
"Aih baru tahu dia, ketinggalan zaman," ledek Leon pada Thalita.
"Biarin deh aku kan nggak suka ngegosip jadi maklum saja kalau aku baru tahu," sahut Thalita santai.
"Sudah! Sudah, jangan berisik nanti mengganggu proses ijab qabul," protes Vierdo. "Ini saja sudah ditunda karena kalian ribut sendiri," imbuh Vierdo.
Semua orang mengangguk sambil tersenyum lalu diam tanpa suara.
Saat keadaan sudah senyap barulah pak penghulu mengucapkan kalimat ijab. Dengan tegas, lugas, jelas, dan dalam sekali hentakan Wendi langsung mengucapkan kalimat qabul.
"Bagaimana para saksi sah?"
Di barisan paling depan, di barisan sang atasan dari Wendi maupun para sahabat Wendi terdengar kata sah paling nyaring.
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Satu kata itu terdengar dari segala penjuru ruangan. Mengantarkan Wendi dan Gladis dalam ikatan resmi pernikahan.
Gino melirik Kana, siapa tahu gadis itu sedang bersedih sekarang hanya saja dari tadi menutup perasaan sedihnya dari para sahabat sebab merasa tidak enak.
Gino tersenyum melihat Kana yang saat ini juga tersenyum menatap Wendi dan Gladis yang saat ini saling bertukar cincin. Kana melihat cincin di jarinya yang sempat disematkan oleh Gino beberapa hari itu di kantor Vierdo.
"Kenapa mau aku ubah dengan cincin kawin juga?" tanya Gino menggoda Kana.
__ADS_1
Kana menggeleng sambil tersenyum. "Nanti saja, sesuatu yang terburu-buru hasilnya tidak akan baik."
Gino mengangguk, dia menyadari perkataan Kana itu benar meskipun tidak seutuhnya benar. Sebab pada kenyataannya menikah itu lebih baik daripada hanya berpacaran. Namun, di posisi ini juga mereka dapat mengendalikan semuanya. Hawa nafsu yang mungkin saja menyerang keduanya secara tiba-tiba adalah musuh terbesar mereka jika menjalin hubungan tanpa ikatan perkawinan.
Namun, Gino sadar tidak semua pacaran setelah menikah membuahkan hasil terbaik sebab bisa berakhir dengan perceraian jika keduanya merasa tidak cocok.
Yang paling cocok sebenarnya adalah ta'aruf sebelum mereka melangkah ke jenjang yang lebih tinggi untuk mengurangi dua resiko di atas.
"Kita perlu mendalami karakter masing-masing," bisik Kana pada Gino.
"Takutnya setelah menikah kamu tidak menyukai sikapku yang sebenarnya yang mungkin saja bertolak belakang dengan persepsi mu," imbuh Kana.
Gino hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kita jalani saja dulu apa adanya."
Kana pun membalas dengan senyum dan anggukan.
"Loh orang tua Wendi mana?" tanya Kana penasaran sebab mereka hanya menyalami tangan seorang ibu tidak ada yang lainnya.
"Tidak ada Wendi tidak punya orang tua, dia sudah sebatang kara saat ini," jelas Vierdo. Kana hanya terbelalak tidak percaya. Dalam hati berpikir kalau dirinya jadi dengan Wendi tidak asyik sebab tidak ada mertua yang bisa dihormati dan diajak berbicara nantinya jika dia hanya sendiri saat Wendi pergi bekerja.
"Gin kamu punya orang tua tidak?" Kana beralih bertanya tentang keberadaan orang tua Gino sebab pria itu juga tidak pernah menceritakan tentang orang tuanya. Selama ini yang Gino sebut hanya paman, paman dan paman.
"Orang tuaku masih lengkap, kenapa?" Gino tidak mengerti kenapa Kana tiba-tiba menanyakan tentang keberadaan orang tua dari Gino.
Kana memang aneh, banyak perempuan-perempuan lain di luar sana yang kadang tidak ingin mempunyai mertua karena bayangan mertua jahat melekat di hati mereka dan ada juga yang menganggap mertua suka ikut campur pada pernikahannya nanti. Namun, Kana sangat berbeda. Kalau dia sudah ikut suaminya nanti otomatis dia tidak akan pernah bisa berbakti kepada orang tuanya setiap hari. Namun akan tergantikan dengan dirinya yang bisa berbakti terhadap mertuanya.
__ADS_1
"Kenapa menanyakan keberadaan orang tuaku? Aku masih hidup bersama dengan mereka. Apa mau aku kenalkan pada mereka?"
"Boleh," ucap Kana sambil tersenyum. "Siapa tahu mereka tidak menyukaiku," tambahnya.
"Tidak akan kalau urusan jodoh orang tuaku menyerahkan semuanya padaku. Sudah ah kita ngasih selamat dulu sama Wendi dan istrinya."
Kana mengangguk dan bangkit dari duduknya. "Ayo!" ajaknya dengan antusias.
Gino pun mengangguk dan ikut bangkit berdiri. Mereka berdua langsung naik ke atas pelaminan untuk mengucap ucapan selamat.
"Selamat ya Wen dan kamu juga Gladis."
"Terima kasih Gin."
"Sama-sama."
"Selamat ya Pak Wendi dan mbak Gadis nya." Kana menyalami tangan Wendi sebelum akhirnya beranjak ke depan Gladis.
"Terima kasih Kan maaf ya aku tidak bisa membalas pe ...."
"Tidak apa-apa, perasaan tidak bisa dipaksakan Pak," ujar Kana dengan sikap yang begitu tenang dihiasi dengan senyum di bibirnya. Lalu wanita itu beralih menyalami tangan Gladis.
"Kamu dekat dengan dia?" tanya Wendi menuju Gino dan Kana hanya mengangguk.
"Kalian begitu cocok, kapan menyusul kami menikah?"
"Nanti Pak, kami masih mau memahami karakter masing-masing biar tidak syok saat kita menikah nantinya, iya kan Gin?"
__ADS_1
Gino hanya mengangguk sambil tersenyum, dalam hati berharap apa yang dikatakan Kana saat ini adalah benar-benar tulus bukan untuk sekedar menutupi hatinya yang luka.
Bersambung.