
Ada-ada saja nih Kak Vierdo," ucap Itnas sambil menahan tawanya.
"Menang banyak Lo, Itnas tak pernah kusentuh," ucap Yudha dengan ekspresi memberengut seharusnya dia yang pertama dan Vierdo hanya dapat sisanya begitu pikirnya dalam hati.
Dasar Yudha masih saja berpikir seperti itu.
"Suruh siapa tidak memanfaatkan kesempatan," ujar Vierdo terkekeh.
Yudha hanya terdiam, tak mungkin dia menceritakan aib dirinya pada Itnas dan Vierdo. Itu pasti akan sangat memalukan dan kedua orang yang ada di hadapannya kini bisa saja menertawakan dirinya.
"Itu tandanya Tuhan hanya menciptakan Itnas khusus untukku," tambah Vierdo lagi membuat Yudha hanya mencebik.
"Oh ya, Nas aku kesini mencari mu karena Tante Refi menyuruh menjemputmu ke sini. Paman Husein katanya mau pulang hari ini," tutur Vierdo.
"Kok nggak bilang dari tadi sih Kak? Pasti mama kelamaan menunggu di kamar rawat papa," protes Itnas karena setelah berbicara panjang lebar Vierdo baru mengatakan bahwa Mama Refi mencari dirinya.
"Sorry aku lupa habisnya kalian malah ngajak aku ngomong," ucap Vierdo merasa bersalah.
"Ya sudah Kak Vier aku ke kamar papa dulu ya," pamit Itnas pada Vierdo.
"Mas Yudha tidak apa-apa ya aku tinggal ke kamar rawat papa dulu?" Beralih bertanya pada Yudha.
"Iya nggak apa-apa," ucap Yudha lalu memejamkan mata.
"Aku ikut Nas!" teriak Vierdo karena Itnas sudah melangkah jauh ke luar kamar rawat Yudha.
Itnas menoleh, Vierdo berlari menyusul Itnas dan mereka berdua langsung pergi ke kamar Papa Husein.
Benarkah papa sudah
diperbolehkan pulang oleh dokter Ma?" tanya Itnas pada Mama Refi.
"Iya Nas, kata dokter papa sudah bisa pulang sekarang," jawab Mama Refi.
"Apakah itu artinya Papa sudah sembuh Ma?" tanya Itnas merasa penasaran dengan perkembangan penyakit papanya.
"Keadaan papa sudah mendingan, tapi kalau ditanya sembuh total ya tidak lah Nas. Kata dokter perlu operasi pemasangan ring cincin di jantung papa agar dia bisa sembuh," jelas Mama Refi.
"Kenapa tidak dilakukan Ma, biar papa cepat sembuh?"
"Papa kamu yang tidak mau, Mama sudah lelah memaksanya. Dia takut dengan operasi."
"Papa ngapain tidak mau? Tidak ingin sembuh begitu Pa, sehingga tidak mau dilakukan operasi oleh dokter?"
__ADS_1
"Bukan begitu Nas, tapi papa tidak siap. Biarkanlah papa minum obat saja daripada harus melakukan operasi," bantah Papa Husein.
"Tapi Pa, Papa mau tiap hari tidak lepas dari obat, begitu? Kalau belum sembuh juga, mungkin seumur hidup Papa akan terus mengkonsumsi obat jantung."
"Tidak apa Nas, yang penting tidak kambuh dan tidak dioperasi."
"Ya sudahlah kalau begitu keputusan Papa, itnas bisa apa?"
"Ya sudah Nas bantu bawa papa kamu ke mobil," ucap Mama Refi.
"Iya Ma." Itnas pun mendekat ke arah papa Husein dan membantunya berdiri. Mama Refi sudah siap dengan barang-barang yang harus dibawa pulang.
"Ayo Nas kita pergi sekarang!" ajak Mama Refi.
Itnas pun menuntun Papa Husein menuju mobil diikuti oleh Vierdo dan Mama Refi di belakangnya.
Vierdo meraih barang-barang yang ada di tangan Mama Refi. "Sini Tante biar Vierdo yang bantu bawah tas itu ke dalam mobil."
Mama Refi mengangguk dan menyerahkan barang dan tas di tangannya kepada Vierdo. Dirinya kemudian berjalan menyusul Itnas dan sang suami yang berada jauh di depannya.
Sampai di depan kamar lewat Thalita, Itnas menghentikan langkahnya sejenak.
