
Setelah menghabiskan sekitar waktu sepuluh menit, kini Syahdu dan Fikran sudah sampai di sebuah salon pemotongan rambut yang begitu terkenal di kalangan para muda-mudi. Namun, sayangnya di tempat itu sudah banyak orang sehingga Fikran harus mengantri.
"Siapa yang mau potong rambut? Mbak atau Mas nya?" Seorang karyawan menyapa keduanya.
"Dia Mas yang mau potong rambut. Kasih model yang keren dan sesuai dengan postur tubuh dan kepalanya ya Mas." Setelah mengucapkan hal itu Syahdu malah tertawa.
"Beres Mbak. Sekarang Mas sama Mbaknya silahkan duduk dulu di kursi tunggu."
Syahdu dan Fikran mengangguk lalu beranjak ke tempat yang pelayan tadi tunjukkan. Mereka berdua lalu duduk di kursi secara berdampingan.
Fikran terlihat menyandarkan bahunya di sandaran kursi sambil melihat ke arah beberapa orang yang sedang dicukur rambutnya sedangkan Syahdu malah memainkan ponsel di tangannya.
"Du menurutmu aku cocoknya pakai gaya rambut apa?" tanya Fikran tanpa mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang sedang dicukupi rambutnya.
Syahdu mengernyit. "Aku mana tahu macam-macam nama gaya rambut Fik."
"Oh." Fikran hanya ber oh ria.
"Kalau ditunjukkan gambar atau foto orang dengan gaya rambut nah itu aku baru paham," ujar Syahdu kemudian.
"Kalau aku dicukur kayak dia bagus nggak ya Du?" Fikran menunjuk ke arah pria di barisan kursi paling kiri yang sedang hampir selesai pemotongan rambutnya.
"Hmm, cocok nggak ya?" Syahdu tampak berpikir keras sambil melihat Fikran dan orang yang ditunjuk Fikran tadi secara bergantian.
"Kayaknya nggak deh Fik. Dia, kan bentuk wajahnya bulat ya cocok. Bagus gitu kelihatannya, tapi bentuk wajah kamu beda dengan dia jadi kayaknya nggak cocok deh sama kamu."
"Terus cocoknya kayak apa dong?"
__ADS_1
"Kayak apa ya? Kayak gaya rambut yang sering dipakai bule-bule Eropa gitu deh kayaknya. Aku nggak ngerti juga tuh mereka kayak gaya apa. Entar tak cari dulu ya di google."
Perkataan Syahdu membuat Fikran tersenyum senang sebab merasa Syahdu perhatian padanya.
"Oke carikan gaya rambut terbaik ya, jangan sampai aku nyesel dan tidak mau potong rambut lagi." Fikran menggoda Syahdu.
"Mas! Mas! Minta poster dong!" Syahdu melambaikan tangan ke arah karyawan yang bertugas hanya sebagai kasir saja di tempat itu.
Fikran mengernyit. Namun, memilih diam.
"Oke Mbak, tunggu sebentar." Karyawan tadi tampak mengambil sesuatu dari dalam laci meja yang ada di sampingnya. Beberapa saat berjalan ke arah Syahdu dengan membawa sebuah buku.
"Ini Mbak bisa dipilih gaya rambut seperti apa yang diinginkan Mas nya. Nanti kalau sudah mendapatkan pilihan terbaik langsung konfirmasi kepada saya."
"Boleh tanya-tanya nggak Mas?"
Syahdu mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Kalau menurut Mas nya gaya rambut yang cocok dengan teman saya ini style apa ya?" tanya Syahdu langsung. Fikran hanya memandang Syahdu tanpa kata.
Ada macam-macam gaya rambut yang bisa dipilih Mbak. Itu gambar yang pertama namanya style bowl cut. Sesuai namanya, ini adalah rambut dengan bentuk seperti mangkuk. Sangat edgy dan cenderung ekstrem, karena potongan ini benar-benar memangkas sisi bagian samping ke bawah dan hanya menyisakan rambut bagian atas." Karyawan itu menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Model ini juga cocok untuk yang punya rambut ikal mengembang, karena hasilnya akan menjadikan penampilan pria lebih klimis."
"Ih ogah ah Mas, aku kalau lihat gaya rambut itu jadi ingat bakso." Syahdu tertawa dan Fikran malah terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Yang kedua ini Mbak namanya Ubdercut. Memang, gaya undercut akan lebih keren jika menggunakan pomade. Akan tetapi, harus membatasi penggunaan pomade, ya, karena pemakaian terlalu sering membuat rambut pria mudah patah! Sepertinya gaya ini cocok deh sama Mas nya."
__ADS_1
Syahdu memandang gambar rambut di dalam buku dan memandang wajah Fikran secara bergantian. Wanita itu membayangkan Fikran dengan gaya rambut seperti gambar dalam buku yang ada di tangannya.
"Kalau yang ketiga ini adalah ...."
"Yang tadi aja Mas, yang undercut kayaknya emang pas buat dia."
Karyawan itu mengangguk.
"Kalau menurutmu bagaimana Fik, bagus nggak?"
"Bagus lah itu kan pilihanmu Du, aku iyain aja deh."
"Jangan gitu lah Fik, kalau gaya ini tidak nyaman denganmu jangan iya-iya aja!"
"Nggak Du aku yakin pilihan kamu yang terbalik."
"Ish, kamu nih ya mulai ngegombal," protes Syahdu.
"Nggak gombal kok, aku jujur loh. Nanti kalau nggak bagus aku langsung gundul aja. Kalau bagus itu akan jadi gayaku seterusnya."
"Mas ayo giliran Mas!" panggil salah seorang tukang cukur yang menjadi karyawan di salon tersebut.
"Aku ke sana dulu ya Du, doakan hasilnya akan baik."
"Pasti."
Fikran langsung bergegas menuju tukang cukur itu dan duduk di salah satu kursi yang ada di barisan paling tengah.
__ADS_1
Bersambung.