
Satu Minggu lebih sudah berlalu dari pertemuan Vierdo dan teman-temannya di kantor Vierdo. Kini giliran Leon yang mengundang mereka untuk makan bersama.
Kali ini bukan makan bersama di kantin kantor lagi, tetapi di sebuah restoran yang telah direservasi oleh Leon hanya untuk menjamu teman-temannya karena hari ini tepat pada hari Minggu dimana kantor-kantor diliburkan.
Yang hadir bukan hanya teman-teman Vierdo dan Itnas, tetapi semua karyawan di perusahaan Leon pun diharapkan datang di restoran tersebut. Mereka para karyawan yang tidak memiliki acara di luar bersama teman dan keluarga pun memilih hadir di tempat tersebut. Ada pula karyawan yang mengajak temannya yang berasal dari luar kantor karena Leon membebaskan untuk para karyawannya untuk membawa siapa saja termasuk keluarga para karyawan.
Vierdo yang datang bersama Itnas tampak kaget melihat tempat tersebut begitu ramai begitupun dengan Thalita dan Juno. Bahkan restoran itu dihias seperti ada acara saja.
"Ini ada apa sih Mas, kok ramai benar?" tanya Thalita heran.
"Nggak tahu juga Sayang mungkin kebetulan saja," sahut Juno. Mereka pun melangkah masuk ke dalam mencari keberadaan Leon di sana.
"Ayo Vier bareng masuknya," ajak Juno melihat Vierdo dan Itnas yang masih berdiri dengan termangu memandang ke sekeliling ruangan restoran.
"Ah iya ayo," ucap Itnas lalu menggenggam tangan Vierdo dan membawanya ke dalam. Sebab tidak melihat keberadaan Leon di sana akhirnya mereka berempat memutuskan untuk duduk di sebuah kursi dengan meja yang memanjang ditengahnya. Sengaja mereka memilih tempat itu agar nanti bisa duduk bersama-sama dengan sahabatnya yang banyak.
Tidak lama duduk akhirnya Syahdu muncul seorang diri menghampiri tempat Vierdo dan yang lainnya.
"Hai Nas, hai Lit!" sapa Syahdu sambil melambaikan tangan.
"Hai Du," Thalita membalas lambaian tangan Syahdu begitupun dengan Itnas.
Syahdu dengan berjalan cepat menghampiri tempat duduk mereka dan ikut nimbrung duduk diantara mereka.
"Apa kabar Du?" tanya Thalita berbasa-basi padahal sudah tahu Syahdu sehat-sehat saja.
"Di luar sehat Lit didalam sakit," jawab Syahdu membuat Thalita mengernyit tidak mengerti.
"Kau sakit perut?" tanya Thalita penasaran.
Syahdu menggelengkan kepala.
"Punya penyakit dalam yang kronis?" tanya Thalita lagi dengan mimik wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Tidak Lit hanya di sini saja yang sakit," Syahdu menunjuk dadanya sendiri.
"Sakit jantung?" tanya Thalita lagi.
__ADS_1
"Bukan sayang dia sakit hati," ucap Juno yang geli mendengar pertanyaan dari Thalita sedari tadi. Sontak Juno mendapatkan acungan jempol tangan dari Syahdu.
"Oh itu? Bilang kek sedari tadi Du, bikin orang khawatir saja," protes Thalita.
"Kenapa Du? Masih gedeg ya sama ucapanku kemarin-kemarin itu? Sorry ya Du waktu itu aku sedang panik jadi jangan diambil hati ya," mohon Itnas pada Syahdu.
"Nggak usah khawatir Nas, sudah ku maafkan kok," jawab Syahdu.
"Terima kasih," ucap Itnas.
"Eh ngomong-ngomong Kana
mana, tumben kamu nggak datang bareng dia?" tanya Itnas lagi.
"Nggak tahu, tadi aku jemput ke rumahnya, tetapi kata mamanya dia sudah berangkat," ucap Syahdu berbohong padahal ketika dia sampai di depan pagar rumah Kana Syahdu berbalik melihat Kana sudah dijemput oleh Gino, sopir ojek yang beberapa minggu ini ditaksir oleh Syahdu hingga ia sampai bela-belain tidak membawa mobil lagi ketika pergi ke kantor hanya karena ingin melihat pria setiap hari.
