
Sore hari menjelang, Vierdo segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Leon. Sesuai janjinya tadi pagi dia mau menemani Leon dan Leona pergi ke Bali untuk menemui kedua orang tua Leona.
"Apaan ini Leon?" tanya Vierdo kaget melihat barang-barang yang sudah disiapkan oleh Leon di rumahnya.
"Biasa cuma oleh-oleh untuk calon mertua biar dapat restu," ucap Leon lalu terkekeh sedang Vierdo hanya mengangguk saja.
"Jangan banyak-banyak bawaannya kita naik pesawat saja, ucap Vierdo.
"Naik pesawat?" tanya Leon kaget. Rencananya kan dirinya ingin naik mobil saja.
"Yang benar saja kamu Vier saya belum memesan tiketnya loh," protes Leon.
"Kalau masalah itu jangan khawatir saya sudah mengurusnya," jawab Vierdo enteng.
"Tiga tiket sudah ditangan," ucap Vierdo lagi.
"Loh kok harga tiket sih?" protes Leon.
"Emangnya harus berapa tiket? Kita kan hanya bertiga dengan Leona," jawab Vierdo.
"Masalahnya kedua orang tuaku juga mau ikut Vier. Katanya kita akan sekaligus merencanakan tanggal pernikahan kalau orang tua Leona merestui kami."
"Baiklah kalau begitu serahkan saja semuanya pada Vierdo," ucap Vierdo sambil menepuk dadanya sendiri.
"Hmm, baiklah kupasrahkan semuanya padamu," ujar Leon sambil berkemas diri dan Vierdo mengangguk lalu langsung menghubungi seseorang untuk mengurusnya.
Beberapa saat kemudian ponsel Vierdo berbunyi. "Baiklah terima kasih, tunggu aku di bandara!" perintah Leon melalui teleponnya.
"Siapa?" tanya Leon yang sudah rapi dengan pakaiannya.
"Itu tiketnya sudah beres. Mana Om dan Tante? Keberangkatan sebentar lagi."
"Oke, sebentar aku panggil mommy dan Daddy dulu," ucap Leon lalu pergi untuk menyampaikan kepada kedua orang tuanya yang ada di kamar.
Beberapa saat kemudian mereka langsung berangkat menggunakan mobil Vierdo karena pria itu membawa sopir.
"Terus di Bali kita mau pakai apa Vier kalau tidak bawa mobil dari sini?" tanya Leon di tengah perjalanannya menggunakan mobil.
"Tenang kamu kan banyak uang, beli saja dan kalau kita pulang hadiahkan kepada keluarga Leona pasti semakin disayang jadi mantu," ucap Vierdo lalu tertawa.
"Ckk, aku serius Vier kau malah bercanda," protes Leon. "Ya udah deh pakai mobil rental saja dulu," imbuh Leon.
"Kamu tenang saja aku punya orang di sana. Nyampai bandara pasti ada yang langsung menjemput," ucap Vierdo dengan ekspresi tenang.
"Oke deh, tapi jangan lupa samperin Leona dulu di depan bisa kacau kalau dia ketinggalan," ucap Leon pada Vierdo dan Vierdo segera memerintahkan sopir untuk menjemput Leona terlebih dahulu sebelum pergi ke bandara.
Leona sudah di mobil dan mobil melaju mulus menuju bandara. Setelah hampir 2 jam melakukan penerbangan akhirnya sampai juga mereka ke Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
__ADS_1
Di sana sudah ada sopir yang menunggu kedatangan Vierdo. Vierdo melambaikan tangan dan pria itu mendekat.
"Apa kabar Pak Bos?" sapa sopir itu pada Vierdo.
"Baik, ayo antarkan kami ke rumah Leona. Masih ingatkan rumahnya?"
"Ingat dong Pak Bos, ayo ke mobil."
"Mari-mari semuanya!" Sopir itu mengajak Leona, Leon dan juga keluarganya.
Mereka semua mengangguk dan berjalan ke arah mobil mengikuti Vierdo dan sopir itu.
"Sebelum ke rumah Leona kita cari toko kue dulu ya," pinta Leon.
"Ngapain sih mau beli kue?" protes Vierdo.
"Bisalah Nak Vier, masa' ngelamar orang tidak bawa kue," ujar ibunya Leon.
"Nah itu mommy ngerti," ucap Leon lalu tersenyum.
