Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 87. Bermain Bersama


__ADS_3

"Bagusan yang warna cokelat deh kayaknya Gin, tapi lebih hangat yang hitam sepertinya."


"Hmm, jadi bingung aku milihnya yang mana Kan," ujar Gino dengan ekspresi bingungnya.


"Gini aja deh coba kamu pakai saja Gin. Nanti yang lebih cocok sama tubuh kamu itu yang kamu pilih," usul Kana.


"Ide yang bagus," ucap Gino menerimanya usulan Kana. Pria itu langsung mencoba jaket yang berwarna cokelat.


"Bagaimana menurutimu Kan?" Gino meminta pendapat Kana.


Kana tampak melihat Gino sambil memainkan jari telunjuk di depan mulutnya.


"Bagaimana?" ulang Gino sebab tidak mendapat jawaban dari Kana.


"Biasa aja deh kayaknya."


"Hmm, begitu ya?" Gino langsung membuka jaket tebal berwarna cokelat dari tubuhnya.


"Coba yang hitam!"


"Oke." Gino langsung memasang jaket yang berwarna hitam.


"Wah kalau yang ini keren. Kamu tampak lebih tampan dan berkharismatic," ujar Kana lalu terkekeh.


"Jangan mengerjai ku." Gino berpikir Kana tidak serius dan hanya iseng saja.


"Serius Gin, kamu pikir aku bercanda apa."


"Terima kasih atas pujiannya. Saya memang tidak sekeren itu tapi percayalah saya lebih keren dari Wendi." Gino begitu antusias membandingkan dirinya dengan Wendi. Sebenarnya Wendi tidak salah apa-apa pada dirinya hanya saja Gino tidak suka sebab Kana malah melabuhkan cintanya pada pria itu bukan pada dirinya.


"Tuh kan, bagaimana aku bisa melupakan kesedihanku jika kamu malah menyebut namanya terus di hadapanku," protes Kana.


"Perasaan cuma satu kali deh, kenapa dikatakan terus-menerus," protes Gino.

__ADS_1


"Mbak bungkus yang ini ya!" Gino pada pelayan toko.


"Baik Mas." Pelayanan itu mengambil jaket yang diulurkan Gino lalu mengenakan ke dalam plastik sebelum memasukkan ke dalam paper bag.


"Kamu nggak beli apa-apa?" Kini Gino kembali bertanya pada Kana.


"Nggak deh Gin aku nggak butuh apa-apa hari ini."


"Mungkin beli baju yang ini, aku rasa ini pas dan cocok di tubuhmu."


"Bagus sih Gin, tapi nggaklah. Akhir-akhir ini aku mesti hemat. Musim orang kawin jadi harus lebih berhemat." Kana terkekeh sendiri.


"Ambil aja mana yang kamu suka, biar aku yang traktir."


"Ngga deh Gin terima kasih. Susah-susah kamu ngumpulin duit masa aku yang menikmatinya," tolak Kana.


"Nggak apa-apa, sekali-kali," ucap Gino dan Kana hanya menggeleng.


"Gin nggak usah."


"Sudah anggap aja kenang-kenangan dariku sebelum pergi ke Turki. Siapa tahu kamu kangen aku kan bisa memandang baju pemberian dariku."


Kana memandang wajah Gino yang nampak serius.


"Mau ya!" desak Gino.


"Oke deh." Akhirnya Kana pasrah. Walaupun dia sadar baru beberapa waktu ini mengenal Gino. Kana yakin dia pasti akan merindukan pria yang berdiri di hadapannya ini.


"Sip," ucap Gino.


"Berapa semuanya Mbak?" tanya Gino pada pelayanan toko pakaian itu.


"Ini notanya Mas dan Mas bisa langsung membayar pada kasir."

__ADS_1


"Oke. Ayo Kan!"


Setelah selesai membeli pakaian Gino mengajak Kana ke lantai dua mall tersebut.


"Mau apa ke sini? Ini kan tempat mainan. Jangan bilang kamu mau ngajak aku main-mainan itu. Kayak anak kecil tahu," protes Kana.


"Emang iya aku pengen ngajak kamu main."


"Nggak ah malu aku. Kita kan nggak bawa anak kecil? Jangan bilang kamu mau ngajak aku main mandi bola atau time Zone."


"Emang kenapa?"


"Ih sudah kubilang malu."


"Ya udah nanti kita main mainan itu saat sudah punya anak."


Kana menggelengkan mendengar kalimat Gino.


"Kamu bisa main sepatu roda?"


"Bisa, emang kenapa?"


"Kita main sepatu roda du salju buatan saja."


"Oke boleh dimana tempatnya?"


"Itu diujung sana."


"Oke yuk!"


Gino langsung menggenggam tangan Kana dan membawa dirinya ke tempat permainan wahana salju. Gino langsung memesan tiket dan setelah mendapatkan sepatu roda dan tongkat keduanya langsung bermain ski di atas salju buatan itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2