
"Dasar pria tidak benar ngebut-ngebutan di jalan tidak mengerti bahasa manusia lagi," kesal Syahdu karena laki-laki itu tidak berbalik untuk sekedar meminta maaf.
Syahdu terus melanjutkan langkahnya menyeberang jalan. Dia menghampiri bapak penjual mainan yang mangkal sebentar di pinggir jalan.
"Pak ada mainan yang cocok untuk bayi umur 1 bulan ke atas nggak?"
"Oh ada Neng tinggal pilih aja. Ini ada mainan kerincing," sahut penjualan mainan itu sambil menunjukkan berbagai macam mainan di tangannya.
"Ini yang biasa dan yang ini lengkap dengan lampunya," imbuh penjual itu lagi.
"Yang biasa aja pak jangan yang ada lampunya takut silau nih bayi," kelakar Syahdu.
"Ah si Eneng ada-ada saja," ucap pembeli tersebut. "Pilih yang mana Neng?"
"Yang ini saja Pak, warnanya bagus," sahut Syahdu dan pembeli itupun memberikan mainan yang dipilih Syahdu pada gadis tersebut.
"Bayinya lucu dan tampan Neng, pasti suami si Eneng cakep ya," ujar pembeli tersebut sambil memandang kagum pada ketampanan baby Athar.
Syahdu malah nampak terkekeh.
"Kok malah tertawa sih Neng?" tanya pembeli tersebut heran. Bukannya menjawab Syahdu malah tertawa.
"Ini bukan anak saya Pak, boro-boro punya anak calon pacar aja tidak punya. Ini anak teman saya Pak," ucap Syahdu lalu terkekeh lagi.
"Aih salah ternyata tebakan saya. Ya sudah deh saya doakan biar si Eneng cepat dapat jodoh," ucap pembeli tersebut dengan tulus.
"Amin, amin yang kencang Pak," ucap syahdu penuh harap.
"Ya sudah Pak saya kembali ke kantor ya, ini uangnya." Syahdu menyodorkan uang 50 ribuan kepada penjual mainan tersebut lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Eh Neng tunggu!" panggil penjual mainan tersebut.
Syahdu menoleh. "Iya Pak, ada apa? Oh ya kurang ya pak? Saya lupa tadi bertanya berapa harganya," ucap Syahdu merasa bersalah lalu melangkah kembali ke dekat penjual mainan tersebut.
"Bukan kurang Neng malah lebih banyak," ucap penjual mainan tersebut sambil membuka tas selempang yang ada di perutnya untuk memberikan uang kembalian kepada Syahdu.
"Kok murah banget sih Pak?" tanya Syahdu tak percaya. Dia pikir uang 50 ribuan itu tidak akan dapat mainan sebab sebenarnya tadi dia mau mengambil uang 50 ribuan dua lembar hanya tak sadar yang tertarik cuma satu lembar saja.
"Ini mainan murah Neng bukan mainan mahal kayak di mall-mall," jelas penjual mainan tersebut.
"Ada juga yang mahal tapi yang seperti ini," tunjuk penjual mainan itu kepada model mainan yang lainnya.
oh gitu ya Pak saya tidak pernah membeli mainan sih jadi saya tidak tahu harganya kalau begitu kembaliannya buat bapak saja dan saya permisi ya pak," pamit satu lagi.
"Iya Neng hati-hati semoga rezekinya dilancarkan ya sama Allah."
Saat setelah sampai ke seberang jalan mobil yang hampir menabrak syahdu itu kembali dan berhenti tepat di hadapannya.
"Siapa sih ngagetin saja," protes Syahdu karena mendengar bunyi sepeda itu menjerit dan berhenti mendadak.
Syahdu langsung menoleh dan menatap wajah pria tersebut. "Bikin orang jantungan saja," ucap Syahdu lalu pergi meninggalkan pria tampan yang masih duduk anteng di atas sepeda motornya.
Tanpa banyak bicara lagi syahdu langsung pergi meninggalkan pria itu.
"Eh Nona tunggu dulu!" seru Fikran. Ya, pria yang hampir menabrak Syahdu tadi adalah Fikran teman Itnas yang bekerja sebagai seorang intelegensi di kepolisian. Dia tadi terburu-buru dan hampir menabrak syahdu karena sedang mengincar penjahat.
"Apalagi? Mau menabrak saya lagi?" ketus Syahdu.
"Tidak, sorry tadi tidak sengaja dan kedatangan saya ke sini ingin meminta maaf," jelas Fikran.
__ADS_1
"Maafnya sudah terlambat, kenapa tidak tadi saja langsung balik?" cerocos Syahdu. Dia sudah sangat kesal pada pria itu. Pria yang menyetir motor kebut-kebutan sudah dapat dipastikan pria itu tidak benar menurut Syahdu. Apalagi saat Syahdu melihat anting-anting di telinga pria itu bikin ilfil saja.
"Tuhan saja tidak pernah menolak maaf hambanya. Selagi masih hidup kata maaf tidak terlambat. Kenapa manusia harus sombong seakan mau melebihi Tuhan.?"
Perkataan Fikran membuat Syahdu semakin kesal saja.
"Terserah," katanya kemudian pergi meninggalkan Fikran yang kini sudah turun dari motor dan berdiri mematung memandang kepergian Syahdu.
"Gadis yang menarik, sepertinya boleh juga," gumam Fikran tersenyum manis.
"Gas Mas dia belum punya pacar," ucap penjual mainan yang mendengar perkataan Fikran.
"Bapak kok tahu? Dia janda kah Pak?" tanya Fikran penasaran.
"Bukan Mas dia masih gadis, itu yang digendong adalah anak dari temannya katanya," jelas penjual mainan tersebut membuat Fikran semakin yakin untuk mendekati Syahdu.
"Kesempatan baik," ucap Fikran membuat penjual mainan mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah Mas saya pergi duluan," pamit penjual mainan.
"Iya Pak terima kasih informasinya."
"Sama-sama dan semangat Mas," ucap penjual mainan sambil menunjukkan lengan berototnya. Penjualan itu kemudian mendorong gerobaknya kembali.
Fikran hanya menjawab dengan anggukan dan matanya masih fokus menatap Syahdu yang masuk ke dalam kantor.
"Sepertinya dia bekerja dalam Kantor yang sama dengan Itnas. Nanti deh aku tanyakan dia," gumam Fikran lalu menghidupkan motornya kembali dan pergi dari tempat itu.
Bersambung.
__ADS_1