
"Bagaimana Du, mau nggak?" tanya Leon saat mereka semua pulang dari pernikahan Wendi. Sekarang hanya menyisakan Leon, Leona serta Thalita dan Juno di tempat itu sebab Gino dan Kana sudah pamit terlebih dahulu sedangkan Itnas dan Vierdo tampak mengobrol dengan Gladis dan Wendi di tempat yang lain.
"Mau apa?" Syahdu tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Leon.
"Itu yang tadi, ketemu sama sepupu aku," jawab Leon.
"Hmm, gimana ya?" Syahdu tampak ragu.
"Mau aja lah Du, kali aja cocok," saran Juno.
Syahru diam tidak menanggapi usulan dari Juno.
"Nggak apa Du, nggak ada salahnya kan kamu ketemu sama dia daripada langsung nolak kan nggak enak sama orang. Meskipun seumpama dia bukan tipe kamu ya nggak apa-apa jadikan teman saja. Nggak salah kan menyambung silaturahim? Yang penting kamu jangan pergi sendirian aja, harus ada muhrim yang ngikutin atau jagain kamu, teman juga boleh," saran Thalita panjang lebar.
"Cih sejak kapan istrimu jadi ustadzah Jun pakai harus pakai muhrim segala." Leon terkekeh bukan karena meledek perkataan Thalita cuma merasa tumben saja nasehat Thalita bagus.
"Bukan begitu Leon soalnya aku dah pengalaman pergi berdua sama cowok, dua kali timbul masalah," ujar Thalita mengenang masa lalunya.
Kalau saja dia tidak tinggal berduaan saja dengan Juno pasti dirinya tidak akan pernah hamil di luar nikah. Sesuatu yang amat sangat Thalita sesali karena telah melakukan dosa besar meskipun pada kenyataannya jujur dia sangat menyayangi baby Athar. Kalau waktu bisa diputar Thalita ingin memperbaikinya segalanya. Ingin menghadirkan bayinya itu dengan cara yang benar. Tentu saja hamil saat setelah menikah dengan Juno. Namun, yang paling Thalita sesali kejadian yang telah menimpanya dulu sehingga membuat kejadian yang tidak diinginkannya terjadi antara dirinya dengan Yudha.
Leon yang tidak tahu apa-apa hanya mengernyit dan bertanya, "Memang apa yang telah terjadi padamu?"
"Nggak ada Leon cuma masa lalu yang buruk," sahut Juno.
"Sudah sayang jangan mengingat sesuatu yang sudah lewat. Ambil hikmahnya saja dan yang terpenting jadikan pelajaran agar kedepannya kita jadi lebih baik," pesan Juno sambil mengusap-usap bahu sang istri saat di wajah perempuan itu terlihat raut kesedihan.
"Bukan begitu Mas, aku kalau ingat masa lalu kayak merasa diriku kotor begitu."
__ADS_1
Leona dan Syahdu hanya melihat Thalita dengan bertopang dagu, tidak tahu harus menimpali seperti apa sebab keduanya tidak pernah tahu dengan masa lalu Thalita.
Mungkin diantara sahabatnya hanya Kana dan Itnas yang tahu sebab pernah diceritakan sedangkan Leona dan Syahdu tidak pernah mendesak Thalita untuk bercerita meskipun Thalita sudah pernah berjanji kepada mereka. Syahdu dan Leona tahu seseorang berhak menutup aibnya sendiri dan tidak baik jikalau semua orang harus tahu. Ada saatnya kita tidak harus menceritakan sesuatu yang bersifat privacy meski kepada sahabat sekalipun.
"Tidak ada manusia yang bersih dan suci. Semua manusia pasti punya dosa meskipun kecil sekalipun kecuali para nabi dan rasul yang memang sudah dijaga oleh Allah SWT agar segala tindakannya tidak keluar dari jalur atau bebas dari dosa. Manusia yang baik adalah manusia yang mau mengakui dosa kemudian bertobat dan tidak pernah mengulangi hal buruk yang pernah terjadi di masa lampau. Maaf kalau kehadiran diriku yang membuatmu merasa menjadi wanita paling kotor," ucap Juno di akhir kalimatnya.
"Tidak Mas itu bukan salahmu tapi salahku juga."
"Sudah! Sudah! Aku jadi baper tahu mendengar obrolan kalian berdua sedari tadi. Intinya kita tidak perlu menghakimi diri sendiri yang penting ke depannya harus lebih baik, itu aja," nasehat Leon.
Thalita dan Juno tampak mengangguk.
"Kembali ke topik pembicaraan. Kamu mau nggak Du? Nanti kalau kamu bersedia akan aku kontak langsung dia untuk mengatur kapan dan dimana kalian akan bertemu."
"Gimana ya Leon?" Kana masih tampak ragu-ragu.
"Boleh," jawab Leon.
"Aku juga ikut, boleh nggak sayang," pamit Thalita pada Juno.
"Kalian nih ya senang banget mendedikasikan diri menjadi mak comblang," protes Juno.
"Nggak juga Mas, cuma antisipasi siapa tahu sepupu Leon orangnya jahat. Jadi kalau dia macam-macam sama Syahdu ada aku sama Leona yang akan membela dia," bantah Thalita.
"Iya deh boleh," ucap Juno.
"Ide bagus sih tapi curiganya itu yang tidak baik. Masa sepupuku dibilang orang jahat," protes Leon.
__ADS_1
"Untuk berjaga-jaga Pak," ucap Leona.
"Terus ya panggil bapak sampai jadi suami." Syahdu terkekeh.
"Bukan begitu Leon, kami hanya waspada," sanggah Thalita.
"Ya, ya boleh lah daripada Syahdu tidak mau," ujar Leon. "Gimana Du, kan sudah banyak yang nemenin?"
"Hmm, kalau begitu boleh deh Pak. Nanti telepon saja ya kapan waktunya!"
"Oke siap. Kalau begitu aku balik duluan ya semuanya," pamit Syahdu lalu bangkit dari duduknya.
"Iya hati-hati Du."
Syahdu mengangguk dan melangkah meninggalkan semua sahabatnya.
"Kok kita berasa memang jadi mak comblang ya," tutur Thalita.
"Iya deh kayaknya padahal Syahdu sepertinya tidak mau," sambung Thalita.
"Nggak apa-apa siapa tahu mereka jodoh," ujar Leon.
"Ya bagus dong biar dia tidak jomblo sendirian," imbuh Juno membuat semua orang mengangguk.
"Semoga sepupumu cocok dengan Syahdu ya Leon," ucap Thalita penuh harap.
"Amin," ucap Leon dan Leona serentak.
__ADS_1
Bersambung.