Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 47. Sensitif


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Itnas sudah siap dengan pakaian kantor begitupun dengan Vierdo yang sudah siap dengan pakaian dan mobilnya.


Pagi ini karena sudah janjian dengan Vierdo untuk menjenguk Thalita, Itnas tidak membawa mobil melainkan menunggu Vierdo di pintu pagar.


Itnas melirik jam di tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul setengah 6. Namun, belum tampak tanda-tanda kedatangan Vierdo dari arah jalan raya.


"Mana nih Kak Vier kok belum datang juga? Jadi nggak ya rencananya mau ketemu Juno dan Thalita. Jangan-jangan ada rapat lagi di kantor hingga dia dan Pak Wendi harus menyiapkan segalanya dan bahkan Kak Vier lupa dengan rencana kami hari ini," gumam Itnas.


"Ada apa Non?" tegur pak satpam ketika melihat Itnas seperti orang yang gelisah.


"Nggak ada apa-apa sih Pak, cuma hari ini Itnas janjian mau menjenguk seorang teman dengan Kak Vier, tetapi dia kok belum datang juga. Apa tadi Pak satpam sudah melihat Kak Vier tiba di sini?" tanya Itnas barangkali tadi Vierdo ke sini. Namun, pergi lagi setelah melihat Itnas masih belum keluar juga dari dalam rumah. Mungkin Vierdo memutuskan untuk mampir ke tempat lain terlebih dahulu.


"Tidak ada Nona, mungkin memang belum sampai. Nona duduk dan tunggu di sini saja!" Pak satpam melambaikan tangan agar Itnas mendekat dan duduk di dalam pos satpam.


Berbincang-bincang sebentar


sambil menunggu Vierdo.


"Iya juga ya Pak." Itnas baru menyadari kebodohannya yang mana menunggu Vierdo dengan posisi berdiri di depan pintu pagar sedari tadi. Itnas


pun berjalan menuju pos satpam dan duduk bersama pak satpam di salah satu kursi yang kosong.


Beberapa saat kemudian mobil Vierdo terlihat melintas dari arah jalan raya menuju kediaman orang tua Itnas. Wanita itu memang sekarang


berada di rumah kedua orang tuanya karena semalam memilih menginap untuk ikut menjaga sang papa. Antisipasi siapa tahu penyakit papanya kumat lagi.


"Itu dia kayaknya Non," tunjuk pak satpam ke arah mobil berwarna silver yang melaju dengan sedikit lambat dan berjalan mendekat ke arah mereka.


"Sepertinya iya Pak," timpal Itnas begitu sumringah akhirnya Vierdo datang juga.


"Hei sudah siap?" tahta Vierdo tidak turun tetapi berbicara dari kaca mobil yang tampak terbuka.


Itnas hanya menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Ya sudah ayo biar cepat!" Vierdo melambaikan menggerakkan tangan agar Itnas mendekat. Itnas pun berjalan ke arah pintu pagar dan membukanya.


"Saya pergi dulu ya Pak." Itnas pamit dan melambaikan tangan ke arah pak satpam sebagai rasa hormat karena usianya yang lebih tua darinya juga sebagai ungkapan terima kasih telah menemaninya sedari tadi.


"Hati-hati Non."


Pak satpam mengangguk dan Itnas masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terlebih dulu dibukakan oleh Vierdo. Itnas duduk di samping Vierdo dan menyandarkan diri di sandaran sofa mobil.


"Langsung ke rumah sakit atau mampir ke mana dulu?" tanya Vierdo membuka percakapan sambil masih fokus menyetir dan menatap jalanan.


"Langsung saja nggak usah kemana-mana. Setelah ini aku harus kerja Kak. Pak Leon sudah mewanti-wanti agar aku tiba di kantor sebelum jam sembilan pagi. Ada produk yang harus dilaunching malam ini," jelas Itnas.


"Oh gitu ya? Oke kita langsung ke rumah sakit," ucap Vierdo dan langsung tancap gas agar laju mobil lebih kencang dari sebelumnya.


Tidak membutuhkan waktu lama. Setengah jam mereka sudah sampai ke rumah sakit. Setelah turun dari mobil, Itnas langsung menggiring Vierdo ke kamar rawat Thalita.


