Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 29. Permohonan Juno


__ADS_3

Dua hari kemudian Thalita sudah berdandan rapi. Hari ini dia ingin ke kota bertemu Itnas untuk mengetahui proses perceraian apakah sudah selesai ataukah belum. Satu kardus berisi teri krispi berbagai varian buatan sendiri sudah siap dikemas.


Ketika hendak berangkat tiba-tiba muncul sebuah mobil yang memasuki pekarangan rumah. Thalita menelisik apakah mobil itu benar tamunya ataukah tamu tetangga yang sengaja menitipkan mobil di pekarangan rumahnya.


Namun, mukanya berubah cerita tatkala yang dia lihat turun dari mobil adalah orang yang ingin dia temui sekarang.


"Mbak Itnas apa kabar?" sambutnya dengan ceria.


"Baik, kamu sendiri bagaimana? Bagaimana dengan keponakan Tante?" tanya Itnas sambil mengelus perut Thalita.


"Baik juga Mbak. Mari silahkan masuk!"


Itnas pun masuk mengekor di belakang Thalita.


"Ayo silahkan duduk Mbak, biar saya buatkan minuman dulu. Mbak Itnas mau minun apa?"


"Nggak usah deh," ucap Itnas karena tidak tega dengan Thalita yang tengah hamil besar.


"Nggak apa-apa Mbak. Masa dari kota Mbak tidak mendapatkan walau hanya sekedar minuman di sini," protesnya.


"Ya sudah kalau begitu buatin es teh manis dingin ya kerongkongan Mbak kering kayaknya butuh yang segar-segar."


"Oke Mbak siap," ujar Thalita sambil berlalu ke dapur. Sekembalinya dari dapur dia membawakan es teh beserta beberapa camilan.


"Ini Mbak di minum mumpung lagi dingin," sarannya. Itnas pun meneguk minuman kemudian meraih beberapa camilan.


"Bagaimana Mbak apakah sudah beres?" tanya Thalita tidak sabaran.


"Sudah," jawab Itnas.


"Makasih ya Mbak. Apakah Mas Yudha tidak mempersulit prosesnya Mbak?" Thalita curiga ada campur tangan Yudha sehingga membuat Itnas lama mengantarkan surat itu padanya.


"Awalnya Mas Yudha mempersulit karena mengatakan dia tidak mau menceraikanmu. Namun, setelah saya mengancam saya yang akan bercerai dengannya apabila dia tidak mau menceraikanmu akhirnya dia mengalah dan mau menerima keputusan ini."


"Makasih ya Mbak," ujar Thalita sambil memeluk tubuh Isyana.


"Aku tidak tahu nasibku akan seperti apa kalau Mbak Itnas tidak menolongku."


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan yang penting kamu sudah bisa bebas dari Mas Yudha. Besok-besok giliran saya yang akan melepaskan diri. Oh ya kamu rapi begini mau kemana?" tanya Itnas ketika menyadari pakaian Thalita seperti orang yang ingin bepergian.


"Oh ini? Tadinya saya akan ke kota menyamperi Mbak Itnas di sana, tapi karena Mbak Itnas sudah ke sini jadi saya pikir sudah tidak perlu. Oh ya Mbak Itnas tadi bilang ingin bercerai juga dengan Mas Yudha?"

__ADS_1


"Iya." Itnas mengangguk.


"Tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan yang tidak sehat."


"Maksud Mbak Itnas?"


"Seperti yang dia lakukan padamu dia pun menyia-nyiakan Mbak cuma Mbak masih beruntung tidak mendapatkan perlakuan kasar seperti dirimu."


"Jadi Mas Yudha juga tidak mencintai Mbak?"


"Kami menikah tanpa cinta, tapi seiring berjalannya waktu Mbak mulai menyukai dia, tapi dianya tidak mencintai Mbak. Selama ini Mbak bertahan dengan harapan dia akan ada rasa sama Mbak tapi nyatanya nihil. Sampai sekarang Mbak tidak tahu mengapa dia tidak mau menyentuh Mbak tapi saat Mbak meminta cerai dia juga tidak mau."


"Kok aneh sih Mbak padahal Mbak Itnas kan cantik, tapi kenapa Mas Yudha tidak tertarik?"


"Gimana mau tertarik orang dia di luaran sana dikelilingi wanita-wanita seksi. Kamu tahu dia suka main perempuan. Makanya Mbak berniat ingin cerai juga dari dia karena mbak jijik."


Thalita menganga mendengar penuturan Itnas. Dia seolah tidak percaya Yudha bisa melakukan itu, tapi mengingat sikapnya yang sering melakukan kekerasan terhadap dirinya dulu dia bisa maklum bahwa Yudha yang sekarang bukanlah Yudha yang pernah dia kenal dulu."


