Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 18. Surat Resign


__ADS_3

Kembali ke Itnas.


Karena Itnas sudah berjanji untuk tidak menampakkan diri di hadapan Vierdo dia memutuskan untuk resign dari perusahaan tempatnya bekerja.


Hari ini Itnas masuk kerja dengan membawa surat Resign. Dia mendatangi bagian HRD untuk menyerahkan surat tersebut.


"Darimana saja lo aku cariin dari tadi kok baru nongol sekarang?"


"Ngapain lo cari gue Kan?"


"Nggak tahu tuh dari tadi Kana ngebet banget pengen ketemu lo. Jatuh cinta dia kali ama lo mangkanya rindu berat," ujar Syahdu kemudian cekikikan.


"Lo punya hutang penjelasan ama gue," ucap Kana tanpa menghiraukan ucapan Syahdu.


Itnas terdiam tampak berpikir. Penjelasan apa sih yang dimaksud Kana?


"Oh itu jangan sekarang lah besok-besok aja pas gue udah resign dari tempat ini."


"Resign?" Ucap Kana dan Syahdu bersamaan karena terkejut.


"Serius lo mau resign?"


"Iyalah masa gue bohong, tadi aku sudah menyetor surat pengunduran diri."


"Aaah ternyata lo nggak sayang ama kita Nas masa ninggalin kita berdua," kata Syahdu merajuk.


"Bisa lo jelasin sekarang kenapa lo mau resign!" pinta Kana.


"Sayangnya nggak bisa, inikan waktu kerja masa mau ngerumpi. Mau kalian di DO dari perusahaan ini ? Kalo iya ayo kita sama-sama keluar!"


"Ih nggak mau ah. Kalo aku di DO nanti mami sama papi malah maksa gue untuk masuk ke dunia kerjanya."


"Bagus dong kalo gitu kita kan bakalan punya teman artis. Iya nggak, Kan?" Goda Itnas.


"Ho'oh. Enakan jadi artis Du ketimbang jadi karyawan kayak kita. Udah bayarannya gede bisa terkenal lagi. Siapa tahu BTS ngefans sama lo."


Syahdu mencebik, "Itu enaknya nggak enaknya banyak," ucap Syahdu.


"Emang ada nggak enaknya Du?" tanya Itnas.


"Adalah Nas kemarin aja pas opa meninggal mami nggak sempat menyaksikan pemakaman habis dia harus terbang ke Bali karena ada kontrak selain itu gue risih tuh kalo lihat mami dikejar-kejar wartawan makanya aku minta mami untuk ngerasihain kalo punya anak aku dari media takut gue disamperin juga ama media. Gak mau gue waktu gue keganggu.


Apalagi kalo sudah Suting malam bikin pusing gue liatnya kalo jadi karyawan tuh enak siang kerja malem bisa bebas tidur."

__ADS_1


"Ya itu resiko dari setiap pekerjaan."


"Iya sih cuma aku nggak sanggup aja ngejalanin semua itu apalagi kalo privasi kita sampek di usik. Nggak sanggup gue. Udah ah kembali ke topik kapan lo berhenti kerja jangan bilang besok lo langsung out!"


"Nggaklah Du aku berhentinya bulan depan ngikutin prosedur, aku nggak mau ninggalin kesan buruk di perusahaan dengan berhenti mendadak lagian biar perusahaan bisa mendapat ganti gue dulu. Udah ah kita fokus kerja aja."


Mereka pun bekerja dengan khusuk. Ketika jam makan siang tiba Itnas pamit kepada kedua sahabatnya untuk menyamperi Lala terlebih dahulu di ruangannya. Ada titipan seseorang yang harus dia berikan kepada Lala.


"Guys, aku ke ruangan Lala dulu ya untuk ngasih ini, kalian ke kantin duluan aja entar gue nyusul!"


"Ok," jawab keduanya bersamaan.


Itnas masuk ke dalam lift yang akan mengantarnya keruangan Lala berada. Dia berharap Lala masih ada di ruangannya dan belum turun untuk makan siang.


"Nas kamu mau ketemu siapa? Pak Bos ya!" terka Lala.


"Nggaklah aku mau ketemu kamu. Mau ngasih ini."


"Siapa yang nikah? Kamu ya!" tebak Lala.


"Sayangnya tebakan kamu salah lagi. Ni baca aja! Ola kok yang mau nikah. Kemarin dia nyamperin aku ke rumah untuk menitipkan ini sama kamu."


"Kamu kenal Ola?"


"Bukan sekedar teman tapi sepupu aku. Tuh orang memang ajaib mau nikah nggak ngasih tahu malah ngasih undangan kayak gini, dia kira aku siapanya," protes Lala.


