
Pagi hari selesai menghabiskan sarapannya Itnas pamit kepada kedua orang tua dan adik-adiknya.
"Pa, Ma, Itnas pamit pulang ya!" Sambil menyalami dan menciumi kedua tangan orang tuanya.
"Dek, Mbak balik dulu ya!" ucapnya kepada si kembar.
"Iya Mbak, hati-hati di jalan," jawab Dilfi dengan muka yang tampak bahagia mungkin karena semalam acaranya bisa dikatakan sukses.
"Sering-sering ya Mbak berkunjung ke sini," sambung Dafa.
"Iya pasti kalau mbak tidak sibuk nanti mbak ke sini lagi. Udah ya aku pergi dulu. Assalamu'alaikum!"
"Waalaikum salam," jawab kedua orang tua dan adik-adiknya.
Sesampainya di rumah ternyata Yudha sudah menunggu. "Darimana saja kamu Dek?"
"Eh Mas Yudha udah pulang, kapan sampainya?"
"Baru saja."
"Aku dari rumah orang tuaku Mas. Kangen sama mereka semua, abisnya sudah lama tidak berkunjung. Mas Yudha apa kabar?"
"Aku baik."
Itnas memasukkan kunci pintu ke lubangnya kemudian setelah pintu terbuka dia mengajak Yudha untuk masuk ke dalam rumah. "Yuk masuk Mas!"
Keduanya pun masuk beriringan.
"Mas Yudha udah makan? Kalau belum aku masakin dulu!"
"Belum. Bolehlah kamu masakin, aku sudah kangen sama masakan kamu."
"Cih kangen sama masakan bukan sama orangnya," protes Itnas dalam hati.
Itnas pun masuk ke dapur untuk memasak. Setelah selesai dia menghidangkannya di meja makan kemudian memanggil Yudha.
"Mas makanannya sudah siap."
Yudha menghampiri meja makan. Itnas mengambilkan nasi dan menaruhnya di piring Yudha. Dia tetap melayani suaminya seperti semula.
"Mau lauk yang mana Mas?"
"Biar aku ambil sendiri. Kamu tidak makan?"
"Aku udah tadi di rumah mama."
__ADS_1
Yudha lalu menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Hampir sepuluh menit Yudha menyelesaikan makannya. Itnas menuangkan air hangat ke dalam gelas dan memberikannya kepada Yudha.
"Cewek Mas apa kabar?" Itnas keceplosan padahal dia memutuskan untuk mencari tahu sendiri hubungannya dengan wanita yang dia lihat terlibat hubungan dengan Yudha di Bali.
Wajah Yudha pias dia berpikir Itnas tahu kalau Yudha suka main perempuan di luar sana.
Melihat Yudha yang nampak terkejut Itnas meralat ucapannya. Dia tidak ingin Yudha curiga.
"Hebat ya dia sudah bisa mendominasi Mas Yudha padahal dia hanya istri kedua. Mas Yudha sampai lupa pulang setelah menikahi dia."
"Oh jadi kamu cemburu nih ceritanya? Aku tinggal di sana beberapa hari ini karena khawatir sama keadaannya yang lagi hamil. Tidak mungkin kan dia aku tinggal sendiri? Apalagi dia sekarang sakit-sakitan karena kehamilannya."
"Oh gitu ya?"
"Iya makanya nanti habis aku makan aku balik lagi ke sana takutnya dia pingsan seperti kemarin pas aku tinggal kerja."
"Makanya Mas sewa pembantu aja supaya tenang ninggalin dia."
"Penginnya sih gitu, tapi kayaknya gajiku tidak cukup untuk bayar asisten rumah tangga. Kamu tahu sendiri kan kalo orang hamil itu makannya banyak belum lagi kebutuhan lainnya seperti susu hamil dan menuruti ngidamnya dia, apalagi dia sering bolak-balik ke rumah sakit karena kandungannya lemah."
"Oh jadi gaji mas Yudha habis semua untuk dia? Tapi kemarin dia ke sini minta jatah sama saya dan menuduh saya yang menghabiskan semua gaji mas Yudha padahal kan mas Yudha tidak pernah ngasih saya. Dia juga mengatakan bahwa mas Yudha tidak pernah ngasih dia uang belanja."
"Apa Thalita kesini. Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu sih."
"Kalo begitu aku pulang dulu, mau menasehati dia supaya tidak bersikap macam-macam."
Setelah Yudha keluar Itnas mengambil jubah hitam dan mengikuti Yudha. Namun, dia tidak memakai kendaraannya sendiri agar Yudha tidak sadar kalau dirinya diikuti.
