
"Kompak banget kalian," ucap Leon lalu terkekeh.
"Iya dong lima serangkai," jawab Syahdu dan ikut terkekeh padahal Leona tidak ikut-ikutan menjawab hanya 4 serangkai saja.
"Mana ini yang namanya Juno?" tanya orang-orang penasaran karena tidak ada yang maju ke depan padahal pemain musik organ tunggal sudah siap memainkan alat musiknya.
"Iya ayo dong maju!" timpal yang lainnya.
"Juno, Juno, Juno!" teriak orang-orang sambil bersorak- sorai.
"Sana Jun naik ke panggung segera, jangan malu-maluin kamu," protes Leon.
"Cih elo tuh yang ada-ada saja. Mengganggu ketentraman orang yang sedang duduk santai saja," protes Juno.
"Sudah sana Mas," ucap Thalita memberikan semangat.
"Temani yuk!" Juno menarik tangan Thalita untuk maju ke depan.
"Ogah ah Mas, kamu sendiri saja," tolak Thalita.
"Ya sudah saya nggak mau kalau nggak ada yang nemani," ucap Juno manja.
"Terus Athar mau aku bawa juga ke depan?" tanya Thalita heran dengan pemikiran Juno.
"Sini sama aku saja," ucap Syahdu dan langsung meraih bayi Athar dalam gendongan Thalita.
"Baiklah," ucap Thalita pasrah sambil memberikan bayi Athar pada Syahdu dan dirinya kini maju bersama Juno.
Sorak-sorai orang-orang yang hadir memenuhi seluruh ruangan apalagi saat Juno mengatakan dirinya tidak hanya akan bernyanyi sendiri, tetapi akan berduet bersama sang istri.
"Wah benar-benar pasangan yang romantis," ucap orang-orang merasa iri melihat kekompakan keduanya.
Awalnya Thalita ingin menolak. Namun, karena tidak ingin mempermalukan sang suami dan juga mematahkan asumsi orang-orang yang telah mengatakan bahwa dirinya dan Juno adalah pasangan yang romantis akhirnya pasrah saja dan bernyanyi bersama sang suami.
"Wah tidak menyangka suara Thalita merdu juga," ucap Itnas bangga.
"Habis Juno sama Thalita yang menyanyi giliran kita berdua," ucap Vierdo menggoda Itnas.
"Ogah ah, kalau orang-orang dengar suaraku pasti semuanya pada kabur," protes Itnas.
"Nggak bakal pasti mereka suka dengar kamu nyanyi," ucap Vierdo lagi. Pria itu sekarang memang senang menggoda sang kekasih.
"Suka apaan? Yang ada malah suaraku diketawain kucing bahkan nyamuk saja pasti berhenti berbunyi seketika mendengar suaraku yang bernyanyi."
"Ada-ada saja loh Nas, bagus dong kalau nyamuk berhenti berbunyi syukur-syukur semaput seketika."
Semua orang tertawa mendengar ucapan Syahdu.
"Biar nggak perlu pakai obat nyamuk sekalian ya Du," ucap Kana lalu tertawa lagi.
"Ya begitulah," jawab Syahdu.
__ADS_1
"Baby Athar, tuh lihat mami sama Daddy kamu romantis banget bikin Tante meleleh saja," ucap Syahdu baper.
"Emang es meleleh?" kelakar Wendi.
"Iya kan Syahdu emang es Pak. Dingin-dingin menghanyutkan," kelakar Kana.
Wendi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Ngomong apa sih kalian? Tuh lihat saja Thalita sama Juno yang menyanyi, malah bicara ngelantur sendiri," protes Itnas.
"Iya, iya Nas," jawab Syahdu dan semua orang malah fokus menatap Juno dan Thalita yang sedang menyanyikan lagu romantis di atas panggung sana.
Sebentar kemudian terdengar mereka berdua berhenti bernyanyi disambut tepuk tangan dari orang-orang.
"Lagi."
"Lagi."
"Lagi."
Tidak disangka yang mendengarkan malah ketagihan mendengar suara Juno dan Thalita.
"Jangan ya, sudah ya!" tolak Juno dengan suara ramah.
