Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 9. Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Mendengar perkataan Thalita mama Refi menjadi geram. "Nas, ambil surat nikahmu biar tahu ni orang siapa yang sebenarnya pelakor. Kamu atau dia!"


Thalita hanya tersenyum setengah karena menganggap Mama Refi hanya menggertak saja.


Itnas beranjak menaiki tangga untuk mengambil surat yang diminta mamanya di kamar atas. Setelah mengambil surat itu Itnas memberikan surat tersebut kepada mamanya dan mama Refi memberikan pada Thalita.


"Ini baca kalau tidak percaya di situ kan ada tanggalnya kapan mereka menikah. Jadi kamu simpulkan sendiri siapa yang sebenarnya berada di posisi pelakor."


Thalita mengambil surat nikah tersebut dan memeriksa. Raut wajahnya terlihat terkejut. Namun, kemudian berekspresi lain. Sebisa mungkin dia menahan diri untuk bersikap tenang.


"Ini bohong." Katanya meyakinkan diri sendiri.


"Ini bohong, kan?" Suaranya mulai meninggi. Ternyata dia lepas kontrol


"Ini bohong kan?" Ulangnya dengan setengah membentak dan melempar surat nikah di tangannya.


"Kalau tidak percaya cek saja ke KUA," jawab Itnas yang sudah tidak dapat menahan diri karena Thalita tetap tidak percaya bahkan membentak mamanya.


"Emang penampilanku seperti pelakor apa," batin Itnas.


"Saya tidak peduli, aku ataupun kamu istri pertama Mas Yudha yang aku tahu hanyalah kau yang merebut mas Yudha dariku karena saya lah yang lebih dulu menjadi kekasihnya. Kamu tahu sendiri di perutku ini ada anaknya mas Yudha dan itu ada jauh sebelum kau menikah dengannya."


"Maumu apa sih sebenarnya?" Itnas terlihat kesal.


"Sudah kubilang yang aku mau adalah kau melepas Mas Yudha untukku. Karena aku tahu Mas Yudha tidak akan mampu bersikap adil dengan kedua istrinya."


"Kamu gila ya? Kamu yang telah mengambil suami orang maka kaulah yang harus menanggung resiko dari semua ini dan kaulah yang harus lepas jika kau tidak sanggup diduakan."


"Itu tidak mungkin karena saat ini aku sedang mengandung anak Mas Yudha. Jadi kaulah yang harus mengalah."


Itnas menghela nafas berat. "Lebih baik kau tanya Mas Yudha siapa diantara kita yang akan dipilihnya. Kalau dia memang memilihmu aku rela berpisah dengannya, tapi jika dia memilihku kaulah yang harus berpisah dengannya. Tentunya setelah anakmu lahir karena aku tidak mau kalian susah mengurus akta kelahiran nantinya."


"Baiklah deal," ucap Thalita seperti kepada seorang teman padahal mereka kan rival.


"Tapi untuk saat ini kamu harus bertanggung jawab menafkahi aku dan anakku karena gaji mas Yudha semua untukmu."

__ADS_1


"Hah?" Itnas terbengong-bengong melihat wanita di depannya yang benar-benar tidak tahu malu. Baru kali ini dia melihat seorang madu yang dengan tidak tahu malunya meminta nafkah kepada istri pertama dari suaminya, dan apa katanya tadi? Gaji suaminya untuk dia semua? Padahal sejak menikah 4 bulan yang lalu Itnas tidak pernah menerima gaji Yudha. Untuk kebutuhan sehari-hari dia hanya mengandalkan gajinya sendiri. Ya walaupun kadang-kadang ketika berbelanja bersama Yudha pria itu yang membayarnya.


"Dasar perempuan licik," umpat Itnas dalam hati. Ternyata wanita ini tidak cukup mendominasi suami dan gajinya tetapi dia sepertinya juga ingin memeras Itnas.


"Maaf saya tidak bisa!"


"Yasudah Kalau tidak bisa kamu secepatnya bercerai saja dari Mas Yudha agar gaji Mas Yudha seutuhnya menjadi milikku."


"Dasar perempuan matre!"


"Kalau tidak matre tidak makan."


"Ih, kata siapa? Makanya kerja dong kalau mau makan malah mengandalkan gaji suami."


"Biarin aku kan lagi hamil besar."


"Cih hamil dijadikan alasan."


"Terserah aku tidak mau tahu kamu harus menanggung biaya hidup kami kalau tidak dengan cara licik pun akan aku lakukan agar Mas Yudha memilih diriku dan menalak dirimu. "Kata Thalita sambil berjalan keluar rumah.


