Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 45. Heboh


__ADS_3

"Iya Bik sama-sama," jawab Itnas lalu melanjutkan langkah keluar dari kamar rawat Thalita.


Setelah Itnas pergi Thalita langsung bertanya pada bibi. "Jadi bibi tahu dari Mbak Itnas kalau Thalita ada di rumah sakit?"


"Iya tadinya dia cuma mengabarkan kalau kamu luka kena tembak saja. Saat mendengar kabar itu bibi segera mengajak Fadil untuk langsung ke sini," jelas bibi.


"Terus air yang tadi, bibi dapat darimana? Masa bibi sudah punya firasat gitu bahwa Thalita akan melahirkan?" tanya Thalita bingung. Ingin menjenguk dirinya yang kena tembak, tetapi sudah siap dengan air yang sudah dimintai doa kepada pak ustadz untuk mempermudah proses persalinan dirinya.


"Oh itu? Tadi pakai hp itu. Bibi mendadak langsung


menghubungi ustadz saat bibi dan Fadil berada dalam bus karena mendapat telepon lagi dari Itnas. Ustadz minta agar kami meletakkan sebotol air putih yang sudah dibuka tutup botolnya dan ditaruh di dekat hp dan pak ustadz langsung membacakan doa dari sana," beber bibi.


"Aneh ya Bik kirim doa pakai hape," ucap Thalita kemudian terkekeh.


"Iya Kak, Zaman sekarang semua serba canggih. Baca doa pun bisa online," sahut Fadil menimpali dari arah pintu kemudian ikut terkekeh.


Fadil berjalan menuju ke arah Thalita dan ibunya. Setelah sampai ke dekat ibunya ia lalu melihat-lihat bayi Thalita yang ada dalam gendongan ibunya.


"Besar dan sehat ya Kak bayinya, padahal pas hamil Kak Thalita tidak begitu sehat ya," ucap Fadil sambil mengelus pipi keponakannya itu.

__ADS_1


"Siapa bilang dia nggak sehat Fa?Dia itu sehat banget malah. Meskipun dia hamil aku lihat sendiri dia masih bekerja keras untuk memasak dan melayani pelanggan di warung kalian," ujar Juno begitu bangga karena Thalita benar-benar menjadi wanita tangguh saat sedang mengandung putranya. Dia berharap putranya akan menjadi pria yang tangguh nantinya.


"Bukan begitu Bang, maksudku Kak Thalita kan pernah masuk ruang isolasi bersama bayi dalam kandungannya," terang Fadil apa yang dimaksud dirinya mengatakan Thalita tidak begitu sehat.


"Iya-iya kalau itu sih benar. Tahu nggak Lit aku sampai nangis saat kamu harus terkurung di dalam ruangan isolasi. Waktu itu aku merasa nafasku seakan berhenti seketika," ucap Juno dengan ekspresi sedih.


"Nggak usah sedih-sedih Bang, toh Kak Thalita tidak apa-apa sekarang. Kak Thalita baik-baik saja, iya kan Kak?"


"Iya Fadil aku baik-baik saja," sahut Thalita dengan senyuman manisnya.


"Sudah ah jangan dicubit terus nih bayi, entar nangis lagi," protes bibi melihat tangan Fadil yang tidak pernah diam sedari tadi. Selalu saja mengganggu bayi dalam gendongannya.


"Ah ibu pelit sekali sih," protes Fadil.


Beberapa saat kemudian Mama Elvi datang dengan hebohnya.


"Mana cucu Mama? Kamu kenapa nggak bilang-bilang sih Jun bahwa Thalita mau lahiran. Kalau tahu kan mama akan mempersiapkan segalanya. Kapan cucu saya bisa dibawa pulang Dok?" tanya Mama Elvi tidak sabaran.


"Menunggu sampai ibunya sehat Nyonya," jelas dokter kandungan.

__ADS_1


"Kan kasihan kalau harus dipisahkan. Ibunya ada di sini dan bayinya ada di rumah. Nanti susah ngasih ASI-nya," tambah dokter tersebut.


"Memang ibunya tidak diperbolehkan pulang Dok? Apakah parah ya proses persalinan mantu saya tadi saat melahirkan cucuku ini?" Mama Elvi mengambil kembali bayi yang sudah anteng tidur dalam box bayi.


"Ma, itu baru saja ditidurkan kenapa malah digendong lagi sih Ma," protes Juno.


"Biarin Jun orang cucu oma juga mau digendong oma, iya kan Cu?" Mama Elvi berlagak seperti cucunya sudah bisa mengerti ucapannya saja.


Juno hanya menggeleng melihat tingkah sang mama sedangkan Thalita malah tertawa.


Juno mengernyit. "Mengapa kamu tertawa sayang?" tanyanya pada Thalita bingung apakah ada yang salah sehingga membuat calon istrinya itu tertawa sendiri.


"Jangan bilang kakak kesambet," ujar Fadil


"Nggak kok Mas Juno, Fadil, cuma lucu aja tuh mama manggil bayi itu dengan panggilan Cu. Kayak nenek Kabayan di film Upin dan Ipin itu loh."


Tidak hanya Juno dan Fadil yang tertawa mendengar penuturan Thalita tetapi dokter dan suster pun ikut tersenyum.


"Boleh Nyonya. Nyonya Thalita boleh pulang kok, tetapi nanti saja ya saat sudah benar-benar pulih kondisi tubuhnya. Maksudnya saat benar-benar sudah sehat. Namun, untuk sementara jangan banyak bergerak atau berjalan dulu takutnya Nyonya Thalita kurang darah dan akan pusing kalau berjalan. Nanti kalau sudah mendingan boleh bangun untuk mandi wiladah," papar sang dokter.

__ADS_1


"Oh begitu ya Dok?" tanya Mama Elvi tidak mengerti sebab saat melahirkan Juno dulu dirinya tidak lahiran normal tetapi dengan cara operasi.


Bersambung.


__ADS_2