
Setelah sampai ke rumah sakit dan papa Husein selesai ditangani Vierdo pamit pulang karena mendapat telepon dari kantornya. Namun, sebelum ia pulang ia menyempatkan diri menjenguk Thalita. Bagaimanapun dia adalah sahabat Juno rasanya tidak enak kalau dia langsung pergi setelah membantu Itnas walau panggilan dari kantornya memang mendesak.
Beberapa saat kemudian setelah Vierdo pergi Mama Refi datang. Itnas meminta izin untuk menjenguk Thalita ke kamar rawatnya.
"Ma, Mama jaga Papa dulu ya, aku mau menjenguk Thalita dulu."
"Baiklah," jawab Mama Refi sambil mengangguk.
Itnas lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kamar rawat Thalita.
"Bagaimana keadaannya Jun?" tanyanya pada Juno karena melihat Thalita sudah terlelap.
"Sudah mendingan Nas pelurunya sudah dikeluarkan tadi dan lukanya sudah diobati dan diperban, tapi untuk sementara aku ingin dia dirawat di sini dulu. Untunglah peluru itu tidak mengenai perutnya kalau sampai itu terjadi aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Syukurlah kalau begitu Jun aku keluar dulu ya mau beli makanan kamu mau aku bawakan apa?"
"Terserah kamu lah Nas bawakan juga untuk Thalita ya mungkin dia mau makan saat nanti terbangun."
"Oke siap."
Itnas pun keluar untuk membeli makanan setelah itu menyerahkan bungkusan makanan kepada Juno lalu menghampiri kamar Papa Husein untuk menyerahkan makanannya kepada Mama Refi.
"Kamu nggak makan Nak?" tanya Mama Refi karena melihat Itnas langsung bersiap-siap untuk pergi setelah menyerahkan makanannya pada Mama Refi.
"Tanggung Ma, entar Itnas mau makan siang di kantor saja."
"Hari ini kamu masih mau ngantor?"
"Iya Ma hari ini ada produk yang mau launching jadi aku harus memotret. Papa tidak apa-apa ya. aku tinggal sama Mama?" Beralih bertanya pada papa Husein.
"Iya nggak apa-apa, kamu pergilah!"
"Hati-hati ya, Nak!"
__ADS_1
"Iya Pa."
Itnas beranjak hendak keluar. Namun, segera ditahan oleh Mama Refi.
"Nas apa tidak sebaiknya kamu yang menangani pabrik papamu? Kamu tahu sendiri kan papamu sekarang ini sakit-sakitan."
"Bukannya aku tidak mau Ma tapi kalau sampai aku yang memegangnya pasti Dafa akan lepas tanggung jawab. Dia akan berleha-leha Ma, dia pasti akan merasa bebas dan tidak akan mau memikirkan tanggung jawabnya terhadap pabrik. Mama tahu sendiri kan dia lebih memilih bermain musik daripada belajar tentang perusahaan. Sudah ya Ma aku harus pergi dulu pak Leon sudah nelpon ini dari tadi."
"Baiklah hati-hati ya Nak."
"Iya Ma."
Setelah itu Itnas langsung menelpon taksi online karena dia tidak membawa kendaraan, tidak mungkin pula membawa mobil Mama Refi takutnya mobil itu dibutuhkan oleh mamanya.
Setelah tiba di luar rumah sakit taksi online yang dia pesan sudah menunggunya. Dia langsung masuk dan memerintahkan sang sopir untuk melajukan mobilnya ke perusahaan tempat dia bekerja.
Setelah sampai di kantor dia langsung melakukan tugasnya. Mengambil kamera dan mengambil anggel yang sekiranya bisa mendapatkan gambar lebih bagus. Setelah selesai dia baru bisa bernafas lega.
"Kerja bagus Nas," ucap Leon sambil menepuk bahu Itnas.
Itnas mengangguk. "Terima kasih Pak," jawab Itnas sambil berlalu keluar dari ruangan dan segera turun ke lantai bawah menuju kantin. Perutnya sudah keroncongan minta segera diisi dari tadi.
Hari ini karena tidak ada pekerjaan lain Leon memperbolehkan Itnas pulang terlebih dahulu apalagi Leon tahu papanya Itnas dirawat di rumah sakit.
