
Gino tampak berlari-larian mengejar Kana yang berjalan dengan cepat meninggalkan meja dan semua para sahabatnya.
"Kana tunggu!" teriak Gino sambil terus mengejar Kana yang sama sekali tidak mendengarkan panggilannya.
"Kana!" teriak Gino lagi, tetap saja Kana tidak mendengar. Dia tidak mau mendengarkan perkataan apapun saat ini sebab hatinya begitu perih melihat lelaki yang dicintainya itu kini malah bermesraan dengan orang lain.
"Bodoh!" Kana menggerutu, memarahi dirinya sendiri yang lamban dalam bertindak. Seharusnya dia mengatakan perasaannya saat mereka berdua menemani Itnas di rumah sakit waktu itu. Bukankah tidak ada salahnya mengutarakan perasaan terlebih dahulu kepada seorang pria? Namun, waktu itu dia masih punya rasa malu yang tinggi. Egonya mengatakan wanita tidak pantas mengungkapkan perasaan pada seorang pria terlebih dahulu dan sekarang dia hanya bisa menyesali semua itu.
"Akh." Kana terduduk di depan pintu keluar sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Aku benci hidupku!" teriaknya tidak memperdulikan sopir-sopir taksi yang melintas menatap heran ke arahnya.
Gino berjongkok membantu Kana untuk berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Kana, tetapi perempuan itu menghempaskan begitu saja tangan Gino.
"Pergi Gino, biarkan aku sendiri. Hiks ... hiks ... hiks." Kana menangisi nasibnya sendiri.
"Sudahlah Kana, kamu jangan seperti ini. Laki-laki itu banyak di dunia ini, bukan cuma si Wendi saja." Melihat Kana tidak ingin beranjak dari duduknya Gino ikutan duduk di samping gadis itu.
Kana tidak menjawab, dia masih menunduk sambil menangis. Sesekali membelai rambutnya yang panjang sebab menjuntai ke matanya yang lembab karena air mata.
Melihat Kana yang repot dengan rambutnya Gino langsung melambaikan tangan pada seorang pedagang mainan keliling yang kebetulan mangkal di samping gedung tempat acara pernikahan.
"Ada apa Mas?" Pedagang itu menghampiri dan langsung bertanya.
"Jual tali ini?" tanya Gino sambil menunjuk rambut lurus Kana yang kini sudah berantakan.
"Oh ada Mas tunggu sebentar saya ambilkan." Penjual itu kembali ke dagangannya dan mengambil ikat rambut yang mungkin saja cocok dengan permintaan Gino.
"Yang mana Mas?" tanya pedagang itu sambil menunjukan beberapa tali rambut di tangannya.
"Semuanya aja deh Pak."
"Baiklah." Bapak pedagang itu langsung memberikan semua tali rambut di tangannya pada Gino.
"Terima kasih Pak dan ini uangnya." Gino mengulurkan uang satu lembar seratus ribuan ke tangan pedagang tersebut.
__ADS_1
"Wah, nggak ada uang kecilnya Mas, sepertinya saya tidak punya kembaliannya sebab dari pagi belum laku satupun," terang bapak penjual mainan keliling tersebut.
"Ya sudah tidak usah dikembalikan, uang kembaliannya untuk bapak saja."
"Tapi Mas ini terlalu banyak, biar saya cari tukaran dulu di toko-toko."
"Tidak usah pak, kalau saya bilang tidak ya tidak usah," protes Gino.
"Itu berarti rejeki bapak, tidak baik menolak rejeki."
"Baiklah karena Mas nya ikhlas bapak terima saja deh. Terima kasih ya Mas."
"Sama-sama Pak."
Penjual mainan itu kembali ke dagangannya lagi sambil tersenyum senang.
"Lumayan uang ini, selain banyak juga sebagai penglaris." Bapak penjual mainan begitu bahagia dengan uang pemberian Gino sebab dari tadi mangkal memang tidak dapat uang seribu rupiah pun.
Gino kembali fokus menatap Kana yang masih belum berhenti menangis dan mungkin saja Gadis itu tidak melihat tadi ketika pedagang mainan menghampiri Gino di sisinya.
Gino pada Kana.
"Makanya Gin, aku bilang kamu pergi saja untuk apa sih kamu menemaniku di sini? Aku ingin sendiri saja, kamu mengerti tidak?!"
"Aku mengerti, tetapi tidak akan pernah ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini," kekeuh Gino.
"Terserah," ketus Kana lalu menunduk lagi.
Gino membelai rambut Kana lalu mengikatnya pada tali rambut yang sudah dibelinya tadi.
Kana menoleh pada Gino dan lelaki itu hanya tersenyum lalu melepas rambut Kana yang sudah terikat.
"Terima kasih."
Gino hanya menjawab dengan anggukan dan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
__ADS_1
"Gin, apakah kamu pernah patah hati?" tanya Kana kemudian.
"Ya, sekarang malah aku sakit hatinya," jawab Gino enteng.
"Ah kamu bercanda."
"Nggak aku nggak bercanda," jawab Gino serius, tetapi tidak digubris oleh Kana.
"Baru tahu sekarang bagaimana rasanya patah hati bahkan patah hatiku sebelum dia tahu akan perasaanku." Kana mulai terbuka pada Gino akan masalah hatinya meskipun seumpama ditutupi sekalipun Gino juga bakalan tahu dan paham.
Gino hanya mengangguk dan berperan sebagai pendengar yang baik.
"Bahkan aku bertahun-tahun sudah mencintai dirinya dalam diam. Sekarang saat aku mulai ingin mengutarakan perasaanku ternyata dia sudah berdua. Ternyata aku sudah terlambat." Kana menghapus air matanya yang kembali menetes.
"Perkara cinta yang tidak terbalas itu memang menyakitkan Kan, rasanya berat untuk mengikhlaskan, tapi kita harus bijak pula dalam berpikir. Mengapa itu semua sampai terjadi? Bukan perkara waktu yang salah tetapi perkara tidak berjodoh. Mau berapa tahun lamanya kamu menanti pria itu akan tetap menjadi milikmu kalau memang berjodoh."
"Kau benar, mungkin kami memang tidak berjodoh. Kalau memang kami berjodoh sebenarnya ada banyak waktu untuk menyampaikan perasaanku padanya saat kami sedang berdua."
"Ya begitulah, lidah akan sangat kelu walau sebatas hanya ingin mengucapkan kata I love you."
Kana mengangguk.
"Kau tahu apa yang lebih menyiksa dari menyadari cinta kita tidak akan terbalas?"
"Apa Gin?"
"Melihat orang yang kits cintai menangisi orang lain di hadapan kita."
"Maksudmu?" tanya Kana tidak mengerti.
"Kau akan menemukan jawabannya sendiri. Yuk masuk lagi! Tidak enak sama
teman-teman kalau tahu kamu pergi dari pesta pernikahan sahabat sendiri hanya karena rasa cemburu."
Kana mengangguk dan dengan dibantu Gino gadis itu berdiri.
__ADS_1
Bersambung.