
Syahdu yang sedang fokus bekerja dengan komputernya mengernyit tatkala menangkap siluet seseorang yang bergerak ke arah tempatnya duduk. Pemasangan dia langsung menghentikan pekerjaannya dan menoleh.
"Eh kamu, aku pikir siapa. Kata Pak Vier kamu tidak masuk hari ini?"
"Enggak jadi Du," sahut Kana sambil meletakkan buket bunga di meja kerjanya sendiri.
"Syukurlah aku pikir kamu sakit, eh itu bunga untuk siapa?" tanya penasaran. Dalam hati Lhasa Kana nekad memberikannya bunga itu dan akan mengungkapkan perasaannya pada Wendi.
"Bisa malu-maluin ini," batin Syahdu.
"Bukan untuk siapa tapi dikasih seseorang," ucap Kana ragu.
"Seseorang siapa?" tanya Syahdu penuh selidik.
"Ini ... ini, dikasih." Kana melirik Gino yang datang bersama Leona.
Syahdu langsung menoleh. "Oh dikasih Gino?" tebak Syahdu kemudian.
Kana hanya mengangguk dan tertunduk.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanya Syahdu heran melihat sikap dan ekspresi wajah Kana yang tidak seperti biasanya.
"Kalau aku sama Gino, kamu tidak apa-apa Di?"
Pertanyaan macam apa ini? Syahdu malah tertawa mendengar pertanyaan Kana yang diucapkan dengan suara kaku.
"Maksudnya?" tanya Syahdu memastikan apa yang sebenarnya ingin dikatakan Kana hari ini.
"Aku juga menyukai Gino dan dia tadi mengatakan akan melamarku. Dia bertanya aku bersedia ataukah tidak."
__ADS_1
"Terus kamu jawab apa?" tanya Syahdu penasaran.
"Aku belum menjawabnya."
"Kenapa? Kalau kamu juga suka kenapa nggak langsung terima aja," protes Syahdu.
"Aku merasa tidak enak padamu sebab kamu juga menyukainya bukan?"
Syahdu menoleh pada Gino yang jaraknya hampir mendekati tempatnya bersama Kana sekarang. Gino pun melihat ke arah Syahdu hingga wajah mereka saling bersitatap.
Gino memandang wajah Syahdu seolah ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan Syahdu pada Kana sedangkan Syahdu langsung melengos melihat Gino menatap dirinya.
"Kan aku sudah bilang, mencintai itu lebih baik daripada dicintai, kecuali hatimu sekuat baja maka cobalah untuk mempertahankan cintamu yang meski tanpa ada balasan. Kalau aku sih nggak Kan, lebih baik hidup sendiri daripada harus memaksakan cintaku pada orang lain."
Mendebarkan ucapan Syahdu, Gino hanya tersenyum ke arah gadis itu seolah ingin menyampaikan terima kasih lewat senyum manisnya itu.
"Ah biasa aja, jangan lebaiy Leona."
"Eh kenapa lebay, benar kok apa yang kamu katakan. Aku sudah merasakan sendiri hal itu, mencintai tanpa dicintai rasanya sakit banget nggak sih?" Leona membayangkan saat-saat dirinya mendekati Leon.
"Bukan hanya penolakan yang aku dapatkan, tapi penghinaan juga. Lebih sakit lagi saat Pak Leon membawa wanita ke hadapanku dan memujinya. Kalau tidak takut dosa dan masuk penjara ingin rasanya ku pites dan kuinjak-injak wanita itu yang mengaku-ngaku kekasih Pak Leon dan malah bergelayut manja dan, bahkan memeluk mesra Pak Leon di hadapanku. Gemes sekali rasanya diriku."
"Tapi sekarang sudah berhasil bukan?"
"Ya tapi dengan penuh perjuangan dan harus merepotkan orang lain juga. Pak Vier sama Keysa itu yang aku repotin terus sampai Keysa ngomong suruh lupakan Pak Leon dan cari yang lain saja."
"Wah hebat juga ya perjuanganmu," ujar Gino.
"Ya begitulah, perjuanganmu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan perjuanganku yang sampai bertahun-tahun. Mencairkan hati Pak Leon yang awalnya sangat membenciku karena dianggap lancang telah berani mengatakan cinta padanya, layaknya berusaha mencairkan balok es di Kutub Utara."
__ADS_1
"Wah perumpamaannya," ucap Syahdu lali terkekeh.
"Ya begitulah. Sudah dulu ya aku mau masuk ke ruangan sekretaris untuk mengambil data-dataku dulu," pamit Leona. Setelah melihat anggukan semua orang, segera ia bergegas dari ruangan kerja Syahdu dan Kana menuju ruangan sekretaris.
Setelah Leona pergi.
"Terima Gino kalau kamu juga mencintainya, atau kalau tidak belajarlah untuk mencintainya. Aku merestui kalian," ucap Syahdu sambil menepuk pundak Kana lalu mengambil berkas yang ada di atas meja.
"Maaf aku akan memberikan laporan ini dulu kepada manager," pamit Syahdu kepada kedua orang yang kini masih sama-sama berdiri dalam ruangan tersebut.
"Du!" panggil Gino saat Syahdu hendak meninggalkan keduanya.
"Ada apa Gin?"
"Terima kasih ya."
"Atas?"
"Pengertian dan dukunganmu pada hubungan kami. Maaf ya aku tidak bisa membalas perasaanmu, bukannya aku tak mau tapi aku tidak mampu."
"No problem, enjoy aja yang penting kalian bahagia."
"Terima kasih ya Du," ucap Kana dan melangkah ke arah Syahdu lalu memeluknya.
"Sama-sama, kalau kamu bahagia akupun turut bahagia. Sudah ya aku harus segera mengantarkan berkas ini seban sudah ditunggu oleh manager.
"Iya."
Bersambung.
__ADS_1