"Ada apa Nak?" tanya Papa Husein yang kaget karena tiba-tiba saja Itnas berhenti melangkah.
Itnas kaget melihat Juno yang tampak gelisah di kamar Thalita. Juno mondar-mandir tak tentu arah, terkadang mendekat ke arah Thalita dan mengusap perut calon istrinya itu. Terkadang juga menyugar rambutnya dengan kasar. Thalita pun terlihat gelisah di atas ranjang.
"Ada apa ini?" Itnas bergumam.
"Kenapa Nak?"
"Pa, Papa bisa nggak ya pulang sama mama dan Kak Vierdo saja."
Papa Husein mengernyit dan berkata, "Memangnya kenapa?"
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Thalita Pa. Sepertinya Juno juga tidak tahu harus berbuat apa. Itnas harus membantunya," mohon Itnas.
"Baiklah kau masuk saja ke dalam, mungkin mereka membutuhkan pertolongan darimu. Biar papa pulang sama mama saja."
"Baiklah Pa, terimakasih atas pengertiannya. Nanti kalau semua di sini sudah baik-baik saja, Itnas janji akan pulang ke rumah Papa."
Papa Husein mengangguk. Itnas berbisik di telinga Vierdo, menitipkan papanya untuk sementara sampai papa Husein sampai di rumah.
"Kau temani lah mereka biar aku yang jaga Paman sampai kamu kembali," ujar Vierdo.
__ADS_1
"Sampai rumah aja Kak, sebab Kak Vier kan juga harus ke kantor sekarang."
"Tidak apa-apa, tadi aku sudah menelpon Wendi untuk menghandle semua pekerjaanku di kantor. Kau cepatlah masuk!Kasihan Juno sepertinya dia bingung itu." Vierdo berkata sambil memandang Juno dari balik pintu kamar rawat.
"Baiklah terima kasih."
"Ma aku temani Thalita dulu ya," pamitnya pada Mama Refi.
Mama Refi mengangguk dan beralih menuntun Papa Husein. "Ayo Nak Vierdo!"
Vierdo pun mengangguk dan mengikuti langkah Mama Refi keluar dari rumah sakit sedangkan Itnas langsung masuk ke dalam kamar rawat Thalita.
"Ada apa Jun, kenapa kamu panik seperti ini?" tanya Itnas heran. Juno masih saja mondar-mandir seperti setrikaan.
"Aku tidak mengerti Nas, Thalita sedari tadi mengeluhkan sakit perut padahal yang luka kena tembak kan di bahu. Mengapa sakitnya terasa sampai di perut?" Juno semakin panik saja.
Itnas melihat ke arah Thalita. Wanita itu sudah bermandikan keringat.
"Sakit sekali ya Lit?" tanya Itnas meringis mendengar Thalita terus mengadu kesakitan.
"Iya Mbak mules sekali ini, pinggangku juga terasa amat sakit, rasanya aku tak tahan lagi."
Mendengar perkataan mules dan sakit di pinggang Itnas jadi kepikiran sesuatu.
"Belum memberitahukan sama dokter?"
Juno menggeleng. "Belum Nas aku lupa karena saking paniknya."
Itnas tepuk jidat mendengar pengakuan Juno. Dia pikir sudah melapor dokter hanya saja dokternya belum sampai.
"Cepat Jun kamu bilang dokter sana, kalau tidak salah sih prediksiku Thalita ini sudah ingin melahirkan."
"Iyakah Nas? Baik aku segera panggil dokter." Juno pun berlari ke luar kamar rawat dan menemui dokter dan memberitahukan keadaan Thalita sekarang.
"Mana mungkin Mbak Itnas, prediksi dokter masih satu bulan lagi?" Thalita masih saja terlihat ragu.
"Bisa saja kan bayinya mau lahir cepat?"
Thalita mengangguk. Dia yang sudah tidak tahan dengan sakit perut dan pinggangnya akhirnya turun dari ranjang.
Setelah sampai di bawah Thalita duduk berjongkok, berdiri, duduk berjongkok lagi, berdiri lagi sambil menahan ringis. Begitu seterusnya sampai dokter tiba di sampingnya.
"Nyonya, naiklah ke atas ranjang lagi biar saya periksa!" perintah dokter tersebut. Thalita pun mengangguk dan menurut.
__ADS_1
Bersambung....