Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 12. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Ketika hendak mengambil makan tiba-tiba kaki Thalita kesandung. "Maaf Anda tidak apa-apa?" tanya seorang pria sambil membantu membangunkan Thalita.


"Nggak apa-apa kakiku hanya sedikit terkilir."


"Sini saya bantu!" Yudha memapah Thalita dan membantu mendudukkan disalah satu kursi sedangkan Yudha duduk di bawah sambil meraih kaki Thalita serta melepaskan high heelsnya. Yudha kemudian memijit perlahan kemudian menarik kaki tersebut seperti menyentak.


"Auw." Thalita mengaduh kesakitan, tetapi kemudian merasakan sakit di kakinya mulai menghilang.


"Gimana masih sakit?" tanya Yudha.


"Sudah mendingan, makasih ya!"


"Iya sama-sama. Ngomong-ngomong namanya siapa?"


Talita mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Thalita."


Yudha pun menyambut uluran tangan Thalita. "Yudha."


Mereka pun mulai asyik bercerita sambil menikmati hidangan di pesta tersebut tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang memandang tidak suka melihat keakraban diantara mereka.


Ya dia adalah Sauna. Sauna yang mengajak Yudha datang bareng ke pesta tersebut karena kebetulan suami Nana adalah salah satu teman Yudha. Dia berharap Yudha menjadi pasangannya di pesta ini. Namun kenyataannya Thalitalah yang ditemani Yudha. Sauna mengepalkan tangannya.


"Awas ya kamu Thalita!"


Setelah pesta usai Thalita pulang dengan diantar Yudha. Tadinya Yudha ingin langsung mengantar Thalita ke kosannya. Namun, Talitha meminta diantar langsung ke cafe tempatnya bekerja karena semua karyawan sudah berjanji sepulang dari pesta akan langsung ke cafe karena mereka akan buka cafe.


Hari demi hari hubungan Thalita dan Yudha pun semakin dekat hingga suatu hari mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.


Suatu hari ketika Thalita diantar Yudha ke cafe Reihan memergoki mereka. "Lit kamu diantar siapa?"

__ADS_1


"Dia kekasih saya Pak."


"Kekasih. Kamu sudah punya kekasih?" Ada raut kekecewaan di wajah Reihan ketika mengetahui bahwa Thalita sudah punya kekasih. Bagaimana tidak Reihan sebenarnya menyukai Thalita, tetapi dia masih belum yakin akan perasaannya sendiri. Namun ketika dia sudah merasa yakin dan akan mengungkapkan perasaannya dia harus menelan kekecewaan karena ternyata Thalita telah lebih dulu punya kekasih.


"Iya Pak." Thalita hanya mengiyakan sambil mengangguk.


***


Tak terasa sudah tiga bulan Thalita merantau di Jakarta. Hari ini dia mendapat telepon bahwa bapaknya di kampung semakin parah saja penyakitnya. Padahal kata ibu tirinya jadwal cuci darah tidak pernah terlewati karena setiap bulan Thalita tidak pernah lupa untuk mengirimkan uang. Ia sampai rela menghemat pengeluarannya sendiri bahkan hutang kepada Nana pun belum dicicil.


Thalita menghadap Reihan dan meminta izin untuk cuti beberapa hari. "Pak saya izin pulang kampung dulu untuk beberapa hari soalnya bapak saya sakit parah. Nanti kalau urusan saya sudah selesai saya akan bekerja lagi dan untuk gaji Bapak nanti bisa memotongnya sebanyak saya yang tidak masuk."


"Iya kamu boleh mengambil cuti untuk beberapa hari sampai keadaan bapak kamu stabil dan saya tidak akan pernah memotong gaji kamu karena itu kan kepentingan mendesak."


"Terima kasih ya Pak."


"Iya kamu baik-baik di sana dan semoga bapak kamu lekas sembuh."


Selesai berpamitan pada Reihan Thalita kemudian berpamitan kepada teman-temannya yang lain. Semua temannya merasa prihatin dan memeluk Thalita untuk menguatkan. Namun, berbeda dengan Sauna ia menggerakkan tangan seolah mengatakan, "hus-hus pergi sana!"


Thalita meninggalkan kota Jakarta menuju kampung tempat kelahirannya. Ketika menginjakkan kaki di sana ia menarik nafasnya dalam-dalam. Dia benar-benar merindukan kampung halaman itu walaupun belum lama ini dia meninggalkan kampung tersebut. Kesejukan dan keasriannya yang tidak dia temukan di kota Jakarta.


