
Sejak ikut Itnas waktu itu Juno jadi tahu dimana Thalita tinggal dia lalu senantiasa mengawasi kehidupan Thalia. Bahkan dia sampai rela meninggalkan pekerjaannya. Ayahnya yang ingin protes pun akhirnya diam tatkala istrinya menjelaskan bahwa anaknya sedang patah hati dan sekarang sedang mengejar wanita yang dicintainya.
Kedua orang tua Juno sadar bahwa wanita yang dikejar inilah yang bisa menyembuhkan Juno dari penyakit suka bermain wanita. Oleh karena itu mereka membiarkan saja karena orang-orang suruhan mereka mengabarkan bahwa wanita tersebut sudah bercerai dengan suaminya.
Mereka sama sekali tidak keberatan memiliki seorang menantu janda, toh meskipun putranya bujang mereka tahu putranya sudah tidak perjaka apalagi mereka tahu bahwa kedua pasangan itu sebenarnya saling mencintai dan mereka pun dengan lapang hati akan menerima anak dari wanita itu karena mereka memang belum memiliki cucu.
Terpaksa Juno selalu mengawasi Thalita dari jarak jauh karena dia tahu akhir-akhir ini Thalita sedang menghindari dirinya.
Mata Juno tak berhenti berembun melihat wanita yang dicintainya bergerak lincah. Meski dengan perut buncitnya Thalita selalu cekatan melayani pembeli yang memesan masakannya dibantu Fadil. Walaupun sudah ada beberapa karyawan yang membantunya, tetapi Juno melihat Thalita pun sering ikut berkutat di dapur untuk memasak.
Karena merasa kasihan Juno bahkan tidak segan-segan memberikan uang kepada orang-orang yang lewat di tempat itu agar mau membeli makanan yang dijual di warung Thalita.
"Thalita andai kau mau kembali padaku pasti aku akan menjadikanmu ratu dalam hidupku dan tidak akan aku biarkan kau hidup sengsara seperti sekarang," batin Juno.
Namun, sayang Thalita sudah bertekad untuk hidup berdua saja dengan anaknya walau tanpa seorang ayah. Dia siap untuk menjadi ibu sekaligus ayah untuk buah hatinya. Mungkin kehadiran bayi itu ada dengan cara yang salah, tetapi bagaimanapun seorang ibu akan selalu menyayangi anaknya.
Saat setelah menyuguhkan makanan dan minuman kepada pelanggannya Thalita hendak kembali ke dapur. Namun tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa pusing, dadanya pun serasa sesak. Thalita menekan-nekan kepalanya dengan satu tangannya dan memegang dadanya dengan tangan yang lainnya.
Juno yang merasa ada yang tidak beres dengan tubuh Thalita akhirnya berlari ke arahnya. Untung saja dia datang tepat waktu kalau tidak pasti tubuh Thalita sudah terhuyung ke tanah karena orang-orang yang ada di tempat itu sepertinya sedang asyik dengan aktivitasnya sendiri.
"Ada apa Nak apa yang terjadi denganmu?" tanya bibi yang kebetulan menoleh ke arah mereka.
"Sepertinya dia pingsan Bik, bantu aku membawanya ke mobil."
Tanpa bertanya bibi membantu mengangkat tubuh Thalita dan ikut membawanya ke mobil. Fadil yang tersadar dengan keadaan sepupunya akhirnya meninggalkan pekerjaannya dan berlari ke arah mobil.
"Apa yang terjadi sama Mbak Thalita?" tanyanya khawatir.
"Fadil kamu jaga warung saja biar aku sama Bibi yang membawanya ke rumah sakit."
__ADS_1
Fadil mengangguk. "Kabari aku ya Bang keadaan Mbak Thalita nanti."
"Iya pasti." Setelah mengucapkan itu Juno lalu tancap gas membawa Thalita ke rumah sakit.
