Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 25. Memeriksa Kandungan


__ADS_3

Meninggalkan Itnas dan Yudha yang sudah sama-sama bernafas lega. Kini kita beralih ke Thalita.


Suara rintihan dan ringisan terdengar dari mulut Thalita saat menyadari seluruh tubuhnya seakan remuk. Pukulan dan tendangan kini seolah menjadi makanannya sehari-hari.


Thalita mengusap perutnya lembut. Dia tidak tega melihat bayinya yang bahkan belum lahir pun menjadi sasaran kemarahan Yudha.


Padahal Thalita tidak berbuat salah dia hanya ke luar sebentar untuk mencari kerja. Bukankah perut laparnya minta diisi? Bukankah bayinya butuh nutrisi? Kalau tidak bekerja darimana dia bisa memenuhi kebutuhannya itu. Sementara Yudha hanya memberinya uang yang bisa dibilang jauh dari kata cukup bahkan dalam hidup sederhana sekalipun. Namun, ternyata tindakannya itu malah memancing kemarahan Yudha hingga membuat tubuhnya babak-belur seperti ini.


"Maafkan ibu yang telah menghadirkan dirimu dengan cara yang salah. Biarkan ibu yang harus menanggung semua kesalahan ibu. Seharusnya kekerasan ayahmu hanya untuk ibu semata tidak boleh dilampiaskan kepadamu juga." Thalita bicara panjang lebar kepada bayi yang masih dalam perutnya seolah-olah bayi tersebut mengerti akan ucapannya.


Dia kemudian bangkit berdiri, "Aku harus ke rumah sakit. Aku harus memeriksakan kandungan ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak baik dengan calon bayiku." Dia bicara sendiri.


Namun, kemudian terduduk kembali ketika mengingat dirinya tidak memiliki uang sepeserpun.


Selang tak begitu lama dia mengingat ATM yang diberikan Juno. Dia mengeluarkannya dari dalam tas. Kemudian dia menimbang-nimbang apakah dia benar-benar akan memakainya atau tidak. Dia merasa tidak berhak memakai uang Juno lagi sedangkan dia tidak pernah tahu kabar orang itu sekarang.


"Apa kabar kamu Mas Juno?'" tanyanya dalam hati.


Dia teringat pada saat pernikahannya dengan Yudha.


Saat itu tubuh Juno luruh ke lantai melihat dia bersanding dengan Yudha. Dia tahu pasti saat itu Juno stres dan sakit hati. Thalita hanya berharap semoga saja Juno bisa melupakan dirinya dengan cepat dan menemukan kekasih sejatinya.


Thalita menghela nafas, "Maafkan aku Mas, aku tidak bisa menolongmu saat itu. Bukannya aku tega tapi Mas Yudha melarangku dan sebagai seorang istri aku harus patuh pada suami."


Setelah lama


menimbang-nimbang akhirnya dia memutuskan memakai uang tersebut dan akan menggantinya setelah dirinya punya uang.


Ia kembali berdiri dan melangkah ke dalam kamarnya. Dia mengambil sweater dan memakainya. Tidak lupa dia mencangklongkan tas di bahu.


Dengan tertatih-tatih dia melangkahkan kaki ke luar rumah.


"Auw." Thalita merasakan sakit yang sangat di betis hingga jalannya terseok-seok dan jatuh.


Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri dan menolong dirinya untuk berdiri. Orang itu memapah Thalita menuju kursi di depan rumahnya. Ketika Thalita mendongakkan wajahnya untuk berterima kasih, dia terkejut ketika menyadari Juno lah yang menolongnya tadi.


Ya selepas mengantarkan Itnas Juno teringat kembali akan tujuannya ke tempat ini sehingga dia langsung memutar balik setirnya untuk kembali ke tempat tujuan semula. Setelah beberapa saat dia menanyakan Thalita kepada warga sekitar tentang Thalita dan mereka tidak ada yang tahu, tiba-tiba melihat seorang wanita terjatuh di depan rumahnya dan dia pun menghampiri untuk menolong.