"Oh ya maafkan Mbak yang baru bisa mengantar surat ini karena beberapa bulan ini Mbak sibuk."


"Tidak apa-apa Mbak. Mbak bantu gini aja aku sudah senang."


"Seseorang? Ingin bertemu denganku? Siapa?" tanya Thalita penasaran.


"Sebentar saya panggil dia masih ada di mobil." Itnas beranjak ke mobil menemui seseorang sedangkan Thalita mengintipnya dari balik jendela.


"Mas Juno?" Reflek tangannya menutupi mulut yang tiba-tiba saja menganga saking terkejutnya.


"Hai Lit apa kabar?"


"Mas Juno kok bisa kenal sama Mbak Itnas dan bagaimana bisa tahu kalau aku sama Mbak Itnas ....?"


Juno memotong pembicaraan Thalita. "Aku mencarimu selama ini ketika mengetahui kau tidak ada di rumah itu lagi, dan orang suruhanku mengatakan bahwa kamu sempat menemui Itnas sebelum menghilang. Jadi saya memutuskan untuk bertanya pada Itnas. Dan benar dia mengatakan bahwa dia tahu kamu tinggal dimana sekarang.


"Dan untuk hubungan kami, kami adalah teman semasa kuliah. Juno ini kakak kelasku," ujar Itnas.


"Lebih tepatnya aku teman dekat dari mantan kekasih Itnas," ujar Juno sambil terkekeh.


"Jun," protes Itnas sambil mendelik ke arahnya.


"Wah semoga Mbak Itnas bisa kembali sama kekasih Mbak Itnas ya kalau nanti sudah cerai dari Mas Yudha," ucap Thalita penuh harap. Dia ingin orang yang pernah menjadi madunya ini bahagia karena telah menolongnya.

__ADS_1


"Amin," ucap Juno. "Dan saya harap semoga kamu bisa kembali padaku lagi seperti dulu," lanjut Juno.


"Mas Juno ngomong apa sih?"


"Ngomong kejujuran. Kamu kan sudah cerai jadi bisa kan kembali kepadaku seperti dulu?"


Thalita menggeleng. "Tidak Mas itu tidak akan bisa lagipula keadaanku sedang hamil."


"Tidak masalah aku bisa menerima anak itu walaupun dia bukan darah dagingku."


Thalita tetap menggeleng dia masih kecewa dengan sikap Juno ketika dulu dia memberitahu akan kehamilannya.


"Lit aku mohon berikan aku kesempatan untuk hidup denganmu ya! Aku akan menunggu sampai anak itu lahir setelah itu kita akan menikah."


"Tidak Mas ijinkan aku membesarkan anak ini sendiri." Thalita masih ngotot.


"Baiklah kalau itu keputusanmu tapi izinkan aku mendampingimu ya ketika melahirkan anak itu." Entah mengapa akhir-akhir ini Juno jadi mengkhawatirkan bayi dalam kandungan Thalita.


Karena Thalita tidak ingin berdebat ia terpaksa mengangguk, toh Juno tidak akan tahu kapan dia melahirkan. Namun, dalam hati dia bertekad tidak akan memberitahukannya.


"Oh ya Mbak ini," ucap Thalita sambil menyodorkan amplop ke hadapan Itnas.


"Apa ini?"


"Itu uang yang Mbak berikan padaku dulu, Terima kasih karena dengan uang itu aku bisa membuka usaha, sekarang aku kembalikan," ujarnya.


"Tidak usah saya ikhlas memberikan itu," tolak Itnas tapi Thalita masih saja memaksa dan mengancam macam-macam kalau Itnas tidak mau menerimanya. Akhirnya Itnas menerima uang itu kembali dengan niat akan disumbangkan ke panti asuhan.


"Mas Juno!"


"Iya?"


"Ini ATM mas Juno. Uang di dalamnya sudah utuh seperti semula. Terima kasih ya atas semuanya."


"Lit apa-apaan ini? Sudah pakai aku sudah merelakan ini untukmu kamu tidak perlu mengembalikannya."


"Mas Juno ku mohon ambillah!" Memohon dengan wajah memelasnya. Thalita tidak ingin lagi ada kenangan tentang hidupnya di kota karena setelah ini dia bertekad untuk melupakan segalanya.


Melihat wajah Thalita yang memelas akhirnya Juno mengambil ATM itu, tapi dia langsung memberikannya kepada Fadil dan menyuruh Fadil agar menyimpan barangkali suatu saat Thalita membutuhkannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2