
"Bohong, kamu bohong, kan?" tanya Thalita dengan suara yang keras.
"Tidak demi Tuhan aku tidak melakukan hal yang kau tuduhkan," sanggah Yudha.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan kalau kau masuk suka berdusta," balas Thalita.
"Aku memang jahat Lit tapi percayalah aku tidak melakukan hal yang senekat itu, kau pikir aku tidak ikut malu kalau sampai video itu tersebar kemana-mana? Mau ditaruh dimana mukaku kalau sampai video itu dilihat oleh orang-orang yang aku kenal?"
Thalita diam sebentar untuk mencerna ucapan Yudha.
"Benarkah bukan kamu yang melakukannya?" tanya Thalita dengan suara yang mulai melemah kini.
"Bukan," sahut Yudha sungguh-sungguh.
"Maafkan aku ya!" lanjutnya
Thalita memandang ke arah Juno yang terlihat mengangguk.
"Baiklah aku maafkan," ucap Thalita sambil menunjuk.
"Terima kasih," ucap Yudha.
"Sudah mengobrolnya?" tanya polisi yang sedari tadi hanya menyaksikan pembicaraan antara Yudha dan orang-orang dalam ruangan tersebut.
"Sudah Pak, cukup. Terima kasih atas waktunya. Sekarang saya siap untuk mempertanggung jawabkan atas semua kesalahanku," ucap Yudha sambil bangkit dari duduknya.
"Terima kasih semuanya telah membuka hati untuk memaafkan segala kesalahanku," ucap Yudha sambil berlalu keluar dari ruang rawat Thalita.
Itnas dan yang lainnya hanya menatap kepergian Yudha dengan tatapan kasihan.
"Hei bagaimana sudah boleh pulang?" tanya Mama Elvi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Siap, cuma menunggu kabar dari Mama. Kenapa tidak menelpon sih? Kenapa harus repot-repot ke sini, kok nggak tunggu di rumah saja?" protes Juno panjang lebar.
"Sudahlah Jun tidak usah banyak protes, kamu tahu mama tuh buru-buru menyiapkan semuanya di rumah karena sudah kangen sama cucu Mama."
"Ckk, mama memang lebay, padahal bentar lagi juga pulang nib baby," protes Juno tentu saja hanya dalam hati karena kalau sampai kedengaran Mama Elvi maka protesnya akan panjang seperti rel kereta api.
__ADS_1
"Sudah yuk kita berkemas," ucap Mama Elvi pada Juno.
"Juno pun berkemas dibantu bibi, Fadil, dan juga Itnas.
Akhirnya hari itu mereka pulang ke rumah Mama Elvi dengan dua mobil. Bibi dan Fadil ikut ke dalam mobil Vierdo sedangkan Thalita, Juno dan Mama Elvi pulang dalam satu mobil yang disopiri oleh sopir keluarga Juno begitupun dengan bayi itu yang kini anteng dalam gendongan Mama Elvi.
Tiga jam berada di jalanan akhirnya mereka sampai ke rumah Juno. Sebenarnya jika tidak macet maka jarak dari rumah sakit ke rumah Juno bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam saja. Namun, karena macet sebab berbarengan dengan orang-orang yang akan pergi ke kantor maka waktunya menjadi dua kali lipat.
Sampai di depan rumah Juno tampak kaget karena mamanya malah menghias rumah dari pintu pagar bukan hanya kamar putranya saja. Bahkan para pembantu berbaris di depan pintu pagar untuk menyambut kedatangan mereka.
"Siapa yang mau nikahin ini Ma?" tanya Juno heran.
"Ini untuk menyambut kedatangan cucu mama," jelas Mama Elvi.
