
Setelah semua orang selesai menyanyi mereka semua memesan makanan dan makan bersama.
"Vier nanti sore aku ingin mengajakmu ke Bali untuk menemui orang tua Leona, bisa kan Vier?" tanya Leon serius.
Vierdo hanya mengangguk sebab tidak mungkin menjawab dengan perkataan sebab mulutnya masih penuh dengan makanan dan takut tersedak kalau dipaksakan untuk bicara.
Mendengar Leon mengajaknya bicara buru-buru Vierdo menelan kunyahannya di mulut. "Bicara setelah selesai makan saja ya Leon," ucap Vierdo.
"Baiklah," ucap Leon dan ikut menyuap nasi ke dalam mulutnya sendiri. Semua orang tampak diam tidak ada yang berbicara sedikitpun sebab pada fokus makan.
Setelah selesai makan Vierdo, Leon, dan Leona membahas tentang keinginan Leon tadi untuk mengajak Vierdo ke rumah calon mertuanya sedangkan yang lainnya hanya memilih menjadi pendengar yang baik tanpa mau mengganggu ataupun ikut campur.
"Oke mumpung pekerjaan tidak begitu banyak saya mau aja ikut kalian," ucap Vierdo.
"Nah gitu dong, itu namanya sahabat yang baik," ucap Leon sambil tersenyum manis ke arah Vierdo.
"Hmm, mujinya saat ada maunya saja," keluh Vierdo.
"Iya dong, agar mau ikut," kelakar Leon lalu terkekeh.
"Kamu nggak apa-apa kan Wen kalau seandainya aku belum balik dari Bali? Bisa kan ngehandle pekerjaan tanpa aku?"
__ADS_1
"Beres Pak Vier, kalau sama Wendi mah tidak usah khawatir." Pria itu memang bisa diandalkan bukan hanya sekarang tetapi sejak perusahaan masih dipegang Pak David, papanya Vierdo. Jadi keahlian Wendi tidak perlu diragukan lagi.
"Oke thanks," ucap Vierdo.
"Sama-sama Pak," jawab Wendi.
"Oh ya Nas kamu mau ikut?" Vierdo kini beralih bertanya pada Itnas.
"Nggak lah Kak Vier, Itnas mau fokus kerja aja dulu. Nanti kalau kita nikah pasti Itnas banyak absennya."
"Nggak apa-apa Nas, ini kan tugas pak Leon juga nganterin dia dan Leona ke Bali, iyan Kan Leon?"
"Boleh saja kalau mau. Bawa mereka juga boleh biar kita ramai-ramai ke sananya," saran Leon.
"Nggak boleh kalian harus kerja. Kalau diajak semuanya habis dong karyawan saya," ucap Vierdo tampak memelas.
"Ya cuma 3 orang doang Vier bukan semua karyawan perusahaanmu," protes Leon.
"Cih, mentang-mentang hanya Itnas saja, satu karyawanmu di sini," keluh Vierdo.
"Lagian karyawanku bukan cuma Kana, Syahdu dan Wendi saja sekarang. Leona juga karyawanku loh," ujar Vierdo mengingatkan Leon akan status Leona sekarang.
__ADS_1
"Hehe, iya juga ya aku lupa. Ya sudah lain kali aja aku ngajak kalian ke Bali nya. Setelah aku resmi menikah dengan Leona. Kalian tenang saja, aku yang akan menyiapkan tempat penginapan yang bagus di sana serta akan menyiapkan waktu yang pas biar tidak mengganggu pekerjaan kantor kalian semua." Ide bagus Leon disambut baik oleh semua teman-temannya. Terbukti mereka semua mengangguk setuju.
"Nah kalau begitu aku setuju. Jadi aku sama Thalita bisa ikut kalau begitu. Selain aku bisa tenang karena tidak meninggalkan pekerjaan dan membuatnya terbengkalai. Ada jeda waktu untuk mempersiapkan diri berhubung kami punya baby yang juga harus dibawa," ujar Juno.
"Oke deh kami setuju dengan ide Pak Leon," ucap Syahdu.
"Tapi jangan lupa siapkan pasangan masing-masing agar tidak meleleh melihat kemesraan kami yang punya pasangan halal," goda Leon.
"Cih mentang-mentang sudah punya gebetan," protes Syahdu sambil menelan ludah kemudian cemberut.
"Makanya dari sekarang yang belum punya pasangan silahkan cepat-cepat cari pasangan," ujar Leon lagi kemudian terkekeh.
"Emang cari pasangan seperti cari kelinci saja. Cari-cari di pasar kelinci sudah pasti dapat nah kalau manusia mana bisa seperti itu?" protes Syahdu.
"Bisalah kalau perempuannya pintar," ucap Leon.
"Karena saya tidak pintar maka boleh dong pak Leon yang mencarikan pasangan buat Syahdu. Sepertinya jodoh Syahdu ini masih kecil kayak baby Athar Pak, makanya yang dewasa tidak ada yang mau sama Syahdu," ucap Syahdu memelas.
"Baiklah nanti saya akan kenalkan pada teman saya, siapa tahu kalian berjodoh."
Terserah Bapak saja lah," ucap Syahdu menganggap Leon hanya bercanda, tetapi sebenarnya Leon serius dengan perkataannya.
__ADS_1
Bersambung.