Itnas menyodorkan undangan pernikahan Ola yang belum di sentuh oleh Lala yang malah mengeluh.


Bersamaan dengan itu terdengar suara dari ruangan Vierdo.


"Pak saya dapat laporan katanya Itnas mau resign," ucap Wendi sang asisten. Bukan apa-apa selain Vierdo adalah atasan, Wendi juga tahu bahwa Vierdo punya masa lalu bersama Itnas.


"Memang aku peduli sama dia mau resign ya resign aja yang penting posisi dia tuh harus diisi nggak boleh kosong kalo entar dia udah keluar."


"Kalo itu sih pasti, tapi Bapak yakin kalo Bapak juga mau dia berhenti dari kantor ini?"


"Ya itu lebih baik males gue lihat muka dia sekarang. Muka-muka pengkhianat gitu bikin mood aku rusak aja."


"Bapak nggak bakalan menyesal kan nggak pertahanin dia?"


"Emang kamu nggak sanggup gitu cara pekerja yang lebih kompeten dari dia?"


"Bukan masalah pekerjaan Pak tapi masalah hati." Wendi memberanikan diri untuk mengatakan itu sambil menyentuh dadanya sendiri karena Wendi seolah masih melihat cinta di mata Vierdo untuk Itnas. Wendi sering mencuri pandang Ketika Vierdo memandang Itnas dengan perasaan penuh harap. Namun, Vierdo tak mengakui itu malah dia pura-pura memandang datar wajah mantan kekasihnya ketika kepergok Wendi dia sering mencuri pandang pada Itnas.

__ADS_1


"Nggaklah wanita seperti dia tidak pantas berada di hatiku." Walau tak sesuai kenyataan Vierdo mengeluarkan kata-kata itu karena jujur dia masih sangat marah dan kecewa pada Itnas.


Itnas yang mendengar pembicaraan kedua laki-laki itu menjatuhkan undangan yang dia sodorkan kepada Lala. Kemudian dia berjongkok mengambil benda tersebut. Bersamaan dengan itu pintu ruangan terbuka. Terlihat dua laki-laki itu melangkahkan kakinya ke luar ruangan. Ternyata kedua orang tadi berbicara sambil berjalan menuju pintu.


Selepas kedua laki-laki itu keluar Itnas menyodorkan undangan itu kembali pada Lala dan kali ini Lala langsung mengambilnya. Lala merasa tidak enak pada Itnas sebab karena dialah yang mengulur waktu dengan tidak langsung mengambil undangan itu, malah bertanya-tanya pada Itnas sehingga membuat Itnas mendengar omongan kedua atasannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lala yang melihat muka Itnas memerah.


"Tidak apa-apa," jawab Itnas berbohong. Dia berusaha menyembunyikan sakit hatinya, walau sebenarnya tanpa diberitahukan Lala tahu itu semua.


"Aku permisi!" pamitnya pada Lala. Dia kemudian keluar dari ruangan Lala menuju ruangannya sendiri, karena moodnya yang lagi tidak bersahabat dia melupakan kedua sahabatnya yang sedang menunggu kedatangannya di kantin kantor.


"Kemana sih Itnas lama banget dia," protes Syahdu.


"Udah makan aja, entar pasti dia datang."


Namun, sampai habis makanan keduanya yang ditunggu belum juga nongol.


"Kok nggak turun-turun juga?" Kali ini Kana yang berbicara.


"Tahu tuh orang, amnesia kali makanya lupa sudah janjian ama kita."


"Ish kamu tuh kalo ngomong seenaknya aja kayak nggak ada filternya tuh mulut. Bagaimana kalo ucapan lo tuh jadi kenyataan auto Itnas lupa sama elo."


"Amit-amit jangan sampai itu terjadi."


"Makanya kalo ngomong tuh jangan sembarangan takutnya pas lo ngomong ada malaikat yang mencatat dan mengaminkan ucapan elo. Ingat setiap ucapan adalah doa." Mode bijak Kana lagi on.


"Yaudah yuk kita balik aja!"


sesampainya di ruangan kedua sahabat itu terkejut melihat Itnas seperti tak ada gairah.


"Kenapa lo?" tanya Syahdu.


"Ini gue bawain makanan," ujar Kana.


"Taruh aja dulu gue belum lapar."


"Kenapa sih lo?" Pertanyaan yang sama keluar dari mulut Kana melihat sepertinya ada yang tidak beres pada sahabatnya.


"Besok kan libur, kalian ke rumah ya! Aku mau curhat sama kalian," ucap Itnas dengan mata berkaca-kaca karena susah payah dia menahan tangisnya sedari tadi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2