
Setelah Vierdo dan Itnas selesai makan Wendi pamit untuk pergi ke mobil.
"Pak Vier aku ke mobil dulu ya dan kalian semua jangan pada bubar dulu ya," mohon Wendi pada semua orang.
"Oke Wen," jawab Leon mewakilkan semua orang sedangan Vierdo tampak mengangguk saja.
Wendi pun balas mengangguk dengan tersenyum lalu keluar dari gedung menuju parkiran. Setelah masuk ke dalam mobilnya sendiri dia keluar dengan menenteng sebuah tas dan membawanya ke tempat dimana bos dan teman-temannya berkumpul.
"Kamu ngapain sih Wen bawa tas ke sini segala, kamu mau kerja?" protes dan pertanyaan dari Vierdo menjadi satu.
"Bukan Pak."
"Apa ada berkas penting yang harus segera saya tanda tangani?" tanya Vierdo penasaran. Dahinya sampai mengerut, bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Wendi di pesta pernikahannya saat ini.
"Bukan Pak, hanya mau ngasih ini." Wendi mengeluarkan segepok undangan pernikahan dari dalam tas kerjanya.
"Oh, siapa yang mau nikah?" tanya Vierdo lagi.
"Saya sendiri Pak, untuk itu saya minta cuti dulu 2 hari sebelum akad." Wendi memberikan undangan itu pada Vierdo kemudian juga pada semua orang.
"Mumpung kalian ngumpul di sini sebab saya tidak tahu masing-masing rumah kalian," ucap Wendi pada semua orang.
"Oke, insyaallah kami akan usahakan untuk hadir," ujar Juno.
Thalita mengambil surat undangan dari tangan Juno. "Bukankah di tanggal ini kamu ada pembukaan perusahaan cabang ya Mas?" tanya Thalita sekaligus mengingatkan.
"Iya Sayang tapi kan cuma sebentar. Habis pembukaan kita langsung meluncur ke pernikahan Wendi. Biar yang lain-lainnya papa aja yang ngurus."
__ADS_1
"Oke kalau begitu."
"Kami juga pasti datang kok, asal jangan lupa datang juga ke acara kami," sambung Leon.
"Cih pamrih Lo," protes Vierdo.
"Iya dong, aku kan pengen kalian hadir semua di pesta pernikahan kami," jawab Leon.
"Insyaallah kami juga akan datang, iya nggak Sayang?"
"Iya," jawab Gladis sambil tersenyum manis membuat mood Kana memburuk kembali.
"Kamu mau datang nggak Du?" tanya Itnas.
"Kalau aku mah pasti datang Nas. meskipun jomblo sendiri tapi rasa pedeku tinggi. Apalagi yang menikah atasan sendiri di kantor. Entar nggak dipromosikan naik jabatan nih kalau tidak hadir," ucap Syahdu lalu cengengesan.
"Yaaa, pedenya sih bagus Du, tapi alasannya itu yang membuat hati bagaimana gitu," ucap Vierdo.
"Itu namanya tebang pilih. Mentang-mentang teman sendiri direkomendasi naik jabatan yang bukan meski kinerjanya bagus nggak naik," protes Juno.
"Biarin Jun, aku kan pengen juga punya jabatan tinggi." Syahdu terlihat egois.
"Lagipula kinerjaku bagus kok, kalau nggak percaya tanya saja pada Pak Wendi."
"Oke-oke nanti kalau kinerjamu lebih bagus lagi saya akan naikkan ke posisi manager kebetulan manager keuangan bulan depan katanya mau resign," janji Vierdo.
"Yeee, akhirnya setelah bertahun-tahun naik juga. Nggak jadi deh berhenti kerja." Syahdu lalu bersenandung ceria.
__ADS_1
"Awas managernya nggak jadi resign," goda Juno.
"Jangan julit," protes Syahdu.
"Nggak bakal jadi nih nyokap maksa aku untuk terjun ke dunia artis, la la lalala...." Syahdu bersenandung lagi.
"Jadi artis?" tanya Leona heran.
"Iya, semua keluarga dia itu selebriti cuma dia aja yang nguli," goda Itnas lalu tertawa renyah.
"Wah enak dong jadi artis. Kenapa nggak ngikut jejak keluarga sih Du?" protes Thalita.
"No, no, no. Aku tidak suka," jawab Syahdu sambil menggoyangkan telunjuk tangan kanannya ke kanan dan ke kiri.
"Emang kenapa?"
"Males syuting malam mending tidur aja," jawab Syahdu enteng. "Udah gitu kehidupan pribadi bakal ada yang nyampuri," imbuh Syahdu lagi.
"Kayaknya sama aja deh Du. Meskipun kamu bukan artis tapi kalau orang tuamu artis ya pasti banyak yang mencari tahu tentang dirimu."
"Mana ada? Nggak ada kok, dia kan kayak anak nggak dianggap gitu." Itnas tertawa lagi.
"Benarkah?" tanya Leona dan Thalita serentak. Sepertinya mereka mulai mempercayai perkataan Itnas.
"Iya aku yang minta pada bokap sama nyokap supaya tidak menyebutku sebagai anak di depan kamera. Intinya kayak anak yang disembunyikan gitu dari publik." Syahdu pun ikut terkekeh.
"Oh," ucap Thalita dan Leona sambil tertawa-tawa.
__ADS_1
Sementara yang lain tertawa Kana malah memandang surat undangan yang diberikan oleh Wendi dengan ekspresi sedih.
Bersambung.