"Iya deh. Pak ke toko kue dulu ya!"
"Siap pak bos."
Setelah membeli apapun yang ingin dibawa ke rumah Leona akhirnya mobil melaju ke tujuan awal yaitu kediaman orang tua Leona.
"Itukan rumahnya Pak?"
"Iya betul. Betul kan Leona?"
"Iya Kak."
"Oke kita turun di sini."
Mereka semua mengangguk dan langsung turun. Ternyata kedua orang tua Leona sudah menunggu kedatangan mereka di pintu pagar.
"Ayo-ayo bawa masuk mobilnya!" perintah ayah Leona pada sopir dan sopir itupun membawa mobilnya masuk ke dalam garasi.
Ibu Leon dan ayahnya, juga Leona mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dan memberikannya pada kedua orang tua Leona.
"Wah kok repot-repot sih?" ucap Ibu Leona lalu memanggil anak bungsunya untuk membantu membawakan oke dari Leon dan orang tuanya.
"Tidak repot kok Bu, hanya membawa ini saja," sahut ibunya Leon.
"Mari silahkan masuk." Ayah Leona mempersilakan para tamu untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya, ayo masuk semuanya. Leona bawa calon mertuamu masuk ke dalam!" perintah ibu dari Leona membuat Leon senyum-senyum sendiri. Alamat ini tandanya lamarannya akan diterima.
__ADS_1
"Ayo Om, Tante, Kak Vier dan pak Leon, eh Pak sopir juga," ajak Leona pada semua orang.
"Ah tidak usah saya harus pergi sekarang karena ada kepentingan lain tolak sopir dari Vierdo.
"Ayolah ngopi-ngopi sebentar," bujuk ayah dari Leona.
"Maaf Pak saya benar-benar tidak bisa karena harus menjemput seseorang lagi," ucap sopir itu lagi.
"Baiklah kalau begitu hati-hati."
"Iya Pak."
"Pak Bos saya pergi dulu ya, nanti kalau butuh saya lagi ditelepon saja."
"Oke-oke."
"Permisi ya semuanya."
Semua orang mengangguk dan pak sopir pun mengangguk lalu langsung pergi.
Setelah masuk dan disuguhkan minuman dan makanan kecil mereka berbasi-basi terlebih dahulu sambil menikmati minuman dan camilan yang disediakan. Setelah itu barulah orang tua Vierdo menyatakan keinginannya untuk melamar Leona. Tidak disangka orang tua Leona langsung menerima lamaran mereka sehingga keempat orang tua itu langsung mendiskusikan tanggal yang tepat untuk pernikahan antara putra dan putrinya itu.
"Oke kalau hari dan tanggal itu kami setuju," ucap ayah Leona setelah sekian lama tidak menemukan kecocokan tanggal antara kedua orang tua.
"Baiklah kalau begitu kita putuskan tanggal itu saja," ucap ayah dari Leon.
"Kamu tidak ada apa-apa kan di tanggal itu Nak?" tanya ibu dari Leon kepada putranya.
"Tidak ada Mom, semuanya bisa dihandle. Pernikahan kami jauh lebih penting."
"Oke kalau begitu sudah deal ya tanggalnya. Sekarang masalah akadnya akan diadakan di mana. Di Jakarta atau di Bali?" tanya ayah Leon.
Sebelum kedua orang tuanya menjawab terlebih dahulu Leona yang menjawab.
"Di Jakarta aja ya Bu, Yah!" Leona khawatir kedua orang tuanya masih memakai adat di sana dalam pernikahannya sedangkan dirinya sudah berbeda agama dengan keluarganya. Sebagai seorang muallaf dia belum begitu paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehingga dia ingin menghindari yang namanya keraguan-raguan.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, kamipun juga penasaran dengan yang namanya Jakarta," ucap ibu Leona lalu tertawa.
"Wah jadi ibu belum pernah ke Jakarta?" tanya ibu Leon.
Ibu Leona menggeleng. "Belum pernah sekalipun."
"Baiklah nanti sekalian menginap dalam jangka waktu lama di sana juga nggak apa-apa. Nanti saya akan ajak ibu keliling-keliling di sana."
"Wah boleh juga itu," jawab ibu Leona sambil tertawa renyah. Pembicaraan pun dilanjutkan dengan hal-hal ringan yang mengundang tawa dari semua orang.
Bersambung.
__ADS_1