Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 15. Tinggal Bersama


__ADS_3

"Nama saya Juliano panggil saja Juno!" Sambil menerima uluran tangan Thalita dan keduanya pun tertawa karena merasa lucu.


"Eh tapi aku panggil Mas saja ya soalnya kayaknya kamu lebih dewasa deh dari aku."


"Terserah kamu aja deh gimana enaknya aja."


Tak berapa lama pelayan datang membawakan pesanan mereka lebih tepatnya pesanan Juno karena ketika melihat menu yang dipesan Juno muka Thalita tampak pucat.


"Kenapa?" tanya Juno ketika melihat ekspresi yang tidak enak di wajah Thalita.


Dengan gugup Thalita menjawab. "Aku tidak suka makanan itu." Pasalnya tadi dia mengatakan bisa makan apa aja.


"Maksudnya?"


"Aku tidak makan lele," katanya sambil memandang geli pada makanan di depannya.


"Katanya tadi bisa makan apa aja yang penting halal?" Sifat jahilnya muncul padahal tadi dia juga memesan ayam rica-rica bakar dan dendeng balado malah menyuruh makanan lele yang diantar lebih dulu.


"Padahal itu makanan enak lho," godanya.


Thalita hanya menggeleng dan bersamaan dengan itu pelayan membawakan pesanan Juno yang lain.


"Ih ngeselin. Ku kira hanya menu ini yang dipesannya." gumaman kecil yang masih di dengar Juno.


"Kenapa? Ada yang kurang?"


"Nggak sih cuma biasanya kalo aku makan ayam-ayam biasanya nggak pernah absen tuh yang namanya lalapan di banyakin kemanginya. Uh enaknya!"


"Kenapa nggak pesan aja?"


"Emang boleh?"


Tanpa menjawab Juno malah memanggil pelayan yang sudah berjalan menjauh dari meja mereka. "Mbak pesan lalapan ya. Jangan lupa banyakin kemanginya!"


"Baik Pak!"


Setelah selesai berbelanja dan menghabiskan makan siangnya Juno mengantar Thalita kembali ke apartemen sedang dia pamit untuk kembali ke kantornya.


Setelah Juno pergi, Thalita menata belanjaannya dan memasukkan bahan-bahan seperti ikan, daging, sayur dan buah-buahan ke dalam kulkas. Setelah semua beres ditata dia beralih untuk memasak. Ketika mengupas bawang ia teringat dengan pekerjaannya di cafe. Baru kemarin dia masih bekerja tetapi sekarang sepi, begitulah yang dia rasakan kini. Seharusnya sekarang dia sedang bersenda gurau bersama teman-temannya di cafe sambil membuatkan menu pesanan pelanggan. Ya walaupun dia bukan koki tetapi dia sering membantu sang koki di sana karena pegawai di cafe tersebut memang dianjurkan untuk tahu memasak sehingga pegawai di sana banyak yang pintar memasak.


Kali ini dia memilih memasak makanan khas Jawa Timur. Ya dia memilih memasak nasi rawon ketika tidak sengaja matanya tadi menangkap belanjaannya yang terdiri dari kentang, daging ,tauge dan terasi.


"Beres." Katanya setelah daging yang dicampur kentang itu masak. Kuah pun sudah mendidih. Dia kemudian mengambil beras dan mencucinya serta memasukkan ke dalam magic com. Setelah memencet tombol cook dia beranjak dari dapur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi dia menyalakan televisi untuk menghilangkan kebosanan mengusir sepi. Karena asyik menonton TV hingga tak terasa sore pun datang begitu cepatnya.


Tok tok tok.


Terdengar pintu diketuk.


Dengan malas Thalita beranjak dari sofa di depan televisi dan membuka pintu.


"Mas ada apa kok ke sini lagi?" tegurnya karena yang dilihat di depan pintu adalah Juno yang masih memakai setelan jas kerjanya.


"Emang nggak boleh?" Inikan apartemen aku?" kelakarnya.


"Bolehlah," jawabnya datar. Pantaskah dia melarang sedangkan yang menumpang adalah dirinya sendiri.


"Nanti malam aku tidur di sini."