Sesampainya di depan rumah Thalita melihat banyak orang berkumpul. Thalita berlari masuk ke dalam rumah takut sudah terjadi apa-apa dengan bapaknya. Dia bernafas lega setelah melihat ayahnya masih bernafas.


"Bapak Thalita pulang."


Perlahan mata Pak Imran terbuka kemudian mulutnya tersenyum melihat anaknya ada di hadapannya. "Kamu pulang Nak," ucapnya terbata.


"Iya Pak Thalita pulang. Bapak harus sembuh ya!" Jangan sia-siakan pengorbanan Thalita untuk bekerja di kota mencari biaya untuk Bapak."

__ADS_1


"Terima kasih ya Nak atas perjuanganmu tapi maafkan bapak sepertinya bapak sudah tidak sanggup lagi menahan penyakit ini."


"Bapak jangan ngomong begitu. Hanya Bapak yang saya punya di dunia ini, kalau Bapak pergi Thalita sama siapa?" Thalita menangis sambil menciumi tangan bapaknya.


"Bapak akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Nak." Setelah mengatakan itu pak Imran menghembuskan nafas terakhir.


"Bapak! Hiks ... hiks ... hiks." Thalita menangis histeris. Bagaimana tidak ternyata pertemuannya kali ini dengan bapaknya adalah pertemuannya yang terakhir. Thalita menangis dan terus saja menangis. Banyak tetangga dan teman-teman semasa SMU menenangkannya, tetapi tidak berhasil. Thalita terus saja menangis hingga ia pingsan.


Hingga saat Thalita tersadar dari pingsannya ternyata mayat pak Imran sudah siap dikuburkan. Dengan langkah tertatih Thalita mendekati liang kubur bapaknya dan menyaksikan persemayaman terakhir bapaknya itu.


"Bapak semoga kau tenang di sana. Semoga penyakitmu hilang dan semoga engkau diterima di sisiNya." Doa Thalita dalam hati. Kemudian tangisnya pecah kembali, bahkan sampai semua orang kembali ke rumah masing-masing Thalita masih setia menemani makam bapaknya.


Sesuai adat setempat di rumah Thalita diadakannya acara tahlilan selama tujuh malam. Karena ramainya orang-orang yang membantu menyiapkan makanan Thalita bisa melupakan sejenak kesedihannya karena kehilangan sosok seorang bapak.


Setelah tujuh hari sudah terlewati Thalita memilih kembali ke kota dan bekerja di cafe seperti semula. Hubungannya dengan Yudha pun sudah semakin dekat. Sejak kepergiaan bapaknya Thalita tidak pernah lagi mengirim uang ke kampung. Dia memilih menyicil hutangnya kepada Nana.


Tiga bulan telah berlalu. Hutang kepada Nana pun telah lunas. Kini Thalita bisa bernafas lega. Hasil kerjanya kini hanya sebatas dinikmati sendiri.


Di sisi lain Sauna merencanakan sesuatu untuk menjebak Thalita. Ia merayu Yudha untuk mau membawa Thalita ke sebuah club malam.


Yudha pun yang sudah terbiasa nongkrong di club malam menyetujui tanpa ada rasa curiga begitu pun dengan Thalita yang ikut saja ketika diajak ke club.


Sesampainya di sana Yudha langsung menuang wiski ke gelas dan meneguk hingga puas. sedangkan Sauna dan Thalita memesan es jeruk. Entah mengapa mencium aroma wiski Thalita sepertinya mau mual. Dia pamit kepada Yudha dan Sauna untuk ke kamar mandi.


Seperginya Thalita Sauna mencampur obat ke dalam es jeruk Thalita tanpa sepengetahuan Yudha. Dia punya niat jahat ingin menjual Thalita kepada pemilik club tersebut.


Setelah kembali dari toilet Sauna meminta Thalita untuk meminum es jeruknya agar rasa mualnya hilang dan Thalita menuruti nasehat Sauna tanpa rasa curiga sama sekali.


Benar saja setelah meneguk minumannya tubuh Thalita menggelinjing bak cacing kepanasan. Melihat obat sudah bereaksi Sauna memanggil Regan untuk membawa Thalita pergi. Namun sayang ketika Regan menarik tangan Thalita Yudha yang sudah mabuk berat malah menarik tangan Thalita yang satunya dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Jangan macem-macem sama kekasih gue ya! Dia hanya milik gue," kata Yudha dengan suara khas orang mabuk.


Bersambung....


__ADS_2