
Juno pun meraih air mineral. Setelah membuka tutup botolnya kemudian mendekatkan pada bibir Thalita agar calon istri dan ibu dari anaknya itu bisa minum.
"Yang kuat ya sayang," bisik Juno di telinga Thalita.
Thalita hanya mengangguk dan tersenyum di sela-sela menahan rasa sakitnya.
"Semangat!" seru Juno sambil mengepalkan tangan dijawab
anggukan oleh Thalita.
"Aduh aku rasanya ingin kebelet ini Dok, rasanya tidak tahan lagi," tutur Thalita.
"Sudah waktunya, berbaringlah!" perintah dokter lagi. Dokter itu bersiap.
Thalita langsung berbaring dibantu Juno. Dokter mengangkat kedua kaki Thalita dan meletakkan pada pinggiran ranjang.
Thalita sudah tidak kuat lagi, tanpa aba-aba dari dokter kandungan dia langsung mengejan.
"Aaaaa!" teriak Thalita dengan mengejan sekuat tenaga. Namun, tidak berhasil karena tidak ada apapun yang keluar dari bagian intinya.
Thalita mencoba mengejan untuk yang kedua kalinya. Tetap sama, tidak keluar apa-apa.
"Bagaimana ini Mas?" tanya Thalita mulai putus asa sedangkan sakit diperutnya sudah semakin tak tertahankan. Tenaga juga seolah tidak ada padahal dia baru makan tadi meskipun hanya sedikit.
"Istirahat dulu sayang, diam sebentar, kumpulkan tenaga untuk mengejan lagi," nasehat Juno.
Thalita hanya mengangguk sambil memandang wajah Juno. Wajah wanita itu sudah terlihat pucat.
"Tarik nafas lalu hembusan Nyonya. Kalau sudah siap baru mengejan lagi," ujar sang dokter menimpali ucapan Juno.
"Bagaimana kalau aku tidak mampu Mas? Bagaimana kalau aku kehabisan nafas sebelum bayi kita lahir? Bagaimana kalau sebelum bayi ini keluar aku sudah ma ...." Thalita tidak melanjutkan perkataannya kala Juno menaruh telunjuknya di depan bibir Talitha.
"Sst! Jangan katakan itu sayang. Kau akan baik-baik saja. Kita akan hidup bahagia selamanya bersama anak-anak kita," ucap Juno dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi. Dia sangat sedih mendengar perkataan Thalita. Dia sangat mencintai wanitanya itu. Dia tidak tahu harus bagaimana kalau Thalita akan meninggalkan dirinya untuk kedua kali, apalagi jika kali ini untuk selamanya. Pasti rasanya akan sakit sekali.
"Jangan berkata seperti itu Nyonya! Nyonya harus bersemangat, kasihan bayi dalam perut Nyonya kalau ibunya lemah seperti ini." Dokter memarahi Thalita dengan tujuan agar wanita itu bersemangat.
Itnas mendekat, mengajak Thalita bicara hal yang membuatnya bersemangat.
Bersamaan dengan itu bibi dari Thalita dan Fadil sepupunya datang.
__ADS_1
"Tuh mereka juga datang untuk memberikan semangat untukmu Lit. Jadi kau harus bersemangat. Jangan kecewakan kami semua yang telah mendukung dan menyayangimu." Itnas menunjuk bibi Thalita yang dipersilahkan masuk oleh suster sedangkan Fadil hanya melihat dari pintu dan keluar lagi karena tidak diizinkan masuk.
Bibi berjalan ke arah Thalita dengan sebotol air minum. "Ini Nak diminum dulu barangkali dengan ini akan memudahkan proses persalinanmu. Air ini sudah saya mintakan doa kepada Pak kyai dan air ini juga sudah dibacakan surat-surat dari Alquran."
"Bibi!" sapa Thalita dia merasa terharu bibinya bisa datang tepat waktu. Siapakah yang telah memberikan kabar padanya sedang Juno sendiri bahkan tidak sempat mengabarkan pada siapapun termasuk Mama Elvi, mama Juno sendiri.
"Iya Bibi ada di sini. Jadi kamu berjanji harus kuat ya. Jangan tahan ketika kepala bayimu saat akan keluar, nanti kepala bayimu akan terlihat benjol karena kau menahannya di lubang lahir. Kerahkan semua tenagamu Nak," ucap si bibi sambil membantu Thalita minum dari botol yang ia bawa tadi.
"Dokter! Dokter!" seru Thalita merasakan sakit kembali menjalar di perutnya.
"Pegangan pada leher suamimu Nyonya. Tarik nafas dalam-dalam lalu hembusan. Ulang beberapa kali, kalau dirasa tenaga sudah terkumpul baru Nyonya mengejan, tapi kalau tidak berhasil juga mungkin nanti kami akan memindahkan Nyonya ke ruangan operasi. Terpaksa Nyonya harus di caesar," ungkap sang dokter.