Kebetulan saat itu terlintas taksi di depan rumah Itnas. Itnas menyetop dan masuk ke dalam taksi tersebut. "Pak tolong ikuti motor yang di depan itu!" Sambil menunjuk motor gede yang dikendarai Yudha.
Sopir taksi mengangguk, "Baik Mbak!"
Setelah Yudha menghentikan motornya kemudian turun Itnas pun meminta sopir taksi untuk berhenti. Melihat Yudha yang memasuki sebuah rumah buru-buru Itnas membayar taksinya.
"Pak berhenti di sini aja. Ini uangnya dan terima kasih Bapak mau membantu saya." Sambil mengulurkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar.
"Ini kebanyakan Mbak," ucap sang sopir sambil mengembalikan satu lembar uang ratusan tersebut, tetapi Itnas menolaknya.
"Buat Bapak saja sebagai tanda terima kasihku." Itnas berlalu meninggalkan sang sopir untuk membuntuti Yudha.
"Terima kasih Mbak," kata sang sopir yang hanya dibalas anggukan oleh Itnas.
Melihat Yudha yang masuk ke dalam rumah dan menutup pintu Itnas memilih menguping lewat jendela. Kebetulan ada sedikit tirai yang terbuka. Alangkah terkejutnya Itnas yang mendapati Thalita di siksa oleh Yudha. Dia di tampar dan di cambuk oleh Yudha.
__ADS_1
"Ampun Mas aku tidak akan ke luar rumah lagi untuk cari kerja tapi kumohon berikan aku nafkah karena anak kita juga butuh makan dan nutrisi!" Terdengar suara Thalita diiringi isak tangis.
"Cih, anak kita. Apa kamu pikir aku percaya kalau anak itu adalah anak kita setelah aku tahu kau pernah berhubungan dengan lelaki brengsek itu?"
Itnas yang menguping pembicaraan mereka menganga saking terkejutnya mendengar bahwa Yudha tidak mengakui bahwa anak yang dikandung Thalita adalah anaknya.
"Kalau kau tidak mengakui kalau ini adalah anakmu mengapa kau menikahiku?" Sepertinya pertanyaan Thalita mewakili keingintahuan Itnas.
''Itu karena aku ingin menyiksamu seperti ini!"
Buk!
Yudha menendang perut Thalita.
"Auw." Thalita mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya. Tangannya pun yang melindungi perutnya ketika ditendang tadi terasa kebas.
"Ampun Mas, ampun! Hiks ...hiks ...hiks." Thalita menangis tersedu-sedu.
"Apa salahku padamu Mas hingga kau tega seperti ini?"
"Kamu mau tahu kesalahanmu? Pertama kau berani berhubungan dengan si brengsek itu. Kedua kau berani mendatangi Itnas."
"Memangnya kenapa kalau aku mendatangi Mbak Itnas?Bukankah aku berhak mendapatkan bagianku? Kalo Mas Yudha memberikan nafkah kepadaku aku tidak mungkin mendatangi dia dan mengemis nafkah bagian dia," keluh Thalita panjang lebar.
Buk!
Kini betis Thalita yang menjadi sasaran. Itnas sampai meringis melihatnya.
"Jangan sampai kamu berani menemui dan mengatai dia lagi. Kamu tahu itu bisa menghancurkan rencana saya?"
Deg.
Kini Jantung Itnas berdetak kencang. Rencana apa yang telah Yudha rencanakan untuk diri dan keluarganya?
Tar!
Kini pot bunga yang pecah karena ulah kaki Itnas saking terkejutnya melihat penampakan di depannya. Melihat Yudha curiga dan celingukan mencari sumber suara pot yang pecah Itnas kemudian berlari secepatnya ke jalan raya.
Tidak mungkin kan dia berbunyi meong seperti kucing kayak di sinetron-sinetron. Bisa ketahuan dia karena dia tidak pandai meniru suara-suara. Apalagi suara hewan. Untung dia sempat memakai jubahnya tadi ketika turun dari taksi sehingga tubuhnya tidak akan mudah dikenali.
Karena paniknya dia menyetop kendaraan apa saja yang lewat waktu itu. Namun tidak ada yang berhenti.
"Stop!" Dia menyetop salah satu mobil mewah yang lewat waktu itu setelah kendaraan lainnya tidak ada yang berhenti.
Kreet.
__ADS_1
Mobil tersebut berhenti mendadak. Tanpa aba-aba Itnas langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam mobil. "Jalan Pak!"
Bersambung....