
Saat jam makan siang Vierdo menjemput Itnas ke kantor Leon untuk mengajak makan siang bareng.
"Ikut dong!" Leona langsung nimbrung duduk di samping Itnas.
"Makan siang sana sama Leon," goda Vierdo.
"Ah kamu, dia tuh mana mau makan bareng sama aku? Palingan kalau ia karena terpaksa sebab menemani klien makan saja."
"Aku nggak habis pikir bagaimana kalian saat rapat atau menemui klien. Apa kalian saling diam-diaman kayak kemarin di acara pernikahan Juno dan Thalita?" tanya Juno heran. Dimana-mana bos kompak dengan sekretaris, nah Leona dan Leon kayak orang musuhan saja.
"Ngomong sih kenapa tidak, tapi hal penting saja. Hanya sekedar membahas pekerjaan tanpa basa-basi," jelas Leona.
Vierdo menggeleng membayangkan hal itu. Pasti akan terlihat kaku saat mereka bekerja bersama.
"Ya sudah yuk katanya mau makan siang, entar keburu jam istirahatnya hilang," ajak Itnas pada Vierdo.
"Oke aku permisi dulu," ucap Leona lalu melenggang pergi.
"Eh, eh katanya mau ikut?" tanya Itnas melihat Leona berlalu begitu saja.
Leona menoleh. "Memang boleh?" tanyanya.
Vierdo mengernyit meminta penjelasan pada Itnas.
"Boleh sekalian nanti aku telepon teman-teman untuk makan bareng saja," ucap Itnas pada Leona sekaligus pada Vierdo.
"Memang boleh Kak?" Kini Leona bertanya pada Vierdo.
"Kalau dia mengizinkan apa boleh buat," ucap Vierdo pasrah sambil mengangkat kedua tangannya.
"Oke deh terima kasih," ucap Leona tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Aku telepon teman-teman dulu ya biar langsung menunggu di restoran langganan kami," ucap Itnas dijawab anggukan Leona dan Vierdo sementara mereka sambil berjalan ke arah mobil Vierdo yang terparkir.
"Bagaimana sudah siap?" tanya Vierdo setelah mereka semua sudah duduk di dalam mobil.
"Siap," jawab keduanya serentak.
Mobil pun meluncur di jalanan menuju sebuah restoran. Sampai di sana sudah ada Kana dan Syahdu yang menunggu.
"Hai!" Syahdu melambaikan tangan ke arah Itnas dan Leona. Keduanya membalas dengan lambaian tangan pula dan berjalan mendekat.
"Ayo duduk di sana, aku sudah memesankan menu," ucap Syahdu kemudian sambil menggiring ketiganya ke sebuah kursi.
"Awas kalau tidak enak nanti kamu yang bayar," protes Vierdo karena Kana dan Syahdu main memesankan saja makanan untuk dirinya.
"Kami sudah memesan sesuai makanan favorit Itnas kalau Pak Vier tidak suka ya berarti Pak Vier tidak sehati dong," ujar Syahdu menggoda Vierdo lalu tertawa cekikikan.
"Awas ada lalat masuk," goda Itnas.
"Nggak akan, lalat tuh sukanya sama yang bau-bau. Nah mulutku selalu wangi mana mungkin mereka betah masuk ke dalam," sahut Syahdu.
"Tenang kan pak bos nya bersama kita jadi akan ditoleransi," ucap Syahdu seenaknya berkata.
"Mana boleh, nanti ditiru karyawan lain," ucap Vierdo. "Nanti kalau sampai telat balik ke kantor gaji kalian aku potong."
"Nah, kan yang ngajak calon istri pak bos. Jadi kalau telat jangan salahkan kami tapi salahkan dia." Kana menunjuk Itnas.
"Kalian enak kalau telat pak bos ada disini bisa memaklumi. Nah aku bisa sampai dua hari didiemin oleh pak bos," keluh Leona.
"Bagus dong berarti nggak bakal diperintah-perintah. Kan pak bos malas ngomong." Tanggapan Kana membuat Itnas geleng-geleng kepala.
"Lah iya, kan? Kana tuh benar," timpal Syahdu.
__ADS_1
"Kalian nggak tahu aja kayak apa Pak Leon. Dia tuh orangnya gila kerja. Meskipun nggak ngomong langsung dia tuh pasti menyuruh asistennya untuk memerintah. Sama Itnas aja yang nggak kayak gitu."
"Ais jangan-jangan pak Leon ada hati dong sama Itnas," goda Syahdu membuat Vierdo melotot tidak suka ke arahnya.
"Ah nggak itu karena pekerjaanku sih yang kadang dibutuhkan dan kadang tidak. Namun, tetap saja dia akan marah kalau sampai kau mengulur waktu tanpa alasan sedangkan produk akan segera dilaunching. Aku menangnya tuh karena pak Leon bersahabat dengan kak Vierdo," terang Itnas.
"Eh tapi kamu kenapa sih kok Pak Leon sampai bersikap cuek padamu?" tanya Itnas penasaran.
"Itu karena dia pernah bersikap centil pada pak Leon," jelas Syahdu dan langsung menutup mulutnya.
"Maaf keceplosan," sesalnya meminta maaf pada Leona.
"Tidak apa, beritahu saja kita kan sekarang bersahabat. Jadi sudah sebaiknya kan terbuka satu sama lain?"
Semua orang yang hadir mengangguk.
"Nanti saja ceritanya kita makan dulu yuk. Leona kalau tidak mau biar saya pesankan makanan yang lain," ujar Kana.
"Tidak perlu menunya sudah enak kok," sahut Leona dan mereka makan bersama.
"Leona bagaimana kalau kamu sama Lala tukeran tempat kerja?" tanya Vierdo menawarkan.
"Maksudnya?" tanya Leona tidak paham. Dia juga tidak tahu siapa itu Lala.
"Lala tuh sekretaris di kantorku nanti saya pindah ke kantor Leon dan kamu menjadi sekretaris di kantorku saja."
"Boleh kalau pak Leon mengizinkan."
"Tenang biar saya yang akan menyampaikan ini pada Leon."
"Baiklah Kak terima kasih," ucap Leona.
__ADS_1
"Sama-sama," jawab Vierdo.
Bersambung.