Juno mengacak rambutnya frustasi karena mamanya sangat berlebihan dalam menyambut putranya itu. Hal itu akan menimbulkan tanda tanya dalam masyarakat. Harus menjawab apa Juno jikalau orang-orang yang mengenalnya akan menanyakan kapan dirinya menikah kok sudah punya anak? Bagi Juno tidak apa kalau orang-orang akan mengejek dirinya yang punya anak diluar nikah, tetapi bagaimana dengan Thalita? Dia pasti akan merasa sedih jika aibnya diketahui orang banyak.
"Mama kok berlebihan begini sih? Nggak takut tanggapan orang-orang akan jelek pada kami?" tanya Juno. Yang dimaksud kami oleh Juno adalah Thalita dan dirinya.
"Tenang saja, mama sudah membereskan semuanya," sahut Mama Elvi dengan tenang. Dia sudah mengerti akan kekhawatiran Juno.
"Juno mama tidak bisa merahasiakan tentang cucu mama pada orang-orang, tapi kamu tenang saja mama sudah menceritakan pada orang-orang sebelumnya bahwa kamu sebenarnya sudah menikah satu tahun yang lalu di desa, cuma karena hanya nikah siri jadi kamu tidak membawa istrimu ke sini," jelas Mama Elvi panjang lebar.
"Suka usil sih," protes Itnas.
"Sudah-sudah daripada banyak bicara mending kita turun saja," ajak Mama Elvi karena sekarang mereka semua sudah sampai di garasi rumah.
Mereka pun langsung membuka pintu mobil masing-masing. Setelah mengantarkan bayi Thalita dan Juno ke kamarnya Itnas dan Vierdo langsung pamit pulang karena sama-sama harus ke kantor.
"Terima kasih ya Mbak sudah mau menemani," ucap Thalita.
"Sama-sama, kami pamit ya!"
"Iya Mbak."
"Nggak mau makan-makan dulu Nak Vierdo dan Itnas? Kebetulan Tante tadi sudah menyuruh para pembantu memasak banyak untuk menyambut kedatangan kalian semua ke sini."
"Tidak usah Tante, terima kasih kami buru-buru karena sudah telat ini mau ke kantor," tolak Itnas.
__ADS_1
"Oh ya sudah, kalau begitu terima kasih ya telah menemani Juno dan Thalita."
"Iya Tante sama-sama." Setelah mengatakan itu Vierdo dan Itnas pergi dari rumah Juno.
"Bagaimana suka dengan kamar baby-nya?" Mama Elvi berjalan mendekat dan duduk di samping calon menantunya.
"Bagus kok Tante bagus banget malah."
"Mama, jangan panggil Tante lagi." Mama Elvi mengingatkan.
"Iya Ma."
"Yuk makan bareng mumpung bayi kalian masih tidur," ajak Mama Elvi.
Saya sudah makan tadi Ma," tolak Thalita dengan halus.
"Nggak apa-apa ibu menyusui memang harus makan banyak," ucap Mama Elvi.
"Tapi ...."
"Sudah kalau masih kenyang. Aku tinggal dulu ya untuk menemani bibi sama Fadil makan," pamit Juno terpaksa memotong perkataan Thalita agar mamanya tidak memaksa lagi.
"Ya sudah yuk," ajak Mama Elvi pada Juno, Fadil dan si bibi. Mereka bertiga mengangguk dan bangkit dari duduknya.
"Baiklah kalau kamu masih kenyang biar nanti si mbok saja yang mengantar makanan buat kamu kalau sudah lapar. Bilang ya kalau kamu sudah lapar," ucap Mama Elvi sambil berjalan keluar.
"Iya Ma."
"Eh nitip cucu Mama," ucap Mama Elvi sambil melongo di samping luar pintu.
Juno malah menggeleng melihat tingkah mamanya yang berlebihan.
"Ada-ada saja si Mama padahal tanpa diminta Thalita pun akan menjaga bayinya sendiri," batin Juno.
"Ayo Ma, katanya mau makan!" ajak Juno dengan suara yang sedikit berteriak.
"Oke-oke, ayo."
__ADS_1
Bersambung.