Dari dalam sana terlihat Juno yang sedang menggendong putra kecilnya sedangkan Thalita tampak duduk sambil makan. Di sampingnya terlihat bibi yang menatap ke arah Thalita dan memberikan nasehat kepada keponakannya itu.


"Kamu harus banyak-banyak makan sayur biar ASI kamu lancar dan jangan suka makan yang panas-panas biar lidah bayi kamu tidak putih-putih," ucap bibi.


"Putih-putih apa sih Bik?" tanya Thalita tidak paham.


"Itu kayak sariawan," jawab sang bibi.


"Oh sariwan." Thalita tampak mengangguk dan melanjutkan makannya kembali.


Semua fokus pada kesibukan masing-masing. Thalita fokus makan, si bibi fokus memberikan nasehat-nasehat lain untuk keponakannya dan Juno fokus pada putra kecilnya. Meskipun bayi kecil itu masih belum tahu apa-apa, tetapi Juno tetap mengajak putranya untuk bicara. Sesekali dia membelai pipi bayinya itu.


Vierdo masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam ataupun kata selamat pagi.


"Jun!" panggil Vierdo sambil menepuk bahu Juno.


"Eh ayam," ucap Juno saking kagetnya. Untung saja dia menggendong erat putra kecilnya kalau tidak bisa saja bayi itu jatuh ke lantai.

__ADS_1


Juno menoleh. "Eh kamu ternyata Vier?"


"Iya aku, Vierdo bukan ayam. Untung tidak manggil aku anjing kalau sampai manggil itu kugetok kepalamu sampai amnesia," protes Vierdo.


"Hehe, kamu sih bikin kaget, aku kan jadi reflek. Makanya jangan suka ngagetin orang entar kalau aku jantungan seperti Om Husein bagaimana? Masa aku harus ganti jantung aku dengan jantung pisang?" Juno tidak mau disalahkan begitu saja Seharusnya dia yang komplin karena Vierdo malah membuatnya hampir jantungan.


"Iya deh sorry. By the way mempan juga ya senjata Lo," goda Vierdo.


"Jangan mulai deh," protes Juno.


"Assalamualaikum," sapa Itnas dan langsung masuk ke dalam setelah sebelumnya sempat bengong melihat perbincangan antara Juno dan Vierdo.


"Waalaikum salam jawab Thalita dan bibi yang langsung menoleh mendengar seseorang mengucapkan salam. Ketika Vierdo masuk mereka malah tidak tahu karena posisi Juno yang berjauhan dengan Thalita.


"Wah Mbak Itnas, ada Mas Vier juga. Maaf aku tidak melihat tadi karena fokus makan," ucap Thalia merasa tidak enak dan langsung menghentikan makannya.


"Sudah lanjutkan saja makannya," suruh Itnas.


"Tapi ...." Thalita merasa tidak sopan jika malah makan ketika ada tamu.


"Sudah tidak apa-apa lanjutkan saja makannya, kami masih mau lihat-lihat bayi kalian ini," sambung Vierdo.


Thalita pun mengangguk dan buru-buru melahap makanan agar cepat habis.


"Lucunya Jun." Vierdo mencubit pipi bayi Juno membuat sang ayah langsung melotot ke arah Vierdo.


"Jangan cubit-cubit, jangan sakiti bayiku," protes Juno akan tindakan Vierdo.


"Lebay Lo," ucap Vierdo pada Juno.


"Biarin kalau suka buat sendiri," ucap Juno lagi.


"Nas kita bikin yuk!" kelakar Vierdo membuat wajah Itnas bersemu merah kembali. Entah kenapa Vierdo sekarang suka menggoda.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong bayi ini kok tidak mirip kamu ya? Jangan-jangan bayi ini tidak suka deh sama ayahnya makanya nggak mau mirip sama kamu," canda Vierdo yang sebenarnya ingin mengejek sahabatnya. Namun, perkataan Vierdo ini justru membuat raut wajah Thalita berubah sedih. Dia mulai ragu lagi apakah anak itu ada anak Juno atau malah anak Yudha.


Bersambung.


__ADS_2