Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 39. Berikanlah Dia Bahagia


__ADS_3

Itnas dan Yudha menoleh bersamaan.


"Vierdo?"


"Kak Vierdo?"


"Maaf saya mengganggu," ucap Vierdo kemudian berbalik ke arah pintu, keluar dan hendak menutup pintu kembali.


Itnas hanya memandang kepergian Vierdo tanpa kata.


"Tunggu!" teriak Yudha membuat Vierdo menghentikan pergerakan tangannya untuk menutup pintu kembali.


Vierdo memandang ke arah Yudha dengan ekspresi yang susah ditebak.


"Kemarilah!" Yudha melambaikan tangan memberi kode agar Vierdo mendekat padanya.


Lelaki itu mengangguk dan berjalan ke arah keduanya.


"Ada apa?" tanya Vierdo dengan ekspresi dingin.


"Mulai sekarang aku titipkan Itnas padamu."


Sontak saja Itnas dan Vierdo terkejut dengan pernyataan Yudha.


"Apa maksudmu? Kau sudah menyerah karena kau sudah tidak bisa membahagiakannya?" Vierdo tersenyum mengejek ke arah Yudha sedangkan Itnas hanya menunduk.


Wanita itu tahu kemana arah pembicaraan Yudha sebenarnya.


"Ah Mas Yudha kenapa kau membuatku malu," batin Itnas.


Yudha memandang mata Vierdo, ada sorot kebencian di sana. Kebencian yang sama seperti tempo hari saat mereka berselisih di sebuah Kafe hanya karena memperebutkan Itnas.


"Kamu benar aku memang tidak bisa membahagiakan Itnas," ujar Yudha membenarkan ucapan Vierdo tadi. Pria itu tampak menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan-lahan.


"Selama Itnas hidup denganku dia tidak pernah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya. Aku selalu mengabaikan dia. Aku hanya suami yang tidak becus. Jangankan nafkah lahir nafkah batin pun aku tidak pernah memberikannya," jelas Yudha.

__ADS_1


"Apa maksudnya?" Perkataan Yudha yang panjang lebar itu hanya satu yang Vierdo tidak paham. Nafkah batin? Benarkah itu tidak pernah Itnas dapatkan dari Yudha. Hal yang mustahil yang bisa dilewatkan oleh sepasang suami istri.


"Aku tahu Itnas itu adalah kekasihmu dulu. Bahkan sejak menikah denganku pun dia masih saja mencintaimu. Maafkan aku yang tidak pernah menolak saat Paman Husein menjodohkan kami. Bagiku itu adalah kesempatan bagiku agar bisa naik jabatan di perusahaan Paman Husein sekaligus agar bisa balas dendam terhadap keluarganya."


Vierdo bingung, pernyataan Yudha terlalu berbelit-belit baginya. Jawaban dari rasa penasarannya tentang nafkah batin tadi belum terjawab malah ditambah tentang balas dendam.


Ada apa ini? Apa yang sebenarnya yang ingin laki-laki ini katakan padaku?


Vierdo menggaruk-garuk kepala. Rasanya sangat sulit untuk mencerna pembicaraan Yudha, lebih sulit daripada hanya sekedar mempelajari proposal di kantor.


"Aku tidak punya banyak waktu, katakan apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan!" Vierdo sudah tidak sabaran lagi.


Itnas hanya bisa bahagia denganmu karena kuyakin dirimu pasti bisa membahagiakannya."


"Hm, sadar juga ternyata kamu sekarang."


"Ya aku memang sudah sadar, sangat sadar malah. Makanya aku ingin kau bisa menerima Itnas dalam hidupmu kembali. Kami sudah bercerai maka menikahlah dengannya setelah masa iddahnya selesai, dan kamu jangan khawatir dia masih ori, belum aku sentuh sedikitpun."


Vierdo menganga saking terkejutnya sedangkan Itnas memalingkan wajah agar tidak terlihat oleh Vierdo karena saat ini rona wajahnya merah padam menahan malu.


"Kau yakin tidak pernah menyentuhnya?" tanya Vierdo tidak yakin. Dia tahu memang Yudha membuat Itnas seolah menjadi istri yang tak dianggap, tapi tidak mungkin sampai sedalam itu, kan? Tidak mungkin Yudha tidak pernah menyentuhnya. Begitulah pikir Vierdo dalam hati.


"Aku berani bersumpah," ucap Yudha dengan lantang.


Kali ini Vierdo berbalik menatap Itnas yang sudah duduk di kursi kamar rawat sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ingin rasanya Itnas melarikan diri sekarang juga.


Bodoh kenapa aku tidak keluar sedari tadi?


"Nanas apa benar yang dikatakan Yudha tadi?"


"Kalau benar kenapa dan kalau tidak kenapa?" Bukannya menjawab Itnas malah mengajukan pertanyaan.


"Semua orang di sini benar-benar aneh. Tiap kali aku bertanya malah disodorkan pertanyaan kembali," keluh Vierdo dalam hati. Tidak Itnas tidak Yudha sama saja, ucapannya membuat Vierdo pusing.


