
Hari ini Itnas dan Yudha resmi bercerai. Juno dan Thalita janjian ingin pergi mengunjungi Itnas, tapi sebelumnya Juno membawa Thalita ke rumahnya untuk mengenalkan pada keluarga terutama pada mamanya.
"Ma Juno bawa calon mantu Mama," ujar Juno pada sang mama.
"Eh Thalita ya, mari silahkan masuk Nak!" ucap Mama Elvi sambil menggiring Thalita ke sofa.
"Nak Thalia duduk dulu ya saya mau menemui bibi di belakang dulu," lanjutnya.
"Iya Tante terima kasih," ujar Thalita sambil duduk di sofa dan Juno pun ikut duduk.
Mama Elvi pergi ke belakang menyuruh bibi Sri untuk membuat minimun dan menghidangkan camilan. Setelah itu dia memanggil Juno ke belakang.
"Ada apa sih Ma?" tanya Juno kaget, bisa-bisanya mamanya menarik dirinya ke belakang rumah.
"Benar dia hamil anak kamu Jun?"
Juno mengernyit. "Kenapa Mama bertanya seperti itu?"
"Dia kan sudah pernah menikah mengapa justru mengandung anakmu?" tanya mama Elvi tidak percaya.
Juno hanya cengengesan mendengar pertanyaan dari mamanya. "Hehe ... karena sebelum menikah dia tidur dengan Juno Ma."
Mama Elvi geleng-geleng kepala. "Ternyata kamu tidak pernah berubah ya selalu membawa perempuan ke atas ranjang."
"Juno janji Ma setelah ini berubah."
"Ya kalau tidak berubah siapa yang mau menikah denganmu."
Juno hanya menggaruk-garuk kepala mendengar perkataan mamanya.
"Tapi Jun apakah kamu yakin dia itu anak kamu. Apakah kamu pernah lupa menggunakan seragammu?"
Dahi Juno berkerut memikirkan apa yang dimaksud mamanya. "Seragam apa sih Ma?" tanyanya tidak mengerti.
"Maksud mama kamu itu kan suka pakai bola-bola itu loh apa lupa menggunakannya waktu itu?"
"Oh itu ya Ma Juno tidak pernah lupa sih Ma memakainya."
"Ya ampun Juno kalau kamu tidak pernah lupa kenapa dia bisa hamil anak kamu? Apa ada yang tidak beres?"
__ADS_1
"Maksud Mama apa sih?"
"Hem, masih tidak mengerti juga maksud mama bisa saja itu anak orang lain ngerti nggak sih kamu?"
"Mama jangan macam-macam ya Thalita itu perempuan baik-baik kok Juno yakin bayi dalam kandungannya itu anak Juno."
"Bagaimana bisa Juno! Ya ampun mama sampai pusing memikirkan pemikiranmu ini."
"Ada yang bocor kali Ma tapi benar Ma Thalita bersumpah tidak pernah tidur dengan laki-laki manapun selama tinggal denganku dan aku percaya itu aku mohon Mama jangan menuduhnya macam-macam."
"Bukan maksud mama menuduhnya tapi secara logika haruskah mama percaya?"
"Percaya saja Nyonya bahwa itu adalah cucu nyonya," jawab Pak Amat sambil tersenyum. Pak Amat kebetulan lewat dan mendengar pembicaraan Nyonya-nya dengan Juno.
"Tunggu, tunggu Pak Amat! Saya kok jadi curiga nih sama Pak Amat, bagaimana mungkin Pak Amat menyuruh saya percaya tanpa bukti?" tanya Mama Elvi sambil menatap curiga kepada Pak Amat.
"Kok malah curiga sama saya Nyonya? Anak Nyonya yang berbuat kok malah saya yang dicurigai," protes pak Amat.
"Saya mau bertanya kepada Pak Amat apakah benda yang dikasih oleh Mbah Urip itu sudah ditabur di kamar Juno pada waktu itu?"
"Astaga Mama kenapa Mama jadi enggak waras sih malah main dukun segala?"
"Tenang Den, Nyonya, justru karena hal itu kalian sekarang punya calon anak dan calon cucu," ucap pak Amad sambil tersenyum.
"Curiga deh gue," ucap Juno sambil menatap Pak Amat penuh tanya.
"Jelaskan Pak Amat!" perintah Mama Elvi sudah tidak sabaran.
