Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 111. Percaya Padamu


__ADS_3

Sementara Fikran sedang menikmati pelayanan pada rambutnya, Syahdu malah asyik dengan ponselnya. Entah tayangan apa yang dia tonton sehingga membuat wanita itu sesekali tertawa terpingkal-pingkal.


Hingga saat Fikran sudah selesai dengan pemotongan rambutnya, Syahdu masih asyik saja dengan ponselnya.


Tas Syahdu tak sengaja tersenggol dengan lengannya sendiri sehingga jatuh ke lantai.


"Akh, kau mengganggu saja tas malah jatuh lagi padahal aku sedang fokus ini nonton drakor." Syahdu mengeluh pada tasnya seolah ia manusia.


Syahdu menunduk dan meraih tas di atas lantai. Sebelum gadis itu meletakkan tas di atas pangkuannya kembali terlebih dahulu Syahdu nenepuk tas tersebut karena mungkin saja terkena debu yang ada di lantai.


Saat dia mengambil tas bersamaan dengan itu pula Fikran melangkah ke arahnya. Syahdu mendongak ketika melihat sepatu seorang pria di hadapannya.


"Siapa sih kok berhenti di depanku?" tanya Syahdu dalam hati.


Saat Syadu menatap pria itu ternyata pria itu adalah Fikran.


"Kau ....?" Syahdu menutup mulutnya tak percaya.


"Kenapa kaget seperti itu?" tanya Fikran dengan nada suara yang getir. Dia pikir Syahdu tidak suka dengan potongan rambutnya.


"Jelek ya potongan rambutnya? Nggak cocok ya sama aku? Atau lebih baik aku gundul saja nih rambut ya?" Syahdu saja belum menjawab Pertanyaan darinya yang menanyakan kenapa dirinya kaget malah nyerocos dengan pertanyaan lain.


"Benar kau Fikran?" tanya Syahdu masih menatap kagum wajah Fikran. Namun, Fikran saja yang merasa gugup sebab wajahnya akan menjadi jelek dengan rambut pendeknya.


"Iya kenapa?" tanya Fikran tak bergairah.


"Aku tidak menyangka kau begitu tampan dengan model rambut seperti itu." Syahdu mengatakan kalimat itu dengan malu-malu.


"Hah?" Fikran tak percaya. "Potongan rambutnya bagus katamu?"


"Iya Fik, potongan rambutnya keren sehingga wajahmu terlihat lebih tampan dari sebelumnya."

__ADS_1


"Aku tampan?"


"Iya."


"Kaca mana kaca?" Fikran begitu senang dan antusias mendapatkan pujian dari Syahdu sedang Syahdu malah terkekeh.


"Kau bohongin aku ya? Kau ngerjain aku?" Fikran menjadi ragu dengan pujian dari Syahdu sebab gadis itu malah terkekeh. Fikran yakin Syahdu sedang nge-prank dirinya saat ini.


"Kok bohong sih? Aku jujur kali."


"Mas pinjem kaca dong!" Fikran memanggil seorang karyawan di tempat itu.


"Ngapain sih Fik? Emang pas cukur rambut tadi kamu tidak melihat ke arah depan? Padahal di depanmu ada kaca besar."


"Nggak tuh, dari saking nervous nya tadi aku nggak kepikiran melihat ke arah depan. Kebanyakan tadi aku memejamkan mata sambil berdoa agar Tuhan memberikan hasil cukuran terbaik.


Syahdu menggeleng mendengar perkataan Fikran yang terdengar lebay di telinganya.


"Kemana sih Mas nya lelet amat disuruh ambil cermin aja." Fikran yang tidak sabaran segera mendekat ke tempat orang-orang untuk menumpang kaca.


"Ngapain sih Fik. Nih aku punya cermin." Syahdu mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas dan menyerahkan pada Fikran.


Fikran meraih cermin yang ada di tangan Syahdu.


"Nggak percayaan aja sih sama aku? Emang tampang aku, tampang-tampang penipu gitu?" Syahdu terlihat kesal.


"Ya udah deh nggak usah bercermin aja. Aku percaya sama kamu saja. Kalau menurutmu bagus berarti memang bagus," ucap Fikran pasrah. Dia tidak ingin melihat gadis di hadapannya itu marah. Bisa-bisa pendekatannya ini gagal total dan Syahdu malah menjauh darinya karena merasa tidak dipercaya oleh Syahdu.


"Jangan gitu Fik kau tetap harus berkaca biar yakin dan percaya diri bahwa kamu memang keren dengan rambut pendek." Syahdu mendorong kaca yang akan dikembalikan oleh Syahdu.


"Tidak perlu, penilaianmu saja sudah membuatku percaya diri. Tidak perduli kata yang lain jelek yang penting menurutmu tampan dan keren."

__ADS_1


"Aih ngegombal lagi nih cowok."


"Aish siapa yang ngegombal? Aku serius kali."


"Ah sudah yuk kita balik aja," ajak Syahdu.


"Balik kemana?"


"Antar aku ke kantor! Sepertinya jam istirahat kantor sudah usai," pinta Syahdu.


"No, kita makan dulu. Kamu belum makan siang, bukan? Nanti kalau lapar tidak bisa konsentrasi kerja. lagian aku sudah bilang 'kan tadi bahwa aku sudah minta izin sama Vierdo. Jadi telat dikit ya nggak apa-apa kali."


"Baiklah Fik, tapi bagaimana kalau kita makan di foodcourt yang berada di seberang jalan di perusahaan tempatku bekerja saja?"


"Boleh Du, sekalian biar enak nanti kamu balik ke kantornya," jawab Fikran setuju.


"Oke kalau begitu tunggu apalagi? Yuk kita pergi sekarang!


Fikran pun mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju parkiran salon.


Dengan kecepatan sedang Fikran melajukan mobilnya ke foodcourt yang ada di dekat perusahaan Vierdo.


"Nanti sore aku jemput ya, kebetulan aku hari ini nggak ada tugas," ujar Fikran.


"Hmm, gimana ya Fik? Bukannya aku nolak kamu sih cuma aku ke kantor bawa mobil sendiri."


"Oh ya?" Kalau begitu tidak apa-apa mungkin lain kali aja aku antar jemput dirimu."


"Oke siap."


Fikran mengangguk kemudian fokus kembali dengan menyetirnya sebab jalan di depannya terlihat macet.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2