"Ya sudah kalau tidak mau menjawab, Itnas juga tidak akan menjawab," ujar Itnas sambil cemberut.

__ADS_1


"Sama saja sih sebenarnya. Benar nggak benar aku akan tetap menikah denganmu, tetapi kalau benar yang dikatakan dia aku akan sangat berterima kasih padanya karena telah menjaga dirimu untukku," ujar Vierdo sambil menunjuk Yudha.


"Sayangnya semua itu ...." Itnas menggantung ucapannya membuat Vierdo semakin tidak sabar saja ingin mengetahui kebenaran.


"Senang banget ya ngegantung orang, dulu menggantung hubungan sekarang menggantung kalimat," protes Vierdo. Itnas hanya tersenyum tipis.


"Jawab dong!" mohon Vierdo.


"Bukan aku ya, yang menggantung hubungan. Kamu tuh yang meninggalkan aku ke negara luar lalu tidak ada kabar. Padahal aku sudah tanya-tanya teman kamu, tapi mereka tidak ada yang tahu. Padahal waktu itu aku ingin kamu membantuku untuk menghentikan perjodohan yang papa rencanakan."


"Sorry waktu itu aku sedang terkena musibah dan beberapa bulan harus dirawat di rumah sakit. Aku sempat koma juga waktu itu."


"Hah koma?" tanya Itnas kaget.


"Iya aku kecelakaan waktu itu. Ada salah satu temanku yang merasa iri padaku dan berusaha mencelakai ku. Makanya mommy sama papa membawaku ke rumah sakit yang berada di luar kota dan merahasiakan keberadaanku di sana. Tidak ada teman-teman yang tahu. Hanya dosen saja yang mommy beritahu dan meminta mereka untuk merahasiakan keberadaanku di rumah sakit."


"Begitu ya kak? Tapi kenapa nomor Kak Vier tidak bisa dihubungi? Bukankah Mommy Victoria ataupun Keysa bisa menerima teleponku itu kalau saja aktif?"


"Ponselku mungkin saja sudah hancur karena saat kecelakaan itu terjadi, aku sedang menelpon Keysa di sini. Saat mobil itu menabrak mobilku dari samping dengan kencang, aku tidak tahu ponsel itu terlempar ke mana," tutur Vierdo akan kecelakaan yang pernah menimpa dirinya dulu.


"Maafkan aku ya Kak, aku sempat berpikir macam-macam waktu itu karena kamu tidak pernah menghubungi nomorku."


"Iya tidak apa-apa. Kita sama-sama salah kok. Aku tidak menghubungimu setelah sadar dari koma karena tidak punya nomormu lagi. Kamu pun tidak bisa menghubungiku dan malah memilih perjodohan ini. Namun, tidak masalah. Sebesar apapun kesalahan yang kita lakukan dimasa lalu, tetapi kalau Tuhan menakdirkan kita berjodoh kita tetap akan bisa bersatu," ucap Vierdo dengan mantap.


Mata Itnas tampak berkaca-kaca. "Maafkan aku ya Kak, seharusnya Itnas bisa menentang perjodohan itu. Namun, apalah daya melihat papa yang begitu murka dan ingat akan penyakit jantungnya, Itnas menyerah. Itnas pikir Kak Vier juga sudah melupakan Itnas dan sudah ada yang baru di sana."


"Tidak apa-apa Nas. Ini semua mengajarkan kita agar tidak ceroboh dalam bersikap dan mengambil keputusan. Maafkan aku ya yang telah menjudge dirimu sebagai pengkhianat cinta."


"Sudahlah Kak, jangan ingat itu lagi. Aku sudah lama memaafkan kakak."


"Berbahagialah kalian berdua, jadikan masa lalu yang buruk untuk pelajaran kedepannya dalam meniti hidup. Kalau masa lalu yang buruk harus dikenang sebagai cap buruk untuk orangnya maka untuk selamanya tidak akan ada maaf untukku karena aku adalah pria paling buruk di dunia ini," ucap Yudha dengan ekspresi sedih.


"Maka lakukanlah kebaikan agar orang tidak hanya mengenang diri kita sebagai orang yang buruk atau jahat. Bagaimanapun jahatnya dirimu, tetap akan aku ucapkan terima kasih. Terima kasih telah menjaga Nanas-ku. Kalau tidak kau nikahi dulu mungkin dia sudah menikah dengan pria lain dan mungkin saja pernikahan mereka akan bertahan hingga sekarang jika dia adalah pria yang baik. Kalau sampai seperti itu mungkin saja kami tidak akan bisa bersatu lagi," ucap Vierdo panjang lebar mengungkapkan isi hatinya pada Yudha.


"Terima kasih," ucapnya lagi lalu berjalan mendekat ke arah Itnas dan memeluk mantan kekasihnya itu. Salah bukan mantan, tetapi calon istri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2