"Tumben dia berangkat sendiri biasanya kalau tidak sama kamu dia akan menelpon aku," ucap Itnas heran.
Syahdu hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
Beberapa saat kemudian saat melihat ke arah kaca Thalita melihat karena datang dengan diantar seorang tukang ojek.
"Sama siapa dia?" tanya Itnas heran sebab sepertinya Kana terlihat sudah akrab dengan tukang ojek tersebut. Terbukti sebelum masuk ke dalam restoran Kana tampak berbicara panjang lebar dengan pria tersebut.
"Tanyakan saja sendiri nanti," jawab Syahdu ketus membuat Itnas curiga bahwa keduanya sedang ada masalah sekarang.
"Ada apa sih dengan Syahdu kok aneh banget ya hari ini," batin Itnas.
Perhatian mereka kini beralih pada Kana yang berjalan masuk ke dalam restoran mencari keberadaan Itnas dan kawan-kawan. Berbeda dengan Syahdu yang lebih fokus mengajak baby Athar berbicara. Syahdu jadi senang melihat bayi itu merespon candaannya sehingga terlihat tertawa-tawa.
"Ih lucu banget sih kamu," ucap ucap Syahdu gemas.
"Hai Kan!" sapa Itnas sambil melambaikan tangan ke arah Kana yang tampak
celingak-celinguk mencari para sahabatnya di tengah keadaan yang semakin ramai saja.
"Hei!" Kana membalas lambaian tangan Itnas lalu berlari ke arah Itnas.
__ADS_1
"Sudah ngumpul semua ya, ada apa kok ramai ya?" cerocos Kana.
"Tinggal Leon sama Leona juga si Wendi. Benar-benar tuh mereka ya. Masa yang ngundang belum datang juga," protes Vierdo.
"Dan kami semua nggak tahu kenapa bisa ramai seperti ini. Mungkin karena hari minggu kali," sambung Itnas.
Kana hanya mengangguk lalu bergabung duduk.
"Wah udah semakin pintar baby Athar ya Lit," ucap Kana yang melihat baby Athar sangat ceria dan merespon semua candaan Syahdu.
"Iya Kan," jawab Thalita singkat.
"Du, kapan kamu sampai?" tanya Kana pada Syahdu yang seakan cuek dengan keberadaan dirinya.
"Sudah tadi," jawab Syahdu ketus.
"Oh, sama siapa? Sendirian apa bareng Itnas?" tanya Kana lagi.
"Sendiri lah ngapain mau ganggu momen orang yang lagi berdua dengan pasangan."
Mendengar perkataan Syahdu Kana mengerti bahwa sahabatnya itu sedang kesal padanya. Sebenarnya tadi Kana melihat Syahdu yang ingin menjemput dirinya, tetapi malah berbalik. Padahal saat itu Kana menolak ajakan Gino yang ingin mengantarkan dirinya dan akan pergi bersama Kana saja. Namun, karena Syahdu jadi pergi terpaksa Kana menyanggupi tawaran Gino untuk mengantarkan dirinya sebab takut teman-temannya akan lama menunggu dirinya yang hampir terlambat.
"Soal Gino tadi, sorry terpaksa aku mau pergi dengannya karena jam sudah kepepet," jelas Kana.
"Biarkan saja tidak perlu dijelaskan, toh aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia," ucap Syahdu syok cuek.
Mendengar pembicaraan keduanya Thalita menjadi bingung sedangkan Itnas mengerti bahwa keduanya terlibat permasalahan hanya karena seorang pria.
"Coba kalau ada masalah cerita padaku. Kita kan sahabat dari dulu ya, jangan sampai hanya karena seorang pria kalian
menghancurkan persahabatan kalian yang sudah lama terjalin. Bahkan kalian sudah berteman sebelum kenal denganku," sesal Itnas.
Keduanya hanya terdiam tidak ada yang menanggapi perkataan Itnas.
"Ayo siapa yang mau cerita padaku? Kalau tidak ada ya sudah jangan pernah menganggap aku sebagai sahabat kalian lagi," gertak Itnas dan keduanya hanya saling pandang dengan ekspresi yang masih sama seperti semula yaitu terlihat kesal terutama mimik wajah Syahdu.
Itnas hanya menggeleng dengan sikap keduanya.
__ADS_1
Bersambung.