
"Tidak boleh," jawab Leon spontan membuat Leona langsung menatap bingung mantan bosnya itu.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Vierdo sengaja berkata seperti itu untuk membuat Leon semakin tersudut. "Aku saja sebagai bos dan kakak angkatnya merestui kalau seandainya mereka akan menikah," sindir Vierdo.
"Cih kakak angkat apaan?" protes Leon.
"Iyalah, aku seperti kakak angkat bagi Leona. Selain dia itu emang sahabat akrabnya Keysa dia juga sudah dipasrahkan padaku oleh orang tuanya saat aku mengantar dia ke Bali beberapa bulan yang lalu. Mereka mengatakan kalau ada orang yang melamar Leona dan orang itu cocok menurutku maka orang tuannya juga akan ikut merestui begitu pun sebaliknya kalau tidak cocok menurutku maka mereka juga tidak akan merestuinya. Benar kan Leona?"
"Iya Kak. Aku kan hidup jauh dari kedua orang tua, jadi mereka tidak bisa mengawasi ku secara langsung. Begitu pun dengan pria yang akan melamar ku kelak mereka tidak akan bisa menilai kepribadiannya. Untuk itu beliau menyerahkan kepercayaan untuk menentukan calon imanku kelak pada Kak Vier cocok apa tidak," tutur Leona panjang lebar.
"Kalau saya cocok kan Pak?" tanya Wendi dengan ekspresi percaya diri.
"Aku merestui karena tahu kamu orang baik dan memang layak untuk Leona," jawab Vierdo mantap.
Wendi hanya terlihat tersenyum dan mengangguk-angguk sedangkan Leon tampak gusar.
"Itu tidak akan terjadi karena sebelum kau melamarnya aku yang akan melamar dia terlebih dahulu," ucap Leon mantap membuat semua orang kaget hingga memandang Leon tak berkedip.
Leona nampak syok, dia tidak percaya dengan perkataan Leon itu. Dia tahu Leon sangat membencinya, tetapi pria itu hanya membutuhkan dirinya untuk bekerja membantu dirinya di perusahaan.
"Bagaimana Leona, kau menerima lamarannya?" tanya Vierdo. "Sebaiknya kau dengan Wendi saja karena pria ini lebih hangat, kalau sama Leon saya takut kamu beku hanya dengan tatapan dinginnya saja." Setelah mengatakan itu Vierdo terkekeh.
"Kurang ajar Lo, ngerjain aku rupanya," ucap Leon sambil memukul perut Vierdo dengan pelan membuat pria itu semakin tertawa kencang.
"Abisnya elo ngeselin, sudah tahu cinta tetap aja syok dingin kayak kulkas dua pintu," ucap Vierdo kemudian tertawa lagi.
"Sudah ah Vier tertawa terus nggak capek apa," protes Leon kesal melihat Vierdo tertawa terus.
Juno dan Wendi hanya menggelengkan kepala saja sedangkan Leona masih tampak kebingungan.
__ADS_1
"Sudah tanyakan sana sama Leona dia mau nggak sama kamu!" perintah Vierdo.
Tiba-tiba Leon menjadi gugup. Dia menoleh ke arah Leona yang saat ini menunduk karena malu.
"Leona!" panggil Leon.
"Iya Pak." Menjawab dengan posisi masih menunduk. Rasanya dia tidak berani melihat wajah Leon. Lebih baik melihat wajah Leon saat menatap dingin dirinya daripada menatap Leon saat ini.
"Tatap aku!" pinta Leon membuat Leona mengangkat wajah secara perlahan.
"Iya Pak." Dengan ragu Leona menatap wajah Leon.
Dengan hati-hati Leon mengambil tangan Leona. "Maukah kau menikah denganku?" tanya Leon tanpa basa-basi membuat wajah Leona langsung merah merona.
"Leona, jawab aku!" Leon cemas tidak mendengar jawaban Leona.
"Dari dulu sampai sekarang cintaku tidak pernah berubah Pak, selalu mencintai Bapak. Entah sampai kapan," ucap Leona dengan jujur.
Mendengar jawaban Leona hati Leon menjadi lega. Pria itu tersenyum manis.
"Maafkan aku ya, sebenarnya dari dulu, sejak kau merubah penampilanmu, aku sudah mencintaimu cuma aku terlalu gengsi untuk mengakuinya karena pernah berkata-kata yang tidak baik padamu. Sekali lagi maafkan aku ya," mohon Leon.
"Dimaafkan kok Pak," sahut Leona malu-malu.
"Jadi bagaimana kau menerima lamaranku?" tanya Leon memastikan.
Leona mengangguk. "Iya Pak saya terima lamaran Bapak." Setelah mengatakan itu Leona menunduk lagi.
Semua yang ada di tempat itu bertepuk tangan.
__ADS_1
"Wah akhirnya kalian bersatu juga," ucap Vierdo lega.
"Selamat ya Leona, selamat ya Pak," ucap Wendi.
"Terima kasih," jawab keduanya.
"Wah ada yang bakal menyusul aku dan Thalita kayaknya," goda Juno sambil tersenyum ramah.
"Doakan ya Jun, bulan ini kalau bisa kita akan segera menikah," ucap Leon.
"Wah gercep amat Lo," kelakar Juno.
"Kalau dia mau sih." Leon melirik Leona.
"Mau nggak?" Leon beralih bertanya pada Leona.
"Terserah Bapak, kapanpun Leona sanggup asal kita temui orang tuaku dulu," jawab Leona.
Leon mengangguk.
"Apa, apa? Bulan ini?" tanya Vierdo tak percaya.
"Ia biar ngedahuluin elo, puas?"
Perkataan Leon membuat Vierdo langsung pingsan.
"Vierdo!" seru Juno sambil menepuk pipi Vierdo. Untung saja dia segera menangkap tubuh sahabatnya itu. Kalau tidak tubuh Vierdo pasti sudah terbaring di lantai.
Bersambung.
__ADS_1