"Mas Juno."


"Thalita."


Untuk sesaat tatapan mata mereka saling bertemu. Kemudian Thalita yang tersadar memalingkan muka.


"Mas Juno ngapain di sini?"


"Aku sedang ingin menemui seorang teman. Katanya dia tinggal di sini, tetapi setelah aku tanya orang-orang yang tinggal di sini mereka tidak ada yang tahu," bohongnya. Padahal orang yang dicari adalah orang yang ada di depannya kini.


"Memangnya siapa namanya? Mungkin saya kenal."


"Namanya Furqon." Dalam hati dia berdoa agar tidak ada yang bernama Furqon di perumahan ini. Kalaupun ada semoga Thalita tidak mengenalnya.


"Oh maaf aku tidak kenal."

__ADS_1


"Tidak apa-apa biar aku suruh anak buah aku aja nanti."


"Ngomong-ngomong kamu mau kemana? Biar aku antar!"


Thalita menggeleng. "Tidak usah."


"Ayolah kali ini aku antar kamu. Boleh ya? Aku janji nggak bakalan apa-apain kamu kok."


Thalita tetap menggeleng. "Aku sudah bersuami Mas tidak mungkin aku ke luar bareng kamu, takut jadi fitnah."


Raut wajah Juno nampak kecewa, tetapi dia berusaha untuk tetap tersenyum pada Thalita.


"Maaf aku lupa kalau kamu sudah jadi milik orang lain. Kalo begitu aku pergi saja."


Juno melangkahkan kakinya. Namun, baru beberapa langkah Thalita yang merasa tidak enak dengan sikapnya tadi memanggilnya. "Mas Juno, antarkan aku ke rumah sakit!"


Juno membalikkan badan dan dengan senyum manisnya dia kembali menghampiri tempat duduk Thalita. "Kenapa, kamu sakit?"


Untuk kesekian kalinya Thalita menggeleng. "Tidak Mas aku hanya ingin memeriksakan kandunganku."


"Baiklah ayo!"


Ketika melihat Thalita kesusahan untuk berdiri Juno membantu memapah. Namun, ketika dia melihat lebam di kaki dan betis Thalita dia langsung bertanya. "Kamu kenapa kok sampai lebam-lebam seperti itu?"


"Oh itu ... aku tadi terjatuh di kamar mandi." Thalita menjawab dengan suara gugup.


Dan di sinilah mereka sekarang di dalam ruangan dokter kandungan di sebuah rumah sakit ternama di kotanya.


"Iya Dok." Thalita tidak menduga Juno mengakui dirinya sebagai seorang suami. Namun, dia tetap diam tidak mau protes, takutnya kalau dia protes pertanyaan sang dokter akan panjang nantinya.


"Kalo begitu mari Bapak ikut ke dalam," ajak dokter Riri.


"Baik Dok."


Dokter Riri kemudian mempersilahkan Thalita naik ke atas ranjang pemeriksaan dan mengoleskan gel di perutnya tapi sebelum menyingkap dress Thalita dokter Riri sempat meminta maaf kepada Thalita.


"Maaf saya harus menyingkap dressmu ke atas!"


"Iya tidak apa-apa Dok."


Setelah mengoleskan gel di perut Thalita, dokter Riri kemudian meletakkan alat pendeteksi kehamilan atau probe di perut Thalita dan menggerakkannya.


"Bapak dan Ibu bisa melihat bayi anda lewat komputer itu," jelas sang dokter.


Juno yang sedari tadi menatap perut Thalita kini beralih menatap komputer dengan antusias.


"Selamat ya Pak, Bu, bayi anda sehat dan jenis kelaminnya laki-laki."


"Makasih Dok, tapi kok Dokter bisa tahu dia laki-laki?" tanya Juno dengan polosnya.


"Itu kelaminnya sudah kelihatan di komputer." Dokter Riri memperbesar gambar di layar komputernya.


Juno menatap komputer dengan lebih teliti.