"Satu kali lagi!" pinta orang-orang membuat Juno meminta persetujuan Thalita.
"Bagaimana menurutmu sayang?"
Juno hanya mengangguk kemudian berbisik di telinga Thalita, menanyakan lagu apa yang sekiranya mereka sama-sama hafal.
Setelah sedikit berdiskusi sebentar akhirnya mereka menemukan lagi yang pas bagi keduanya.
"Oke teman-teman satu kali lagi ya, setelah ini jangan minta tambahan lagu lagi sebab kami punya bayi yang harus digendong," tunjuk Thalita ke arah putranya.
Semua orang mengangguk paham dan setuju.
"Baiklah hanya satu kali," ucap orang-orang serempak.
Juno dan Thalita langsung meminta tukang musik untuk memainkan instrumennya. Mereka berdua pun berduet kembali.
"Terima kasih semua atas dukungannya, semoga bahagia selalu," ucap Thalita di akhir menyanyinya.
"Dan sekarang saya memanggil Vierdo bersama pasangan," ucap Juno kemudian dan langsung turun dari panggung.
Vierdo membelalak mendengar namanya disebut oleh Juno.
"Ayo Pak Vierdo!" panggil para karyawan Leon. Mereka semua kenal pada Vierdo karena pria itu memang keluar masuk perusahaan Leon.
"Aku nggak ikut." Sebelum Vierdo mengajak dirinya Itnas sudah terlebih dahulu menolak.
"Payah elo Nas, Thalita aja mau padahal tidak kenal pada para karyawan Leon. Nah elo tampil di depan rekan-rekan kerja sendiri tidak berani," kelakar Juno.
__ADS_1
"Bukan tidak berani Jun cuma nggak bisa nyanyi saja. Bisa kacau kalau suara saya fals nanti di depan," sahut Itnas.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, ayo Du kamu temani aku," pinta Vierdo.
"Loh kok saya Pak," protes Syahdu.
"Iyalah kan Itnas tidak mau. Kamu yang mewakilkan sahabat kamu itu!" perintah Vierdo.
"Sana Du, wakili aku," mohon Itnas.
"Tapi Nas, aku ...."
"Sebagai bawahan tidak boleh menolak perintah atasan," ucap Vierdo membuat Syahdu langsung menelan ludah.
"Sana Du, nanti kamu dipecat lagi," ujar Kana.
"Baiklah," ucap Syahdu pasrah dan langsung memberikan bayi Athar pada Thalita.
"Baby Athar sama mami lagi ya."
"Makasih ya Du," ucap Thalita dan Syahdu menjawab dengan anggukan lalu maju ke depan.
"Ayo dong Du yang serius nyanyinya, feel-nya nggak dapat tahu," protes Vierdo pada Syahdu saat suara musik menggema.
"Iya, iya Pak."
Akhirnya Syahdu mencoba bernyanyi dengan penuh penghayatan.
Sorak-sorai kembali terdengar kembali saat mereka menyudahi bernyanyi.
"Sekarang giliran Wendi," ucap Vierdo lewat mikrofon.
Sontak saja membuat Wendi kaget dengan permintaan Vierdo. Wendi masih diam, tidak terbesit sedikitpun untuk maju ke depan. Hingga saat Vierdo sampai ke sisinya pria itu langsung menepuk pundak Wendi.
"Sana Wen!"
"Tapi Pak saya ...."
"Tidak ada tapi-tapian sana maju!" perintah Vierdo dan akhirnya Wendi pun mengangguk pasrah dan maju ke depan.
"Kana juga maju!" perintah Wendi membuatnya wajah Kana bersemu merah menahan malu.
"Ah, Pak Vier tahu saja," batin Kana lalu maju ke depan dan berduet bersama Wendi.
Meskipun Wendi terlihat sedikit cuek, tetapi Kana cukup merasa bahagia bisa satu panggung bersama Wendi.
"Kayak dapat durian runtuh si Kana padahal cuma dapat kesempatan menyanyi saja," ucap Itnas.
"Sengaja aku memasangkan mereka agar bisa lebih dekat," ucap Vierdo dijawab anggukan oleh semua orang.
Bersambung.
__ADS_1