"Hah." Thalita terhenyak, pasalnya di apartemen ini kan cuma ada satu kamar dan bukankah kata Juno apartemen ini biasanya tidak dia tempati, tetapi kenapa setelah Thalita menempatinya dia pun ingin menempatinya.

__ADS_1


Juno yang melihat raut wajah Thalita yang nampak khawatir menenangkannya. "Tenang aku bukan orang jahat kok dan aku nanti bakalan tidur di sofa depan televisi dan kamu bisa mengunci kamar kalau takut padaku!"


"Iya nggak apa-apa. Sana mandi dulu biar ku siapkan makan! Eh kamu mau makan apa?"


"Apa aja. Aku bisa makan apa aja yang penting halal," katanya meniru ucapan Thalita tadi siang sambil terkekeh.


"Eh bisa minta tolong siapkan aku baju ganti nggak?"


"Bisa." Thalita menghampiri walk in closet dan mengambil baju rumahan untuk Juno. Entah mengapa meskipun apartemen ini katanya jarang ia gunakan, akan tetapi ternyata baju Juno yang ada di sini bisa di bilang banyak.


Thalita meletakkan baju tersebut di atas ranjang kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Tidak menunggu lama Juno dengan pakaian santainya setelah mandi menghampiri Thalita di meja makan. "Asyik berasa kayak punya istri," cicitnya pada diri sendiri ketika melihat makanan sudah terhidang di meja.


"Masak apa?" tanyanya kemudian.


"Oh rawon," jawabnya sendiri setelah melihat makanan yang telah siap di meja makan.


"Emang kamu berasal dari Jatim ya?" tebaknya menarik kesimpulan hanya karena makanan yang dimasak.


"Iya kok kamu tahu?"


"Tuh masakan kamu!" tunjuknya pada makanan yang tersaji di meja makan.


"Oh, nggak kok itu aku malah belajar ketika bekerja di cafe."


"Emang kamu pernah kerja di cafe?"


"Hem," jawabnya karena malas mengingat semuanya.


"Kenapa berhenti?" Yang diajak bicara malah tidak mengerti bahwa jawaban hem-nya adalah pertanda dia malas membahas itu semua.


"Aku boleh kerja nggak?" Mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Nggak tahu masih mau cari."


"Nggak boleh!" Malah menyodorkan kartu ATM.


"Apa ini?" Masih bertanya juga walaupun sudah tahu kartu yang dipegangnya kartu ATM.


"Itu buat kamu. Jadi tiap bulan aku akan transfer ke rekening itu."


"Untuk?"


"Ya untuk kebutuhan Kamu lah. Jadi kamu nggak usah kerja. Anggap aja kamu kerja sama aku yaitu merawat apartemen ini. Karena semenjak ada kamu kan aku nggak usah nyuruh bik Sri lagi ke sini."


"Iya nggak usah dibayar kali! Walaupun aku ngebersihin tempat ini, kan yang tinggal di sini tuh aku jadi sudah seharusnya aku yang ngerawat tempat ini. Dikasih tumpangan aja udah bersyukur," cicitnya.


"Tapi kamu kan butuh uang untuk biaya hidup kamu."


"Makanya aku pengin kerja lagian kalau kamu kerja aku kan sepi di sini sendiri. Boleh ya!" Thalita memohon dengan tatapan memelasnya.


"Ya udah mumpung besok aku libur aku temenin kamu ke toko kue Bu De aku. Di sana kamu bisa membantu Inka anak Bu De untuk membuat kue pesanan pelanggannya. Mau nggak?" tawarnya.


"Maulah." Dengan tatapan penuh harap.


"Tapi ada syaratnya. kamu harus ...."


"Apa?" Memotong begitu saja ucapan Juno.


"Kamu harus ceritain semua yang telah terjadi sama kamu hingga kamu mau bunuh diri tadi pagi."

__ADS_1


"Harus ya?"


"Haruslah! Kalo nggak nggak usah kerja."


"Ih nyebelin. Emang siapa sih kamu ngatur-ngatur hidup aku?"


"Calon imam kamu," jawabnya sambil terkekeh.


