
Setelah kurang lebih satu jam di jalanan akhirnya Syahdu dan Fikran sampai juga di rumah sakit tempat Itnas diperiksa.
"Ayo ke sana saja, sepertinya kalau di rumah sakit ini ruangan dokter kandungan ada si sebelah sana." Fikran menunjuk ke arah kiri dari posisinya mereka melangkah.
"Oke, nggak ada salahnya kita periksa ke tempat itu dulu, nanti kalau di sana tidak ada baru aku akan hubungi Leon atau yang lainnnya." Syahdu setuju dengan pendapat Fikran. Mereka berduaan pun melangkahkan kaki menuju lorong-lorong di sebelah kiri.
Benar saja tidak sampai lima menit mereka melewati lorong-lorong itu ternyata Leon melambaikan tangan ke arah keduanya.
"Itu dia calon istri Abang!" tunjuk Fikran ke arah Leona untuk memberi tahukan keberadaan mereka semua pada Syahdu.
Syahdu yang celingukan tadi akhirnya langsung menatap ke arah yang ditunjuk oleh Fikran.
"Hai!" Syahdu membalas lambaian tangan Leon dan segera berlari menuju tempat teman-temannya berada.
"Bagaimana keadaan Itnas?" tanya Syahdu langsung.
"Baik-baik saja kok, dia muntah tadi karena ternyata dia sedang hamil," jawab Leona.
"Sudah kuduga. Syukurlah yang penting Itnas tidak mengidap penyakit apapun."
Leona dan Thalita hanya mengangguk saja mendengar kalimat yang diucapkannya oleh Syahdu.
"Itnas belum selesai diperiksa?" tanya Syahdu lagi.
"Sudah tadi dan sekarang Itnas dan Vierdo sedang diberikan nasehat oleh dokter apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan selama kehamilan Itnas," jawab Thalita.
Syahdu hanya mengangguk. Mereka semua sekarang duduk dengan tenang sebab tidak ada yang serius yang harus dikhawatirkan terhadap diri Itnas. Bukankah kehamilan adalah sebuah kabar gembira?
Beberapa saat kemudian ruangan dokter terbuka, menampakkan sepasang suami-istri yang menampilkan raut wajah Bahagianya.
__ADS_1
"Bagaimana kandungan Itnas?" tanya Leon untuk memastikan keadaan Itnas memang baik-baik saja.
"Alhamdulillah kandungan dan ibunya baik-baik saja. Menurut dokter muntah-muntah diiringi sakit perut asal tidak begitu parah adalah hal yang wajar-wajar saja."
"Iya, itu kalau tidak salah disebut morning sickness dalam ilmu kedokteran. Jadi siap-siap nih calon bapak sering disambut muntah-muntah dan rengekan dari istrinya tiap pagi," ujar Leon
"Tenang aja Leon, aku pasti akan menjadi suami dan calon ayah yang siap siaga," ucap Vierdo dengan begitu yakinnya.
"Harus itu Vier, kamu yang membuat istrimu bunting ya kamu juga yang harus bertanggung jawab dengan menjadi calon ayah dan suami yang siaga. Ingat calon ayah itu harus punya stok sabar yang banyak karena kehamilan seorang istri cenderung manja dan banyak keinginan," sambung Thalita.
"Kalau itu mah tenang Lit, aku nih punya stok kesabaran satu ember," ucap Vierdo lalu terkekeh.
"Yaelah satu ember, awas bocor," goda Leona juga ikut terkekeh.
"Kau tahu Vier, orang hamil terkadang aneh. Pengen ini, pengen itu padahal belum tentu dimakan. Selamat berjuang ya Vier menghadapi ngidam istrimu yang kadang nyeleneh," ujar Thalita lagi.
"Pasti Lit."
"Asal jangan minta sesuatu yang sulit dikabulkan ya sayang," ucap Vierdo pada Itnas.
Leon yang mendengar ucapan terakhir dari Vierdo ini mengerenyitkan dahi lalu menggelengkan kepala. "Yang namanya siap siaga itu semua harus dipenuhi Vier, bukan cuma memenuhi keinginan yang mudah saja sedangkan yang susah mundur," protes Leon.
"Nah kalau putraku ini minta bintang di langit emang bisa aku penuhi Leon? Ngaco aja ah." Vierdo mengusap-usap perut Itnas.
Itnas yang mendengar perkataan Vierdo langsung mencubit lengan suaminya itu.
"Auw, sakit sayang, kenapa kau malah mencubitku ah," protes Vierdo sambil mengusap-usap lengannya yang sakit akibat cubitan dari Itnas.
"Habisnya kamu lebay Kak, masa bayi kita mau minta bintang di langit. Kalau mainan berbentuk bintang mungkin iya." Itnas memanyunkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Kali aja sayang. Siapa tahu mirip mamanya yang kadang permintaannya aneh," jawab Vierdo membuat pria itu mendapat cubitan di lengan untuk kedua kali.
"Sayang sakit tahu. Kamu tuh kuku tangannya panjang, jadi sakit kalau nyubit. Deman aja sih main nyubit sedari tadi."
"Kak lengan kamu lembut Kak. Kayaknya aku bakal punya kebiasaan baru nih. Tiap hari nyubit lengan kakak kayaknya asyik tuh."
Vierdo meringis mendengar perkataan istrinya.
"Sepertinya nanti malam aku tidak boleh tidur duluan. Tunggu istriku tidur nyenyak dulu baru potong kukunya yang panjang itu baru boleh tidur," batin Vierdo dan pria itu tersenyum devi.
"Itu namanya istri kamu ngidam Vier. Nikmati saja momen-momen sebelum hadirnya anakmu ke dunia ini," goda Leon lagi.
"Mana ada ngidam begituan? Itu namanya sengaja dijadikan rutinitas kalau diniatkan," ucap Vierdo, tentu saja dalam hati sebab kalau didengar Intas takut-takut wanita itu bakal ngambek. Walaupun tidak pernah sekalipun hidup dengan orang hamil sebelumnya, tapi Vierdo tahu orang hamil perasaannya sensitif. Dia benar-benar harus ekstra hati-hati memperlakukan Itnas selama masa kehamilannya ini agar bayi dan istrinya selalu berada dalam keadaan sehat.
"Ayo antriannya siapa sekarang?" Dokter menunggu giliran pasiennya untuk masuk di pintu.
Semua orang yang ada di luar pintu saling pandang.
"Siapa pasien selanjutnya?" tanya Thalita bingung.
"Ayo pasutri yang mana yang mau masuk duluan? Yang ini apa yang itu?" Dokter tersebut menunjuk ke arah Leon dan Leona kemudian Syahdu dan Fikran.
Thalia, Itnas, dan juga Vierdo malah tertawa mendengar ucapan dokter kandungan tersebut.
"Loh kok kalian malah tertawa?" tanya dokter tersebut bingung.
"Mereka tidak ada yang hamil Pak. Bagaimana mau hamil kalau nikah saja belum. Palingan perut mereka isi makanan dan angin doang," ucap Vierdo lalu menutup mulutnya yang terkekeh.
Dokter tersebut hanya tepuk jidat karena dirinya telah salah sangka.
__ADS_1
"Ya sudah cepat nikah saja kalian! Kalau perutnya sudah tidak hanya isi angin dan makanan saja baru ke sini lagi," ujar dokter sambil menggelengkan kepala karena merasa dirinya hari ini teramat bodoh. Bagaimana tidak dokter ahli seperti dia tidak dapat menebak seseorang itu hamil atau tidak.
Bersambung.