Sesampainya di sana perawat lalu menerima dan membawa Thalita ke ruang UGD. Setelah memeriksa dokter yang berpakaian APD itu lalu menghampiri keluarganya.
"Anda keluarganya?" tanya sang dokter.
Bibi mengangguk.
"Iya Dok saya suaminya," jawab Juno. Untuk kedua kalinya lelaki itu mengaku sebagai suami Thalita.
"Kalau begitu kalian harus di swab," ucap sang dokter.
"Apa maksud dokter?" tanya Juno tak mengerti apa disaat pandemi seperti sekarang ini semua keluarga pasien pun wajib di swab.
"Apa!" Juno terkejut mendapati keadaan Thalita.
"Dokter serius?"
"Iya Pak dan untuk sementara istri Bapak harus ditempatkan di ruang isolasi."
Juno menarik nafas kasar, rasanya berat untuk menuruti perintah sang dokter kalau saja dia sekarang berada di kota dan berada di rumah sakitnya sendiri dia bisa saja mengatur-ngatur dokternya. Ah tapi bukankah ini demi kebaikan semuanya.
"Apa pasien bisa sembuh Dok?" tanya Juno khawatir.
"Semua pasien bisa sembuh Pak tapi itu dia, tergantung pada kondisi dan pertahanan tubuh pasien sendiri. Yang bisa kami lakukan adalah berusaha, tetapi semua yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa jadi saya harapkan keluarga bantu dengan berdoa."
"Iya Pak itu pasti, lakukan yang terbaik untuk istri saya berapapun biayanya pasti saya tanggung."
__ADS_1
"Itu pasti Pak."
Sedang Juno berbicara dengan dokter bibi hanya diam saja sambil memandangi wajah Juno dia pikir Juno adalah suami Itnas yang bernama Yudha karena memang belum pernah bertemu sekalipun. Ingin rasanya dia mengusir pria itu dari sana mengingat cerita Thalita bahwa lelaki itu sering berlaku kasar terhadapnya. Namun disaat seperti ini kondisinya sangat tidak memungkinkan. Apalagi dia sangat membutuhkan pria ini sekarang untuk menangani keadaan Thalita.
"Tapi kenapa lelaki ini terlihat begitu mengkhawatirkan Thalita," gumamnya dalam hati.
"Mari Pak, Bu, kalian ikut kami untuk di swab!" ajak seorang perawat.
Juno mengangguk. "Tapi apa bisa kami menjenguk pasien nanti?"
"Bisa Pak asal mematuhi peraturan, kalian harus mau memakai APD seperti kami dan satu hal kalian bisa menjaga pasien secara bergantian nantinya kalau tidak tahan dengan pakaian itu."
"Baik Sus." Apapun akan Juno lakukan untuk bisa dekat dengan wanita yang dicintainya walau terhalang pakaian sekalipun.
Sementara seorang suster melakukan swab terhadap bibi dan Juno perawat lainnya memindahkan Thalita ke ruang isolasi. Setelah di tes akhirnya Juno menelpon Fadil untuk mengabarkan keadaan Thalita.
"Apa Bang apa aku tidak salah dengar?" Fadil tidak percaya dengan informasi yang dia terima.
"Kamu tidak salah dengar ini benar. Saya sarankan kamu tutup warung dulu dan mungkin nanti akan ada tim dari rumah sakit yang juga akan memeriksamu."
"Baik Bang."
Setelah menelpon Fadil segera Juno dan bibi mendatangi ruangan Thalita, tapi saat ini dia masih belum diperkenankan masuk karena tim dokter masih memeriksa keadaan Thalita.
Juno yang melihat dari balik kaca hanya bisa mendesah dan berdoa semoga keadaan Thalita dan janinnya baik-baik saja. Entah mengapa Juno merasa dirinya juga sangat menyayangi bayi dalam kandungan Thalita itu.
"Ya Tuhan lindungilah ibu dan anak tersebut dan semoga Engkau menakdirkan dirinya hanya untuk menjadi milikku."
Bersambung....
__ADS_1