"Ih nggak lucu. Iya deh aku janji bakalan cerita tapi nanti setelah aku diterima kerjanya, tapi aku takut kalau aku cerita akan mengubah pandanganmu terhadap diriku."


"Ya nggak lah orang aku kalo berjalan tetap memandang ke depan," kelakarnya.


"Ih nyebelin orang aku serius ngomongnya juga."


"Apaan sih." Mereka lalu tertawa lepas bersama padahal baru tadi pagi mereka saling mengenal tetapi keakraban mereka seolah seperti sudah lama kenal.


"Udah ah bercanda mulu nanti makanannya keburu dingin."


"Ah iya ayo makan! Kamu juga belum makan, kan?" Thalita mengangguk. Akhirnya mereka makan bersama.


"Masakanmu enak," puji Juno. "Bolehlah aku dimasakin tiap hari."


"Iya boleh kok."


Selesai makan Thalita merentangkan karpet di depan pintu kemudian menaruh kasur kecil di atasnya.


"Buat apa?" tanya Juno. "Aku akan tidur di sofa aja nggak usah pakai alas."


"Ah, nggak apa-apa kamu tidur di kamar aja biar aku yang tidur di sini."


"Janganlah masak cewek tidur di bawah aku mah sebagai cowok malah enak-enakan tidur di ranjang."


"Nggak apa-apa aku udah biasa kok. Aku malah sering tidur di depan televisi. Biasanya bukan aku yang nonton televisi tapi lebih sering televisi yang nonton aku."


Benar saja belum jam 9 malam saja dia sudah tertidur pulas di depan televisi


"Ceroboh nih orang malah tidur sembarangan gimana kalau saja aku orang jahat bisa habis dia." Lalu dengan hati-hati Juno mengangkat tubuh Thalita dan membawanya ke kamar. Dia meletakkan tubuh Thalita di atas ranjang lalu menyelimutinya. Sedangkan dia setelah menutup pintu berlalu ke tempat Thalita semula yaitu di kasur di depan televisi dan merebahkan tubuhnya di sana.


Keesokan harinya setelah selesai sarapan yang dibuatkan Thalita Juno mengantar Thalita ke tempat Inka. Dia menitipkan Thalita di sana supaya diterima kerja dan supaya dia diajari membuat kue. Karena hari ini hari minggu, dia malah tidak pulang ke rumah maupun ke apartemen. Dia malah terlihat ikut sibuk membantu membuat kue.


Sore hari pun tiba ia ikut pulang ke apartemen.


"Kamu tidur di sini lagi Mas?"


"Iya emang nggak boleh?" Malah balik bertanya.


"Mulai besok malam selama seminggu aku sudah tidak pulang ke sini lagi karena besok aku harus ke luar negeri. Aku ditugaskan memeriksa perusahaan di sana yang katanya ada sedikit masalah, oleh papa."


"Oh." Thalita hanya ber oh ria.


"Kamu mau makan apa biar aku masakin?"


"Emang makanan yang tadi pagi tidak ada sisanya?"


"Ada sih cuma pasti tidak enak karena dingin."


"Coba kamu lihat kalo masih bisa di makan dihangatin aja. Kan mubasir kalo di buang abis masakan kamu kan enak. Tapi kalo udah basi mending kita pesen online aja nggak usah masak kamu kan pasti capek."


Thalita hanya menurut saja karena hari ini dia benar-benar lelah.


Selesai makan seperti sebelumnya mereka menonton televisi dan Thalita menghampar karpet dan kasur yang yang tadi malam dia gunakan. Dan kejadian kemarin malam pun terulang lagi dengan Thalita yang telah pulas tertidur sebelum jam sembilan malam di atas alas karpet dan kasur kecil tersebut. Kebetulan di luar hujan deras sehingga membuat tidur Thalita tambah nyenyak. Untuk kedua kalinya Juno mengangkat tubuh wanita tersebut dan menidurkannya di ranjang. Namun, bukannya keluar setelah meletakkan tubuh Thalita dia malah ikut merebahkan dirinya di ranjang tersebut dengan menaruh guling sebagai pembatasnya. Thalita pun tertidur pulas tanpa sadar bahwa tidurnya ada yang menemani.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2