Mendengar kata operasi, nyali Thalita ciut. Jangankan melakukan, mendengar kata operasi saja Thalita sudah merasa takut. berbeda dengan Juno yang memang menganjurkan dokter untuk mengambil tindakan secara operasi caesar.
Untuk sementara Thalita masih mengambil ancang-ancang. Dia membenarkan posisi berbaring nya. Juno dengan hati-hati mengambil kedua tangan Thalita dan dikalungkan di lehernya karena takut mengenai bekas tembakan. Bibi menemani Thalita di pinggir ranjang, membacakan doa kemudian mengusapkan kedua tangan di perut keponakannya itu.
"Dokter aku sudah siap," ucap Thalita kini mulai bersemangat. Entah darimana semangat itu muncul.
Juno mengusap wajah Thalita dan menyelipkan anak rambut di telinga wanita itu. Saat Thalita memandang wajah Juno, Juno mengangguk sambil tersenyum membuat Thalita semakin bersemangat saja.
"Ayo Nyonya lakukanlah!" perintah sang dokter.
"Aaaaa!" teriak Thalita lagi tetapi masih gagal juga.
Dokter yang menyadari air ketuban Thalita belum pecah juga saat melihat ketuban itu ada di jalan lubang lahir langsung menusuknya dengan jari tangannya.
Alhasil ketuban Thalita langsung pecah dan airnya muncrat kemana-mana.
"Air ketubannya sudah pecah saatnya mengeluarkan bayi Nyonya," ucap dokter kandungan.
Thalita pun bersiap lagi kala perutnya sangat mules seperti orang yang ingin buang air saja.
"Aaaaaa!" teriak Thalita sambil mengejan lebih kuat lagi.
"Oek-oek-oek." Terdengar tangisannya bayi memenuhi seluruh ruangan.
"Alhamdulillah," ucap bibi dan Itnas bersamaan sedangkan Juno mengucapkan puji syukur dalam hati. Kali ini Juno menangis haru melihat keberhasilan Thalita dalam perjuangan melahirkan putranya.
"Terima kasih," ucap Juno sambil mengecup kening Thalita.
__ADS_1
"Selamat bayinya laki-laki Tuan, Nyonya," ucap sang dokter sambil menunjukkan bayi tersebut kepada Thalita dan Juno. Dokter itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa sepasang orang yang ada di hadapannya ini bukanlah suami istri. Namun, masih calon pengantin.
"Iya Dokter terima kasih atas bantuannya," ucap Juno dengan ekspresi yang sumringah, kekhawatirannya hilang sudah, berganti kebahagiaan yang tiada tara.
"Sus tolong dibersihkan dulu bayinya sebelum di inisiasi menyusu dini (IMD)!" perintah dokter yang menangani persalinan Thalita itu.
"Baik Dok," ucap suster dan langsung mengambil bayi dari tangan dokter dan membawanya keluar dari ruangan.
"Jangan lama-lama Sus." Dokter mengingatkan karena Inisiasi Menyusu Dini baiknya dilakukan sebelum satu jam dari saat kelahiran sebab di saat itu bayi sedang aktif-aktifnya mencari ****** susu ibu.
"Mas aku ngantuk," ucap Thalita.
"Jangan tidur dulu Nyonya, ini plasentanya belum keluar," cegah dokter.
"Masih ada lagi Dok?" tanya Juno tak mengerti. Raut khawatir mulai nampak kembali di wajahnya.
"Jadi saya harus apa Dok?" tanya Thalita bingung. Dia benar-benar tidak mengerti. Secara teori dia memang tahu saat sekolah dulu bahwa bayi dalam rahim ada plasenta, tapi karena secara praktek dia tidak pernah melihatnya maka dia menjadi lupa bahwa plasenta itu memang harus keluar bersama bayi.
"Nyonya hanya perlu mengejan sedikit saja," ucap sang dokter.
Thalita mengangguk dan langsung mengejan.
"Sudah, sudah keluar," ucap dokter kemudian.
Juno dan Thalita nampak bernafas lega.
"Tidak ada lagi kan Dok?" tanya Juno masih khawatir.
"Tidak ada Tuan kecuali bayinya kembar. Kalau kembar ya berarti Nyonya harus mengejan lagi," terang sang dokter.
"Jangan deh Dok satu saja cukup," ucap Juno. Dia merasa ngeri jika Thalita harus bekerja keras lagi sekarang. Lebih baik dia buat anak lagi setelah mereka menikah.
Itnas yang hanya menyaksikan sedari tadi menggeleng.
"Kenapa Nas?" tanya Juno melihat sikap Itnas.
"Heran aja lihat kamu. Dimana-mana tuh orang pengen punya anak kembar, nah kamu malah tidak mau," cercah Itnas.
"Bukan tidak mau Nas tapi aku tidak tega kalau Thalita mengulang kesakitan seperti tadi," jelas Juno.
__ADS_1
Bersambung.