Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 96. Move On


__ADS_3

Hari ini adalah hari prosesi pernikahan antara Wendi dengan Gladis. Semua orang sudah hadir di tempat untuk meramaikan pesta.


Vierdo dan sang istri, Itnas juga teman-temannya sudah berada di tempat sedangkan Kana dan Gino masih belum datang juga.


"Kira-kira Kana datang nggak ya?" tanya Thalita pada semua orang sedangkan keberadaan sang putra sudah dalam gendongan Syahdu. Biasa, setiap berkumpul Syahdu tidak pernah absen untuk menggendong balita tersebut. Sepertinya gadis itu memang menyukai anak kecil. Satu hal yang Syahdu suka dari baby Athar, anak itu selalu tertawa lepas saat pipi dan hidungnya diunyel-unyel oleh Syahdu membuat gadis itu semakin gemas saja.


"Datang lah Pasti," jawab Leona. Dia yakin Syahdu sudah move on dari Wendi sebab sudah menemukan pawang hatinya sendiri.


"Hmm, aku hanya khawatir dia tidak kuat melihat mereka menikah," ucap Thalita yang sangat tahu bahwa Kana sudah lama menyukai Wendi bahkan saat pertama kali gadis itu memasuki kantor. Ya Kana sudah banyak bercerita sebelumnya pada Thalita saat meminta Thalita menceritakan kisah pertemuan dan masa lalunya bersama Juno. Istilahnya mereka saling tukar cerita tentang cinta dan masa lalu masing-masing.


"Ah kamu tenanglah," sambung Itnas.


"Iya ya, Kana yang patah hati kok aku yang malah deg-degan ya." Thalita terkekeh sendiri.


"Saya hanya takut dia pingsan. Saya pikir daripada apa yang saya pikirkan terjadi mending dia tidak usah hadir saja," imbuhnya.


"Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa, dia sudah menemukan pasangan hidupnya sendiri," sambung Syahdu lalu fokus kepada baby Athar lagi.


Thalita mengangguk meskipun dia masih penasaran dengan apa yang dimaksud dengan Syahdu, tetapi dia tidak mau bertanya lebih lanjut lagi, takut diangggap cerewet sebab yang lainnya tidak banyak bicara.


"Hei sini Mbak!" panggil Vierdo pada pelayanan yang melintas di depannya. Pelayan itu sedang membawa nampan untuk dibagi-bagikan kepada tamu-tamu yang sudah datang.


Pelayanan itu berhenti tepat di hadapan Leon.


"Saya minta jus jeruknya Mbak," pamit Leon sambil meraih gelas yang berada di atas nampan itu.


"Silahkan Mas, ini siapa yang mau, ambil saja. Kalau mau pesan minuman yang lain biar saya ambilkan." Pelayan itu berbicara ramah dengan senyum manis yang menghias di bibirnya.


Semua orang langsung mengangguk dan mengambil gelas berisi jus jeruk yang ada di atas nampan.


"Kamu Du tidak minum?" tanya Leona yang melihat syahdu hanya diam saja dan tidak mengambil minuman seperti yang lainnya.


"Jus leci ada Mbak? tanya syahdu pada pelayan tersebut.


"Oh ada Nona sebentar ya saya ambilkan dulu," pamit pelayan itu. Setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan dari Syahdu pelayan itu langsung bergegas pergi.


Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali dengan dua nampan di tangannya. Satu nampan berisi gelas-gelas yang isinya jus jeruk semua dan yang satunya lagi adalah jus leci.

__ADS_1


"Pesanannya Nona," ucap pelayan itu sambil mengulurkan nampan berisi gelas-gelas yang ada di nampan satunya ke hadapan Syahdu.


Syahdu mengambil satu gelas dan langsung mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama Mbak, Kalau perlu bantuan lagi bisa memanggil saya," ucap pelayan tersebut menawarkan diri.


"Oke siap Mbak," ucap Syahdu sambil memperlihatkan jari jempolnya.


Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum lalu pergi menuju tamu-tamu yang lain untuk menjajakan minumannya.


Syahdu langsung meneguk jus lecinya.


"Athar mau juga?" tanya Syahdu menawarkan pada baby Athar, hanya sebagai gurauan saja.


"Tidak Tante dedek At tidak minum selain Asi saat ini." Thalita yang menjawab.


"Hmm, baiklah karena dedek At tidak minum jus lebih baik tante habiskan saja semuanya," ucap Syahdu terkekeh dan langsung meminum jus lecinya.


"Bilang aja kamu doyan," protes Thalita.


"Emang," jawab Syahdu tak ingin membantu. Jus leci memang minuman favoritnya selain kopi.


"Mau apa sih Mas, minta minuman lagi?" tanya Thalita heran.


"Iya buat Syahdu kasihan gelas dia bocor," sahut Juno dan langsung tertawa.


"Ih mau ngerjain aku, tapi tidak apa-apalah sebab aku memang benar-benar haus saat ini." Syahdu tidak keberatan.


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya pelayan tadi saat sudah berada di dekat Juno.


"Boleh saja."


"Itu semua jus leci dalam nampan letakkan saja semua di atas meja ini sebab teman saya ini sedang ingin minum leci 5 gelas. Maklum sedang ngidam."


Syahdu tampak melotot ke arah Juno saat mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut pria itu.


"Oh baik Mas," ucap wanita itu sambil meletakkan seluruh gelas di nampan yang berada di tangan kanannya di atas meja.

__ADS_1


"Terima kasih Mbak," ucap Juno.


"Sama-sama Mas." Pelayan itu langsung pergi.


Juno meraih gelas di hadapannya dan langsung meneguk jus leci tadi dari salah satu gelas.


"Wah nggak benar nih ngorbanin aku," protes Syahdu.


Juno hanya tertawa melihat Syahdu cemberut.


"Sudah ayo cepat diminum! Sepertinya acara akan segera dimulai," beritahu Vierdo pada semua orang lalu dirinya langsung bangkit dan menghampiri Wendi untuk menemani sang asisten itu.


Wendi dan Gadis sudah duduk berdampingan di depan penghulu. Sebab sudah tidak memiliki ayah sang bunda meminta pak penghulu untuk mewakilkan menjadi wali.


Vierdo dan yang lainnya sudah berbaris duduk di belakang Wendi dan Gladis.


"Kemana Kana?" bisik Thalia di telinga Syahdu. Syahdu hanya mengangkat kedua bahunya pertanda juga tidak tahu.


"Bagaimana sudah siap untuk dimulai?" tanya pak penghulu pada kedua mempelai.


"Siap Pak," jawab Wendi.


Bersamaan dengan itu Kana datang bersama Gino dengan berjalan saling bertautan tangan. Mereka berdua langsung duduk di samping Thalita.


"Kukira kau tidak akan datang," bisik Thalita di telinga Kana.


"Nggak lah pasti datang, aku kan sudah move on," ucap Kana sambil tersenyum manis.


"Benarkah?" Thalita masih belum bisa mempercayai semua sebab terlalu singkat menurut Thalita, Kana bisa move on pada Wendi.


"Kan ada dia," tunjuk Kana dengan dagunya.


"Oh sudah ada yang baru?" tanya Talita harap maklum.


"Ya begitulah," ucap Kana sambil tersenyum malu-malu.


"Ah baguslah kalau begitu."

__ADS_1


Akhirnya Thalita bisa bernafas lega.


Bersambung.


__ADS_2