"Maaf Den, Nyonya, sebelumnya Pak Amad benar-benar minta maaf, tapi sebenarnya pada waktu saya disuruh menabur serbuk jampi-jampi dari Mbah Urip oleh Nyonya Elvi saya malah melihat ****** di kamar apartemen Den Juno. Karena saya berpikir selama ini mantra dan jampi-jampi yang di disebarkan di kamar Den Juno tidak berfungsi sama sekali saya malah mempunyai ide untuk membocorkan ****** tersebut karena saya tahu saat itu Den Juno tinggal dengan seorang wanita dan saya lihat Den Juno sepertinya mencintai gadis itu. Saya jadi berpikir kalau gadis itu bisa hamil oleh Den Juno maka Den Juno akan berhenti bermain wanita dan akan bertanggung jawab untuk menikahi wanita tersebut, sehingga kalau sudah punya istri Aden tidak akan berani bermain-main dengan wanita di luaran lagi."
"Ya ampun, Pak Amat tahu tidak apa yang Pak Amat lakukan itu malah menimbulkan masalah," ujar Mama Elvi sambil menggetok kepala pak Amat.
"AuW, sakit Nyonya."
"Biarin, itu hukuman buat Pak Amat yang telah berani berbuat tidak sesuai dengan perintah."
"Seharusnya nyonya berterima kasih kepada saya karena kalau bukan karena saya Nyonya tidak akan pernah punya cucu sekarang," ucap Pak Amat cengengesan.
"Iya itu benar Ma bahkan saya sempat mengira bahwa dia selingkuh dari aku sehingga terpaksa kami berpisah. Pak Amat, Pak Amat kenapa kamu tidak bilang sih sama Juno?"
__ADS_1
"Maaf Den saya kan tidak tahu kalau wanita itu memang benar-benar hamil. Aden sih tidak bilang sama saya," kilah Pak Amat malah balik menyalahkan Juno.
"Ya sudahlah pak Amat kembali bertugas sana saya mau menemui calon mantu dulu," ujar Mama Elvi sambil berlalu masuk ke dalam.
Sampai di dalam dia melihat Thalita hanya duduk sambil menunduk. Ya Thalita tahu pasti Mama Elvi akan mengintrogasi anaknya terutama dia akan menanyakan ayah dari calon bayinya. Thalita sedari tadi menunggu dengan harap-harap cemas dan takut karena mungkin saja mamanya Juno tidak akan merestui hubungan mereka berdua. Namun, apapun yang terjadi Thalita sudah pasrah. Akan menerima segala keputusan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan.
"Lo Nak Thalita kok belum di minum?" tanya Mama Elvi sambil tersenyum ke arah calon menantunya.
"Iya Tante saya akan minum," ujar Thalita sambil memberanikan diri memandang wajah calon mertuanya.
"Kok sepertinya wajah Tante ini biasa saja? Apa dia merestui hubungan kami?" pikir Thalita dalam hati.
"Maafkan Tante ya Nak Thalita karena selama ini tidak pernah memperhatikan calon cucu Tante ini," ujar Mama Elvi sambil mengelus perut Thalita.
Thalita terbelalak mana mungkin mamanya Juno percaya begitu saja bahwa itu adalah cucunya, sama sekali tidak sesuai dengan yang dipikirkan oleh dirinya. Padahal dia sudah berpikir aneh-aneh sedari tadi.
"Mas?" Thalita memandang Juno penuh tanya.
Juno mengerti akan pertanyaan Thalita dia pun tahu akan kekhwatiran kekasihnya sedari tadi. "Nanti aku jelaskan," ujar Juno.
Thalita hanya mengangguk.
"Pokoknya aku minta Nak Thalita tinggal di sini ya mulai sekarang, karena Tante mau ikut ngerawat cucu Tante."
"Tapi Tan kan bayinya belum lahir."
"Tapi Tante ingin ikut merawat sejak dalam kandungan."
"Tapi Tan saya ...."
"Tidak apa-apa di sini banyak kamar kosong kamu bisa memilih untuk tinggal di kamar yang mana saja tidak akan sekamar dengan Juno kok, nanti kalau dia berani tidur di kamarmu biar Tante yang getok kepalanya," ucap mama Elvi memotong ucapan Thalita.
Mendengar perkataan mamanya, Juno tiba-tiba saja mengusap-usap rambutnya membayangkan mendapatkan getokan kepala seperti pak Amat tadi.
"Dan kamu tidak usah khawatir Nanti saya akan ikut kalian meminta langsung pada bibi kamu agar mengizinkan kamu tinggal di sini," lanjut mama Elvi.
Thalita memandang Juno seolah meminta persetujuan dan Juno hanya menjawab dengan anggukan.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like-nya!🙏