__ADS_1


"Iya ya Dok sudah kelihatan." Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tapi kenapa ibunya lebam seperti ini?" tanya dokter Riri ketika menyadari keadaan Thalita.


"Oh itu tadi dia jatuh di kamar mandi Dok."


"Saran saya sebaiknya Bapak jaga ibu dengan baik apalagi ibunya dalam keadaan hamil, takutnya nanti perutnya terbentur dan berpengaruh sama calon dedeknya."


"Iya Dok," jawabnya padahal dia tidak tahu cara menjaga Thalita sedang dia tidak tinggal bersamanya.


Selesai melakukan pemeriksaan Juno membawa Thalita ke sebuah restoran. Awalnya Thalita menolak, tetapi karena Juno memohon dan mengatakan bahwa setelah ini pasti tidak bisa makan bersama lagi akhirnya Thalita luluh. Lagipula dia memang sedang lapar sekarang.


Sambil menunggu pesanan makannya Juno memilih mengobrol bersama Thalita.


"Lit apakah kamu bahagia hidup bersama Yudha?"


"Iya." Mulut Thalita tidak sinkron dengan hati. Mulut berkata iya sedangkan di hati tidak.


"Kamu yakin?"


"Iya," jawab Thalita sambil menunduk.


"Syukurlah kalau begitu, tapi kalau kamu tidak bahagia kembalilah padaku. Aku siap kapan saja menerima kamu." Sontak perkataan Juno ini membuat Thalita jadi gugup.


Dan pembicaraan mereka harus terjeda karena seorang waiters datang dan meletakkan pesanan makan mereka.


"Silahkan dinikmati Pak, Bu!" ucap sang waiters.


"Makasih," jawab keduanya.


Kemudian mereka berdua menikmati makanan. Sekali-kali Juno melirik Thalita yang sedang melahap makanannya. Entah karena kehamilannya atau karena sudah lama tidak mengonsumsi makanan yang enak-enak membuat makan Thalita seperti orang rakus. Juno membiarkan apa saja yang ingin di konsumsi Thalita. Namun, ketika melihat Thalita ingin menambah sambal Juno melarangnya. Dia mendekati Talitha dan mengambil sendok yang sudah berisi sambal sebelum sampai ke piring Thalita.


"Nggak boleh banyak-banyak makan sambal!"


"Emangnya kenapa?" Thalita yang sedari tadi fokus menyantap makanannya terpaksa menoleh ke arah Juno.


"Kata mama kalau orang hamil tidak boleh banyak-banyak makan sambal. Katanya dedeknya kalau lahir nanti bisa belekan."


"Ah mas Juno ada-ada saja." Thalita kembali melanjutkan makannya tanpa sambal.


Tiba-tiba Juno mengusap perut Thalita. Sontak Thalita menghentikan suapannya.


"Dedek baik- baik ya di dalam sana! Dedek tidak boleh nyusahin mommy kalo perlu dedek yang harus nguatin mommy. Abisnya mommy tuh kalau lagi putus asa bisa ngeri, dia bisa memutuskan bunuh diri. Kalo ayah dedek tidak bisa bahagiain dedek dan mommy, dedek bawa aja mommy ke daddy, nanti dedek dan mommy tinggal bareng lagi sama daddy kayak dulu. Daddy janji akan nganggep dedek seperti anak kandungku sendiri." Ucapan Juno panjang lebar sambil mengelus perut Thalita.


Entah mengapa mendengar pernyataan Juno ulu hati Thalita seakan nyeri. Tanpa sadar air matanya meleleh membasahi pipi. Namun, cepat-cepat ia usap sebelum Juno melihatnya.


Tanpa di duga calon bayi tersebut merespon sentuhan tangan Juno.


"Lit dia bergerak," ucap Juno sumringah.


Thalita hanya tersenyum, dia tidak menyangka kalo bayi dalam kandungannya bisa merespon sentuhan Juno bahkan si calon bayi bergerak lembut berbeda kalau dia berada di dekat Yudha bayi tersebut menendang kasar perutnya seolah dia tidak menyukai kehadiran ayahnya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2