Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 93. Untukmu


__ADS_3

"Kau tahu aku takut saat mendengar kabar ada pesawat yang kecelakaan di Singapura. Kupikir kamu adalah salah satu korbannya," ucap Kana masih dengan ekspresi yang cemberut.


"Oh itu? Saat kecelakaan terjadi saya sudah sampai di rumah. Bagaimana kamu bisa berpikir bahwa aku ada dalam pesawat itu?"


"Iyalah kamu kan bilang mau pulang dua malam yang lalu," ujar Kana.


"Iya saat aku menelpon kamu itu aku sudah ada di bandara dan sudah siap terbang. Mungkin pesawat yang jatuh di Singapura itu adalah pesawat selanjutnya setelah keberangkatan pesawat yang aku tumpangi. Sorry ya aku tidak menelepon kamu pas sampai padahal aku sudah janji mau kabari kamu saat tiba di bandara tanah air. Aku kan nggak tahu bahwa ada pesawat jatuh jadi sengaja nggak ngabari buat kejutan. Kalau seandainya aku mendengarkan berita pasti aku akan memilih mengabari kamu agar dirimu tidak khawatir lagi. Sorry ya aku benar-benar minta maaf sampai membuat kamu tidak bisa tidur semalaman." Gino benar-benar merasa bersalah.


"Nggak apa-apa Gin yang penting aku sudah tahu kamu selamat sekata Aku jadi lega."


Gino mengangguk mendengar perkataan Kana.


"Bentar ya aku mau nelpon mama biar mama menghentikan mencari informasi tentang dirimu dulu."


Kana menepi, mengambil ponselnya dan langsung menelpon sang mama dan berlanjut ke sang papa.


"Nih anak niat banget cari kabar tentang keberadaanku, malah melibatkan orang tuanya lagi." Gino menggelengkan kepala.


"Ternyata dia benar-benar mengkhawatirkan diriku," gumam Gino.


"Sudah," ucap Kana sambil kembali ke sisi Gino.


"Nih untukmu," ucap Gino sambil menyodorkan buket bunga ke tangan Kana.

__ADS_1


"Ini untukku?" tanya Kana tidak percaya.


"Iyalah memang buat siapa lagi?" Gino membalikkan pertanyaan.


"Serius? Kana masih tidak bisa mempercayai semuanya.


"Iya Kan masa aku bercanda sih. Emang kapan aku pernah tidak serius dengan kamu?"


"Terima kasih." Kana mengambil bunga yang disodorkan oleh Gino lalu menciumnya.


"Wangi banget," ucap Kana antuasias.


"Iyalah wangi kayak orang yang memegangnya," goda Gino.


"Ish, selalu gombal," keluh Kana.


Kana hanya menanggapi ucapan Gino dengan senyuman lalu dia mendekap bunga buket yang tadi di ciumnya.


Celepik.


Terdengar suara benda jatuh di lantai dan sepertinya jatuh dari tengah-tengah buket bunga. Kana melihat ke bawah ternyata ada kotak cincin berwarna hitam di bawah sana.


"Gin?" Kana seolah bertanya pada Gino milik siapa itu.

__ADS_1


Tanpa mendengar terlebih dahulu jawaban Gino Kana memungut kotak kecil itu.


"Ini punyamu?" tanya Kana sambil mengulurkan kotak tersebut ke hadapan Gino.


"Ya punyaku tapi untukmu," ujar Gino sambil tersenyum manis. Wajah Kana tampak menahan malu. Gino selalu menggoda dirinya.


"Sini aku yang pasangkan." Gino meraih lagi kotak cincin yang berada di tangan Kana. Membuka dan memperlihatkan cincin yang berkilau itu.


"Ku pasangkan ya?" tanya dengan tangan yang ragu-ragu ingin menyentuh tangan Kana.


"Buat apa?" Kana salah tingkah, tidak tahu harus berkata apa.


"Buat pengikat agar hatimu tidak oleng ke lain hati lagi," ucap Gino dan Kana hanya berdiri membeku. Ternyata Gino menepati perkataanya saat baru sampai di Turki melalui telepon yang mengatakan dia akan melamar Kana.


Meskipun Syahdu sering mengatakan Gino menyukai dirinya, nyatanya Kana tidak pernah menganggap perkataan Syahdu itu serius pun dengan perkataan Gino yang sering menggoda dirinya Kana masih menganggap hanya candaan semata. Namun, kali ini Kana benar-benar percaya bahwa semuanya nyata dan bukan dugaan atau candaan semata.


"Mau ya? Ah kelamaan." Gino segera meraih tangan Kana dan menyelipkan cincin di jari manis Kana lalu menciumi cincin yang ada di tangan gadis tersebut. Sementara Kana tidak menolak sama sekali dan malah masih terdiam.


Prok, prok, prok.


Terdengar suara tepuk tangan dari belakang Kana.


"Cie-cie." Itnas, Leona, dan juga Syahdu muncul dan menggoda mereka. Du belakangnya muncul beberapa karyawan lain yang ikut berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Kayaknya ada yang lamaran mendadak nih," goda Itnas dan wajah Kana semakin memerah sebab malu ternyata apa yang dilakukan dirinya tadi bersama Gino dilihat banyak orang.


Bersambung.


__ADS_2