Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 92. Kejutan


__ADS_3

Pagi menjelang tidak ada kabar juga dari teman-teman mamanya Kana maupun teman papanya.


"Bagaimana Ma, teman Mama yang di bandara itu belum memberikan informasi tentang Gino?" tanya Kana pada sang mama sambil mengucek kedua matanya yang masih mengantuk. Kebetulan sejak terbangun tadi malam dia sempat tertidur 1 jam dan sang Mama yang tahu akan kegelisahan putrinya membiarkan saja Kana yang terlelap dan tidak membangunkan meski jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.


"Jam berapa sekarang Ma?" tanya Kana mulai ingat dengan rutinitasnya. Biasanya pagi-pagi seperti ini dia sudah siap berangkat ke kantor.


"Jam 06.30 pagi," jawab sang Mama enteng.


"Ah, Mama kenapa nggak bangunin Kana sih dari tadi? Kalau begini kan Kana bisa telat ngantor, masak jam setengah tujuh Kana belum apa-apa, belum mandi juga," protes Kana kepada sang Mama panjang lebar.


"Sudahlah pagi ini kamu tidak usah bekerja dulu. Mama sudah menelpon dan menyuruh Itnas untuk memintakan izin kepada Vierdo. Lagipula kamu baru sejam tidur masa' saat melihat kamu terlelap mama tega sih bangunin kamu?" Sang mama tidak mau kalah, malah ikut protes.


"Ya Mama kok main izin-izinin segala sih tanpa memberitahu Kana. Saya mau ngantor aja deh, kalau di rumah saja Kana ingat terus sama Gino dan nggak bisa ngapa-ngapain juga. Kalau di kantor nanti Kana bisa meminta bantuan Pak Vierdo dan teman-teman yang lainnya buat ikut mencari informasi tentang keberadaan Gino."


"Terserah kamu lah Kan. Kalau begitu cepat mandi sana sebelum telat!"


"Iya Ma, Kana ke kamar mandi dulu ya, tapi kayaknya meskipun telat tidak apa-apa deh sebab Mama kan sudah meminta izin pada Pak Vierdo."


"Hmm, tuh Kan ada gunanya juga Mama memintakan izin untuk kamu. Kalau tidak pasti kamu terburu-buru sekarang."


"Iya Mama, terima kasih Ma, I love you," ucap Kana sambil menyambar handuk di tangannya dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah bersiap-siap akhirnya dia pamit kepada sang mama dan papanya yang juga belum berangkat kerja

__ADS_1


"Ma, Pa Kana berangkat dulu ya," ucapnya sambil menyalami kedua tangan orang tuanya secara bergiliran.


"Iya hati-hati Nak. Eh tapi kamu perginya sama siapa sekarang?" tanya sang papa.


Kana terdiam dia jadi mengingat biasanya yang menjemput dirinya dulu adalah Syahdu, tetapi sejak kehadiran Gino, Syahdu tidak pernah menjemput dan mengantar pulang Kana lagi. Peran Syahdu itu digantikan oleh Gino. Namun, sekarang Gino tidak ada kabarnya. Siapa yang akan menjemput dirinya sekarang?


"Apa perlu papa yang mengantar kamu?" Sang papa menawarkan diri.


"Tidak usah Pa jalan ke kantor tempat Papa bekerja dan kantor tempat Kana bekerja berlawanan arah. Jadi, papa bisa telat nanti kalau harus mengantarkan Kana terlebih dahulu. Kalau Kana sih meskipun telat tidak apa-apa sebab sudah mama minta izinkan tadi. Lebih baik Kana naik ojek atau kendaraan umum lainnya saja."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya Nak."


"Siap, Papa juga hati-hati ya. Sudah dulu ya Pa, Ma, Kana pamit pergi."


Kana menarik nafas berat mencoba berusaha untuk melupakan perihal Gino untuk sementara. Kana pun melenggang pergi dan keluar dari rumah.


Sampai di depan pintu pagarnya saat melihat tukang ojek mangkal dia langsung memanggil tukang ojek itu untuk mendekat.


"Pak antar saya ke kantor ya!"


"Oke siap Neng, ini pakai dulu helmnya!"


Kana meraih helm yang disodorkan oleh tukang ojek itu dan memasang di kepala. Setelah siap tukang ojek itu langsung melajukan motornya ke perusahaan Vierdo.

__ADS_1


Kana berjalan lemah masuk ke dalam pagar bangunan perusahaan. Matanya tampak terbelalak melihat seseorang berdiri di depan kantor Vierdo sambil mendekap buket bunga di tangannya.


"Dia kan ... apa aku bermimpi?" tanya Kana pada dirinya sendiri sambil mengucek kedua matanya.


Yang tadinya berjalan dengan gontai sekarang Kana malah berjalan terburu-buru dan setengah berlari sebab begitu penasaran dengan pria yang ada di depannya itu.


"Gino? Kau benar Gino?" tanya Kana tak percaya ketika dirinya sampai di depan pria tersebut.


Gino hanya mengangguk sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.


"Gino." Kana masuk ke dalam pelukan Gino sambil menangis.


"Ku kira kau kenapa-kenapa sampai tidak bisa dihubungi," protes Kana dengan menatap wajah Gino sambil cemberut.


"Aku memang sengaja mematikan handphone ku biar kedatanganku menjadi surprise untukmu."


"Ih kamu jahat, bikin khawatir aku saja. Kamu tahu bahkan aku tidak tidur semalaman karena memikirkanmu," keluh Kana.


"Bagus dong kalau kamu memikirkan aku, berarti kamu sayang sama aku."


"Ih jahat," ucap Kana sambil mencebik.


"Kamu tambah cantik kalau cemberut seperti itu," ucap Gino sontak membuat mata Kana terbelalak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2