Ummi Ana menghampiri Itnas dan mengusap punggungnya sambil memberi semangat. "Sabar ya Nak Itnas jangan di dengerin omongan wanita tadi. Kalau memang Nak Itnas berjodoh dengan Nak Yudha pasti dia akan memilih Nak Itnas."


"Tapi bagaimana kalau Mas Yudha memilih dia Ummi, soalnya dia kan lagi mengandung anak mas Yudha?"


"Kalau begitu pasti Allah memberikan jodoh yang lain yang lebih pantas buat Nak Itnas nantinya."


Itnas mengangguk. "Iya Ummi. Terima kasih nasehatnya."


"Iya. Kita berdoa saja semoga Tuhan memberikan jalan dan takdir terbaiknya untuk Nak Itnas. Satu lagi perkara nafkah tadi kalau benar gaji Nak Yudha semua untuk Nak Itnas maka bagilah dia!"


"Itu tidak benar Ummi, Mas Yudha tidak pernah memberikan gajinya padaku bahkan sebelum menikahi Thalita sekalipun dan saya pun tidak pernah menuntutnya karena hasil keringat saya sendiri masih mampu membiayai kebutuhan hidup sehari-hari."


"Kalau begitu kamu tanya saja Yudha dikemanakan saja gajinya selama ini, masa punya dua istri tidak ada yang dinafkahi."


"Kalau menurut saya itu hanya akal-akalannya si pelakor itu Ummi. Mungkin dia merasa nafkah yang diberikan Yudha kepadanya kurang banyak sehingga ia ingin menuntut bagian Itnas yang mungkin dia pikir lebih banyak dengan alasan tidak dinafkahi," ucap mama Refi.

__ADS_1


"Ya bisa saja seperti itu, tetapi bisa juga perempuan tersebut memang berkata jujur. Kalau Itnas saja yang dinikahinya 4 bulan yang lalu tidak diberikan nafkah apalagi dia yang bahkan belum ada sebulan dinikahinya."


Mendengar perkataan ummi Ana, mama Refi dan Itnas hanya manggut-manggut saja. Dalam hati dia membenarkan ucapan ummi Ana, akan tetapi mereka tetap tidak bisa membenarkan sikap Thalita yang datang ke rumah Itnas dan melabrak Itnas serta meminta tanggung jawab untuk menafkahi diri dan anak dalam kandungannya. Yang benar seharusnya dia datang mencari Yudha dan meminta pertanggung jawaban padanya bukan pada Itnas.


"Oleh karena itu saya sarankan kalian bicaralah bertiga agar tidak ada salah paham," lanjut ummi Ana.


"Iya Ummi nanti saya tanya Mas Yudha dulu sebelum saya memutuskan perlu tidaknya berembuk bertiga."


"Mbak Itnas cerai sajalah dari bang Yudha. Kalau nafkah lahir aja nggak dipenuhi apalagi nafkah batin," kata Rendi menyela pembicaraan ketiga wanita yang duduk mengelilinginya.


"Auw." Rendi mengusap dahinya yang disentil ummi Ana. "Sakit Mi!"


"Abisnya kamu ngomong sembarangan. Sok tahu bicara nafkah lahir sama nafkah batin."


"Iya kan benar Ummi kalau nafkah lahir tidak diberikan masa Bang Yudha nggak malu meminta..."


"Meminta apa?" Potong ummi Ana.


"Meminta itu ... Ummi. Ah sudahlah masa Ummi kagak ngerti."


"kalau bisa dapat yang begituan tanpa harus ngasih nafkah lahir Rendi mau juga menikah Ummi." Sontak si Rendi mendapat sentilan di dahi untuk yang kedua kali dari umminya.


"Auw." Namun tetap lanjut berbicara. "Mbak Itnas, kalau mbak Itnas tidak sanggup hidup dengan bang Yudha mbak Itnas minta cerai sajalah. Jangan takut menyandang status janda karena sekarang janda lagi naik daun. Terbukti teman-teman Rendi banyak yang menikahi janda dan ...."


"Dan apa?" Kali ini Itnas yang bicara.


"Rendi mau kok menikahi Mbak Itnas," ucap Rendi sambil cengengesan.


Itnas menyentuh dahi Rendi. "Kamu nggak sakit, kan? Kamu masih waras, kan?"


Dan pletok. Itnas pun menyentil dahi Rendi.


Ummi Ana dan mama Refi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rendi.


"Dasar bocah."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2