


"Tapi aku takutnya kita lama, bagaimana kalau aku telat baliknya nanti? Aku izin aja dulu ya pada Pak Vier?"


"Nggak usah aku udah izinin tadi pada Pak Vier, jadi kita langsung cus aja. Yuk!"


Syahdu mengangguk.


"Tapi?"


"Kenapa lagi?"


"Aku mau pamit dulu sama teman ya. Kami tadi sebenarnya ingin makan siang bersama abisnya aku kan lupa ada janji sama kamu."


"Oke silahkan."


Syahdu mengangguk, berjalan dengan setengah berlari ke meja Kana.


"Siapa Du tamunya?" tanya Kana sebab tidak melihat ada orang di pintu.


"Fikran? Fikran siapa?"


"Adik sepupunya Pak Leon."


"Oh dia? Yang katanya mau dijodohkan sama kamu?"


"Ah nggak kami hanya berteman saja kok. Udah dulu ya Kan dia udah nungguin tuh. Sorry hari ini nggak bisa makan bareng di kantin kantor."


"It's oke. No problem, aku bisa makan bareng yang lain. Sudah sana pergi!"


"Iya aku pergi ya Kan, semuanya juga."


"Iya hati-hati Du."


"Siap." Syahdu pun kembali menemui Fikran yang masih berdiri di samping pintu.


Semua karyawan saling pandang dan bertanya melalui kode matanya pada Kana. Kana hanya mengangkat bahu pertanda dia tidak tahu. Susah juga nanti Kana akan mengatakan pria yang menjemput Syahdu ada hubungan apa dengan Syahdu sedangkan hubungan keduanya masih belum jelas.


Kana beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu. Di ingin pergi ke kantin sekarang juga karena perutnya sudah terasa lapar.


Saat Syahdu sampai di pintu semua rekan kerjanya di ruangan itu malah berlari menyusul Kana.

__ADS_1


"Ngapain sih pakai lari-lari segala? Takut antri ya di kantin?" tanya Kana.


"Bukan takut antri tapi pengen lihat cowoknya Syahdu kayak apa," jawab salah seorang karyawati.


"Itu dia cowoknya?"


"Mana aku tahu," sahut Kana.


"Loh kamu sahabat dekatnya kok bisa nggak tahu?" protes yang lain.


"Ya terus aku harus tahu setiap apapun tentang pribadi dia gitu? Kalian aja yang kepo," keluh Kana.


"Ya Kana nggak asyik."


"Tapi kayaknya bukan pacar deh. Coba lihat rambut pria itu deh, gondrong bet. Manamumgkin Syahdu pacaran dengan model lelaki seperti itu?"


"Iya ya, secara Syahdu tuh kan selektif. Teman aja dia nggak mau dengan orang yang penampilannya seperti itu apalagi pacar mana mau dia?"


"Iya betul palingan nanti kalau si cowok ngungkapin perasaannya pasti langsung ditolak oleh Syahdu."


"Syok tahu kalian," protes Kana.


"Lah kok sok tahu sih? Bukannya Syahdu pernah bilang kalau dia paling nggak suka dengan cowok tapi bergaya kayak perempuan termasuk pria berambut gondrong, bukan?"


"Orang tua bisa berubah guys," ujar Kana. "Bisa saja sekarang Syahdu malah suka dengan pria berambut gondrong. Perasaan orang mana bisa ditebak."


"Gimana kalau kita taruhan?"


"Taruhan apa sih?"


"Begini Kan, kalau Syahdu memang jadian sama cowok itu kira-kita akan traktir kamu makan siang di kantin selama seminggu, tapi kalau pria itu ditolak kamu yang traktir kami selama seminggu."


"Satu, dua, tiga, empat, lima. Curang banget sih main keroyokan gini. Kalau aku yang memang kalian enak bisa bagi-bagi kewajiban. Hari ini kamu yang traktir, hari esok kamu ya traktir dan selanjutnya." Kana menunjuk rekan kerjanya satu-satunya.


"Nah kalau kalian yang menang aku yang tekor karena harus mentraktir kalian berlima setiap hari selama seminggu," imbuh Kana dan semua teman-temannya hanya tertawa mendengar protes dari Kana.


"Tapi nggak apa-apa lah itung-itung sedekah, tapi saya yakin kok say yang bakal menang," lanjutnya.


"Jadi bagaimana deal?" tanya teman-temannya.


"Oke deal, tapi sekarang ke kantin dulu yuk saya sudah lapar nih," ucap Kana sambil mengelus perutnya yang berbunyi sejak tadi.


"Oke let's go." Mereka berenam pun berjalan menuju kantin untuk makan siang bersama.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2