Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 16. I Love You


__ADS_3

Tapi bukannya keluar setelah meletakkan tubuh Thalita dia malah ikut merebahkan dirinya di ranjang tersebut dengan menaruh guling sebagai pembatas. Thalita pun tertidur pulas tanpa sadar tidurnya ada yang menemani.


Tengah malam Juno terjaga dan melihat Thalita tidur membungkuk kedinginan. Mulutnya sampai bergetar dan terdengar suara ringisan. Juno akhirnya menghampiri Thalita.


"Lit bangun, kamu kenapa?"


Dengan mata terpejam Thalita menjawab, "Dingin Mas, dingin sekali."


Juno meraba kening Thalita takutnya dia demam, tetapi ketika di sentuh dahi Thalita malah sedingin es. Memang di luar hujan lebat dan angin pun berhembus kencang sehingga menambah aura dingin di malam itu. Apalagi AC kamar dalam keadaan menyala. Juno beranjak dari duduknya dan mengambil remote.


"Biar aku matikan AC-nya dulu."


Setelah Juno mematikan AC kamar ternyata keadaan Thalita tetap tidak berubah, tetap terlihat kedinginan di bawah selimut. Karena tidak tahu harus berbuat apa akhirnya Juno pun ikut masuk ke dalam selimut.


"Mas kamu mau apa?" tanya Thalita ketika merasa ada pergerakan di dalam selimutnya.


"Nggak mau apa-apa. Sini aku peluk biar sedikit mengurangi kedinginanmu!"


Thalita hanya mengangguk mengiyakan. Juno pun tidur sambil memeluk Thalita dari arah belakang. Satu tangannya mendekap tubuh Thalita sedang tangan yang lain membelai rambutnya.


"Sudah tidur!" perintahnya sambil mengelus-elus rambut Thalita. Karena kehangatan yang disalurkan tubuh Juno akhirnya Thalita tertidur kembali.


Keesokan harinya selesai sarapan Juno pamit pada Thalita. "Aku berangkat ya jaga dirimu baik-baik!"


"Iya. Kamu nggak bawa apa-apa Mas?"


"Baju dan yang lainnya sudah mama siapkan di rumah jadi aku dari sini ke rumah mama dulu abis itu baru berangkat."


"Kalo begitu hati-hati ya!" Sambil mencium punggung tangan Juno sedangkan matanya tampak berkaca-kaca.


Juno menarik Thalita dalam pelukannya. "Jangan sedih aku pasti kembali."


"Aku pasti merindukanmu di sana," bisik Juno di telinga Thalita hingga membuat bulu kuduk Thalita meremang.


"Udah ah nanti kamu telat," kata Thalita sambil melepaskan pelukannya.


Setelah Juno pergi seperti biasa Thalita berangkat ke toko kue Inka dengan menaiki taksi online karena dia menolak ketika Juno ingin menugaskan sopir pribadi untuk mengantar jemput dirinya.


Malam pertama tanpa Juno di apartemen membuat Thalita gelisah. Rasa sepi melanda bahkan dia sampai tidak bisa tidur. Rasa rindu terhadap Juno menderanya padahal baru tadi pagi Juno pergi dia sudah tersiksa. Bagaimana nanti kalo benar-benar sampai tujuh hari, apa yang akan terjadi padanya?


Karena kejadian semalam yang membuatnya tidak bisa tidur Thalita berinisiatif mengajak Inka tinggal bersamanya untuk sementara waktu.


"Ing kamu nginep yuk di apartemen aku. Akhir -akhir ini aku kok ngerasa takut ya tinggal sendiri." Thalita beralasan.


"Kak Thalita penakut ya rupanya, tapi besok aku ada jadwal kuliah Kak. Eh iya besok Kakak ditemani mama ya di toko."


"Ya udah berangkatnya dari sana aja bukannya kampus kamu malah dekat jaraknya dari apartemen aku ketimbang dari rumah kamu?"


"Iya sih tapi nanti aku izin dulu sama mama. Eh itu Kakak nggak apa-apa kan kerjanya sama mama?"


"Nggak apa-apa yang penting tidak sendiri aja."


"Ih. Kakak benar-benar penakut ya!"

__ADS_1


"Bukannya begitu Kakak kan belum paham membuat macam-macam kue takutnya hasilnya nggak sesuai harapan."


Akhirnya setelah mendapat izin dari mamanya Inka menginap di apartemen Thalita. Sesuai kesepakatan Inka akan menginap tujuh hari di sana. Tepatnya sih tujuh malam karena jikalau siang hari kalau tidak di toko Inka berada di kampus. Untuk urusan uang transportasi Thalita yang menanggungnya. Thalita tidak mau merugikan Inka sudah dibuat repot bolak-balik ke toko masak harus keluar duit juga.


Pada malam keenam ketika Thalita dan Inka sedang menyantap hidangan makan malamnya terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa Kak?" tanya Inka penasaran


"Tidak tahu," jawab Thalita sambil mengendikkan bahu dan berdiri untuk membukakan pintu.


Mata Thalita membelalak ketika melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya sekarang.


"Mas Juno, kok sudah pulang? Katanya besok baru pulang?" Padahal hatinya begitu riang.


"Udah selesai kerjaannya. Aku percepat biar bisa ketemu kamu secepatnya. Soalnya aku kangen sama kamu." Sambil merentangkan kedua tangannya.


