
"Oke deal," jawab Kana sambil tersenyum senang. Wanita itu langsung berdiri.
"Mau kemana?" cegah Kana menarik tangan Syahdu agar duduk kembali.
"Sebelum misi dilakukan alangkah baiknya aku berkenalan dulu dengan orangnya," ucap Syahdu lalu berjalan mendekati Leona yang terlihat fokus menyantap makanan.
"Hai!" Syahdu mengulurkan tangan pada Leona. Leona yang tersadar meletakan sendok di piring dan menjabat tangan Syahdu.
"Namaku Syahdu, kamu?" Syahdu memperkenalkan dirinya sekaligus bertanya, sekedar berbasa-basi padahal sudah tahu bahwa gadis yang duduk di depannya bernama Leona.
"Leona," jawab Leona. "Silahkan duduk!"
Syahdu pun mengangguk dan duduk di kursi berhadapan dengan Leona. "Belum makan kan? Ayo kita makan bareng," ajak Leona.
Syahdu pun mengangguk dan mereka langsung makan bersama sambil berbincang-bincang hal yang terdengar seru. Vierdo yang mengawasi keduanya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata syahdu orangnya supel sehingga cepat kenal dan langsung bisa membuat Leona tertawa dalam setiap perkataannya.
"Hebat temanmu itu," ucap Vierdo pada Itnas."
"Dia memang cerewet dan supel orangnya sehingga bisa berbaur dengan orang yang baru dikenalnya dengan cepat," jelas Itnas pada Vierdo.
"Ya sudah deh daripada ngomong terus mending kita makan juga. udah berontak nih cacing-cacing di dalam perut minta diisi karena tadi pagi saya belum sempat sarapan saat datang," ucap Vierdo.
Itnas pun mengangguk karena memang sama dengan Vierdo belum sarapan karena pagi-pagi sudah menemani Thalita yang dirias oleh MUA.
Mereka berdua pun makan bersama dengan Kana yang sudah terlebih dahulu selesai, tetapi tetap anteng di tempat semula untuk menemani Itnas. Lagian dia tidak tahu harus kemana karena teman yang satunya yang super cerewet sedang berbincang-bincang serius dengan Leona. Dia tidak enak jika harus mengganggu keduanya, apalagi dirinya belum kenal pada Leona.
"Hei sini!" Syahdu melambaikan tangan agar Kana mendekat ke arahnya.
Kana mengangguk dan langsung berjalan ke arah Syahdu dan Leona.
"Deman banget sih jadi obat nyamuk," kelakar Syahdu. Kana hanya tersenyum menimpali candaan temannya.
"Mending di sini, gabung sama kita-kita. Sama-sama jomblo," ucap Syahdu sambil cengar-cengir.
"Udahlah Du nggak usah bawa-bawa status," protes Kana.
__ADS_1
"Kan kenyataan, ya sudah kenalin ini Leona dan Leona ini Kana." Syahdu mengenalku keduanya. Mereka saling menjabat tangan.
"Senang berkenalan denganmu," sapa Leona.
"Senang berkenalan denganmu juga," balas Kana. "Oh ya kamu kerjakah?" tanya Kana selanjutnya.
"Iya," jawab Leona singkat.
"Kerja dimana?" tanya Syahdu menyambung pembicaraan keduanya.
"Jadi kamu dari tadi ngobrol sama dia nggak tahu dia kerja dimana?" Heran Kana pada Syahdu. Dalam hati apa saja yang diperbincangkan keduanya tadi sehingga terdengar seru.
"Nggak," jawab Syahdu enteng.
Kana hanya menggeleng.
"Oh ya aku kan sudah cerita tadi tentang perjalanan cintaku mengejar seorang pria sekarang giliran kamu dong!" pinta Syahdu.
Kana membelalakkan mata mendengar perkataan Syahdu. Bagaimana tidak Syahdu tidak pernah sekalipun bercerita padanya tentang itu semua.
"Nggak usah canggung pada dia. Dia mah kalem nggak bakal buka rahasia." Syahdu menyakinkan Leona agar tidak terpengaruh dengan keberadaan Kana di sisinya.
"Percaya deh sama aku," ucap Syahdu lagi.
Leona pun mengangguk.
"Insyaallah aku bisa jaga rahasia jika pembicaraan itu memang harus dirahasiakan," ucap Kana sungguh-sungguh.
Leona mengangguk lagi lalu tersenyum. "Terima kasih."
"Sama-sama."
"Yuk cerita barangkali aku bisa bantu," pinta Syahdu.
Leona tampak menarik nafas. "Bagaimana kalau ngomongnya jangan di sini. Kita pindah ke sana saja," ajak Leona.
__ADS_1
"Oke tidak masalah. Yuk!"
Leona mengangguk dan bangkit dari duduknya.
"Ayo Kana!" ajak Leona melihat Kana belum beranjak dari tempat duduknya yang sekarang.
"Baiklah," sahut Kana lalu mengikuti langkah Syahdu dan Leona ke tempat lain.
"Di sini aman, jauh dari orang-orang," ucap Syahdu.
Leona mengangguk lagi.
"Kamu boleh cerita, aku akan menjadi teman curhat yang baik," ucap Syahdu lagi.
Leona pun menarik nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan semuanya.
"Mereka antusias sekali mendengar cerita Leona," ujar Vierdo pada Itnas.
"Kira-kira mereka cerita apa ya Kak?" tanya Itnas penasaran.
"Kayaknya Leona membahas Leon deh. Sudah biarkan saja, Leona itu sebenarnya butuh teman curhat tapi nggak ada yang dia percaya. Kalau aku minta dia bercerita padaku, katanya dia malu. Adikku Keysa satu-satunya orang yang paling dekat dengannya tidak membuat Leona nyaman karena selalu menganjurkan untuk move on dari Leon sedangkan aku tidak tahu masalah. Yang aku tahu hanya Leona suka sama Leon tetapi Leon tidak membalas perasaannya," bebet Vierdo pada Itnas.
"Kasihan ya Kak Leona, saya tahu bagaimana rasanya mencintai yang tak terbalas."
"Jangan bahas cintamu pada Yudha, aku jengah tidak mau mendengarnya," ketus Vierdo.
"Ih sensitif amat." Itnas menoel hidung Vierdo.
"Eh sudah nggak tahan ya pengen nikah?" goda Vierdo.
"Ih nggak lah ngapain terburu-buru," protes Itnas. "Ah sudah ah aku ikut nimbrung kayaknya seru tuh mereka.
"Terserah kamu saja," ucap Vierdo pasrah dirinya kini berjalan mendekati Juno dan Thalita untuk menggoda pengantin baru itu.
Bersambung.
__ADS_1