Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 90. Semoga Hanya Mimpi


__ADS_3

"Awas Gin pegangan jangan sampai jatuh!" teriak Kana ketika melihat Gino menyeberangi jembatan yang hampir roboh. Untung saja dia sudah hampir sampai ke ujung jembatan dan di sana ada kayu besar yang bertengger di ujung jembatan dan nampak kokoh.


Gino menurut dan langsung meraih ranting pohon tersebut dan bergelantungan di sana. bersamaan dengan itu jembatan di bawahnya langsung roboh dan jatuh ke sungai.


Kana yang berada di ujung lain sedikit bernafas lega karena Gino ternyata sudah berhasil naik di pohon itu dan kalau dia bisa melompat ke depan dia tidak akan jatuh ke sungai. Namun, sayangnya sebelum Gino melompat ternyata pegangan tangannya tidak kuat sehingga ia langsung jatuh tercebur ke dalam sungai.


"Tidak!" teriak Kana histeris sebab dia tahu si siapapun yang jatuh ke dalam sungai itu tidak akan pernah kembali dengan selamat sebab aliran sungainya yang begitu deras juga sungai tersebut banyak buayanya yang bisa memangsa siapapun saja yang jatuh dan ada di hadapannya.


"Huh huh huh." Kana terengah-engah saat terbangun dari tidurnya.


" Huffft, Ternyata aku hanya bermimpi." Kana mengelus dadanya sendiri agar bisa lebih tenang.


"Jam berapa ini?" Kana melirik jam dinding di kamarnya. Bersamaan dengan itu jam dinding di ruang tengah rumahnya berbunyi satu kali.


"Sudah jam satu rupanya." Kan duduk sebentar sebab untuk tidur lagi rasanya tidak bisa karena jantungnya masih berdegup kencang.

__ADS_1


Terdengar suara seseorang samar-samar dari samping dirinya duduk Kana menoleh ternyata dia lupa mematikan televisi tadi sebelum tidur. Merasa tidak bisa tidur lagi Kana meraih remote televisi dan mencari tayangan yang dia suka yang mungkin bisa menemani dirinya malam ini.


Beberapa kali memencet remote untuk mencari channel yang tayangannya mungkin sesuai dengan keinginannya akhirnya pilihan Kana jatuh pada berita malam.


"Ada kecelakaan pesawat?" Sontak saja Kana langsung teringat pada Gino.


"Gino." Kana segera mengencangkan volume suara televisi di kamarnya itu dan dirinyapun segera mendekat biar bisa melihat tayangan itu dengan jelas sebab matanya yang baru bangun tidur terasa berkabut.


Sebuah pesawat terbang milik perusahaan penerbangan A22 Xx yang melakukan penerbangan antara Turki ke Indonesia mengalami kecelakaan dan jatuh di negara Singapura. Ada banyak penumpang yang meninggal di tempat dan ada beberapa yang mengalami luka berat. Pesawat mengalami kecelakaan diguga akibat cuaca buruk yang tiba-tiba menerjang langit Singapura. Aku kencang dan awan hitam pekat tiba-tiba datang tanpa diprediksi sebelumya. Semua pasien yang meninggal dunia dan yang mengalami luka-luka berat untuk saat ini ditangani rumah sakit Singapura sebelum diserahkan kepada keluarga. Untuk saat ini pihak perusahaan sedang berusaha menghubungi para keluarga dari masing-masing korban sebelah akhirnya mayat dikirim ke Indonesia.


Siaran televisi yang mengabarkan musibah ini membuat Kana tampak syok dan membeku. Beberapa saat setelah tersadar dia langsung meraih ponselnya.


Drt, drt, drt.


"Ckk, kenapa tidak diangkat sih."

__ADS_1


Kana mengulang menelpon lagi.


Nomor telepon yang anda putar berada di luar jangkauan.


"Ah, mengapa seperti ini. Ayo dong Gin nyalakan hapenya, mengapa tidak bisa dihubungi sih?" Kana nampak gelisah. Namun, dia tetap berusaha untuk menghubungi Gino lagi.


"Ckk, kenapa malah mati sih teleponnya? Akh!" Kana kesal sehingga suaranya mengeras tanpa bisa dikontrol dan sampai terdengar ke kamar sebelah.


"Ada apa sih Kan?" sang mama langsung berlari menghampiri Kana di kamarnya.


"Kana mimpi Ma, mimpi buruk tentang Gino dan sekarang Kana mendengar kabar bahwa pesawat yang ditumpanginya jatuh Ma dan ada yang meninggal dunia. Kana takut Ma terjadi sesuatu sama Gino. Kana takut Ma, Gino tinggalin Kana untuk selamanya." Gadis itu menangis sesenggukan di bahu sang mama.


"Gino tukang ojek yang sering jemput kamu itu?" tanya sang mama penasaran.


"Iya Ma," sahut Kana sambil mengangguk dan menghapus air matanya.

__ADS_1


"Tenanglah tentang mimpimu itu hanyalah bunga tidur dan tidak berarti apa-apa. Berdoalah agar Gino baik-baik saja dan tidak termasuk dalam penumpang yang meninggal dunia." Sang mama tidak ingin Kana larut dalam kesedihan sebelum mendengarkan kabar yang sebenarnya. Kana hanya mengangguk, tetapi air matanya malah semakin deras mengucur dari kedua bola matanya yang jernih itu.


Bersambung.


__ADS_2