Thalita pun berhambur ke dalam pelukannya. "Aku juga kangen."


Padahal tidak jelas hubungan keduanya seperti apa. Pacar bukan, sahabat bukan, terus apa ?


"Ekhem. Aku kira siapa tamunya." Kata Inka yang tiba -tiba muncul dari balik pintu.


"Kalian tuh ya mengotori otak anak perawan yang lagi jomblo aja," protes Inka sambil terkekeh.


"Aku rindu kamu. So sweet." Teriaknya sambil berlari ke dalam apartemen.


Kedua orang yang sedang melepas rindu itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala.


Thalita hendak beranjak ke dapur, tetapi tangannya dicekal oleh Juno.


"Ya udah aku buatin kopi aja." Thalita beranjak ke dapur sedang Juno masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi Juno memanggil Inka dan menyuruhnya membeli makanan di restoran yang berada di loby apartemen tersebut. Awalnya Inka menolak, tetapi karena diiming-imingi oleh-oleh dan uangnya dilebihkan akhirnya Inka menurut.


Setelah Inka turun ke bawah Juno mengambil sesuatu dari dalam kopernya.


"Lit sini! Duduk sini!" Dia menepuk sofa di sebelahnya. Setelah Thalita duduk dia berjongkok di depan Thalita sambil memberikan sebuah kotak beludru berwarna merah.


"Apa ini?" tanya Thalita. Dadanya seakan bertalu-talu.


"Bukalah!"


Dengan deg-degan dia membuka kotak tersebut. Wajahnya tampak terkejut ketika tahu di dalam kotak tersebut berisikan cincin berlian.


Indahnya.


Thalita tertegun melihat keindahan di depan matanya.


"Maukah kau menjadi kekasihku?" lanjut Juno.


Thalita semakin tertegun.


"Apakah dia bermimpi?" batinnya. Dia sampai mencubit pipinya sendiri untuk memastikan apakah ini cuma mimpi atau nyata. Untuk sesaat Thalita hanya terdiam.


"Kamu tidak bermimpi," ucap Juno yang melihat gelagat Thalita seolah tidak mempercayai semua ini.

__ADS_1


"Iya aku mau menjadi kekasihmu. Eh, tapi tunggu dulu! sebelum engkau memutuskan untuk menjalin hubungan denganku alangkah baiknya kau tahu masa laluku dahulu. Setelah itu baru kau memutuskan akan melanjutkan atau bahkan mundur."


Juno mengangguk. Akhirnya Thalita pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.


"Ok. Aku nggak keberatan sama masa lalu kamu dan apakah kau juga akan menerimaku jika tahu masa laluku yang lebih kelam darimu?"


Thalita mengangguk. Juno kemudian memasangkan cincin di jari manis Thalita seraya mengecup tangannya sambil berucap, "I love you."


"I love you too," ucap Thalita malu-malu bahkan sekarang tampak rona wajahnya memerah. Akhirnya kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu berpelukan kembali.


"Ekhem, kayaknya aku harus pulang deh daripada jadi obat nyamuk di sini," seru Inka sambil mengulurkan makanan yang ditentengnya pada Juno.


"Silahkan kalau mau pulang," ucap Juno sengaja ingin membuat kesal Inka. Dia memang suka meledek adik sepupunya itu karena kalo Inka cemberut nampak lucu di mata Juno.


"Ih nggak tahu terima kasih sih. Setelah tidak dibutuhkan aku malah di usir."


"Siapa yang ngusir? Orang kamunya yang pengen balik."


"Mas Juno ih jahat," ucap Inka sambil memalingkan muka.


"Pulang sana biar tas brandednya aku kasih sama orang lain aja."


"Hah mas Juno bawa oleh-oleh tas? Mana Mas, mana?" Hilang sudah wajah cemberut berganti wajah ceria nan semangat.


"Bentar aku ambil!" Juno melangkah ke dalam kamar.


"Kok ada dua Mas?"


"Iya yang merah maroon untuk kamu dan yang hitam buat Lita."


"Aku yang hitam aja deh Mas lebih netral."


Juno melirik Thalita dan Thalita pun mengangguk.


"Ya udah deh terserah kamu."


Juno meninggalkan kedua wanita tersebut untuk makan. Setelah makan dia membentangkan karpet bersama kasurnya di depan televisi.


"Mas Juno mau ngapain?" tanya Inka


"Mau tidurlah masak mau mandi di sini."


"Mas Juno tidur di kamar aja biar kami berdua yang tidur di sini," usul Inka.


"Cih mentang-mentang sudah dikasih tas branded," cibir Juno.


"Iyalah Mas anggap aja itu ungkapan terima kasih dari kami."


Juno pun mengambil kesempatan itu karena tubuhnya sudah sangat lelah. Dia masuk ke dalam kamar dan memejamkan matanya tanpa mempedulikan kedua gadis tersebut.


Ralat! yang gadis hanya Inka.


Hari-hari pun berlalu seperti biasa. Setiap malam Juno sudah tidak tidur di depan televisi. Namun tidur di kasur yang sama dengan Thalita dan Thalita pun membiarkan semua itu toh meskipun tidur satu ranjang tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

__ADS_1


Sampai suatu malam Thalita dengan rambut basahnya sehabis keramas menunggu kepulangan Juno.


Bersambung....


__ADS_2