Setelah pulang, seperti tadi siang dia menaiki taksi online langsung menuju rumah sakit.
Di tengah perjalanan dia melihat seorang lelaki yang bersimbah darah muncul dari balik semak menuju jalanan.
"Pak pelan-pelan sepertinya ada yang membutuhkan pertolongan kita di depan sana!" perintahnya pada sopir taksi.
Sopir taksi pun menurut mulai memelankan laju mobilnya. Itnas mengamati orang tersebut secara seksama lewat kaca mobil.
"Mas Yuda?" Itnas terperangah mengetahui siapa orang yang berjalan tertatih-tatih itu sambil bersimbah darah adalah mantan suaminya sendiri.
__ADS_1
"Pak ayo bantu aku tolong dia!" pintanya pada sopir taksi sambil tangannya meraih gagang pintu mobil untuk membukanya.
"Jangan Neng aku takut itu cuma modus perampokan," cegah pak sopir karena tempat itu biasanya rawan perampokan.
"Tidak Pak itu bukan perampok, itu teman saya," ucap Itnas.
"Apa Neng yakin?" tanya pak sopir masih ragu.
"Iya Pak, ayolah cepetan sepertinya dia sudah kehilangan banyak darah!" Itnas gusar melihat Yudha tiba-tiba pingsan di jalan.
Mendengar perkataan Itnas, pak sopir lalu bergegas menghampiri Itnas yang sudah duduk di samping Yudha dan segera menolong Itnas mengangkat Yudha ke mobil. Setelah sampai ke mobil sopir segera melajukan taksinya ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Itnas khawatir.
"Pasien tertusuk di perutnya dan kehilangan banyak darah oleh karena itu pasien membutuhkan banyak darah. Jadi harus segera dilakukan transfusi darah, tapi sayang tipe golongan darahnya saat ini sedang kosong di rumah sakit ini. Jadi kami masih berusaha mencari di rumah sakit lain dan di PMR semoga saja segera mendapatkan karena keadaan pasien masih kritis. Kemungkinan buruk bisa saja terjadi pasien bisa saja kehilangan nyawanya kalau sampai terlambat sedikitpun," jelas dokter panjang lebar.
"Kalau begitu dokter bisa mengambil darah saya kebetulan darah kami cocok," ujar Itnas.
"Kalau begitu mari ikut saya ke ruangan itu!" tunjuk dokter pada sebuah ruangan.
Itnas pun mengikuti langkah dokter tersebut untuk melakukannya pemeriksaan apakah dirinya memang bisa mendonorkan darahnya.
Setelah melakukan pemeriksaan dan mendonorkan darahnya Itnas langsung menghubungi Mama Refi untuk memberitahukan apa yang terjadi dengan Yudha.
Awalnya Mama Refi protes pada Itnas kenapa dia tidak membiarkan Yudha mati saja karena itu lebih baik agar Yudha tidak akan mengganggu kehidupan keluarganya lagi. Namun, Itnas menjelaskan dia harus menyelamatkan Yudha dengan alasan kemanusiaan. Apalagi Itnas tahu Yudha adalah anak sahabat papanya. Pasti almarhum teman papanya itu akan sedih kalau Yudha meninggal dalam keadaan belum bertobat. Ya Itnas ingin setelah Yudha sadar dari pingsannya dia juga sadar dengan semua kesalahannya.
Setelah meminta izin pada mama Refi akhirnya malam itu Itnas menjaga Yudha di kamar rawat karena tidak ada yang menjaganya. Takut-takut Yudha membutuhkan sesuatu, kebetulan dia sudah tidak punya keluarga atau teman yang mau merawatnya. Bagi Itnas ini adalah perhatian terakhir kali buat seseorang yang pernah menjadi suaminya karena walaupun dulu Yudha tidak menganggap dirinya seperti layaknya seorang istri,
paling tidak dia pernah memberi perhatian padanya dan tidak pernah menyiksanya seperti halnya pada Thalita.
"Mas aku harap kau bisa cepat sembuh dan semoga Tuhan masih memberikanmu waktu untuk bertobat," gumam Itnas kemudian dirinya terlelap dengan posisi masih terduduk di kursi samping tempat tidur Yudha. Sepertinya hari ini menjadi hari yang sangat melelahkan buat Itnas.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komentarnya. Terima kasih🙏.