
Mendengar perkataan Thalita, Sauna meradang. Wanita itu terlihat geram hendak mengepalkan tangan ke arah Thalita, tetapi terhalang oleh borgol dan pegangan tangan Fikran. Kalau saja kakinya tidak pincang mungkin dia sudah menendang ke arah Thalita.
Melihat Sauna yang tidak bisa berbuat apa-apa, Thalita tertawa renyah.
"Kau sudah tidak berdaya sekarang hah? Kasihan sekali. Oh ya bagaimanapun aku perlu mengucapkan terima kasih padamu. Mungkin jika engkau tidak mengatur jebakan antara aku dan Yudha waktu itu sekarang aku mungkin tidak akan sebahagia sekarang. Terima kasih karena kau telah berperan dalam mempertemukan aku dengan suamiku ini. Aku mencintainya sangat mencintai dan dia juga sangat mencintaiku," ujar Thalita berbangga.
Juno mencium bibir Thalita dan Thalita membalasnya.
Tidak ada dosa yang patut dibanggakan sebenarnya, tetapi kalau hal itu bisa merubah kehidupannya ke arah yang lebih baik apa salahnya kita mengambil hikmah dari semuanya.
"Cih." Sauna hanya mampu berdecih.
"Aku tahu kamu mencintai Yudha dan Yudha tidak bisa membalasnya kan sehingga kau melakukan hal licik kepadaku, tapi tidak apa-apa selamat mengejar cinta Yudha di dalam penjara." Setelah mengatakan itu Thalita langsung berbalik.
"Ayo Mas kita kembali ke dalam mobil," ajak Thalita sambil menggandeng tangan sang suami.
"Oke yuk. Oh ya Fik kami balik duluan ya dan tidak bisa mengantar kalian ke kantor polisi," pamit Juno.
"Oke tidak masalah," ujar Fikran sedangkan rekannya sudah kembali ke dalam mobil untuk mengantisipasi penjahat yang satunya agar tidak melarikan diri juga.
Thalita menoleh. "Awasi Fik jangan sampai dia kabur lagi seperti tadi. Jangan pernah percaya dengan ucapannya karena dia adalah wanita yang licik. Mungkin saja dia nanti akan berpura-pura ingin buang air kecil, eh nggak tahunya malah mau kabur lagi."
"Oke Lit, itu pasti. Kesiagaan kami akan meningkat tiga kali lipat," ujar Fikran.
"Oke bagus, dan kamu Vier jangan lama-lama berada di jalanan. Lebih cepat lagi nyetirnya biar kesempatan dia untuk kabur lagi lebih kecil."
"Oke siap Bos!"
Fikran dan Vierdo langsung menggiring tubuh Sauna ke dalam mobil Vierdo lagi sedangkan Thalita dan Juno kembali ke mobilnya sendiri, menghampiri Syahdu yang hanya diam di dalam mobil bersama baby Athar.
Kedua mobil itu kembali melaju di jalanan dengan arah yang berbeda.
***
Assalamualaikum!" Terdengar ucapan salam dari beberapa orang dari luar rumah Syahdu. syahdu yang baru bangun tidur dan hendak mengambil air hangat ke dapur langsung menyuruh pembantunya untuk membuka pintu.
"Nona Syahdu ada beberapa orang yang datang kemari katanya ingin bertemu dengan Nona Syahdu," lapor sang pembantu.
__ADS_1
"Siapa Bik Kana sama teman-teman bukan?" tanya Syahdu memastikan."
"Bukan Non Syahdu, semua orang yang datang itu tidak satupun yang bibi kenal kecuali hanya pemuda yang pernah mengantar Non Syahdu saja ke rumah ini."
"Siapa Bik?" tanya syahdu lagi."
"Vi ... vi ... Vi siapa gitu pokoknya bibi lupa."
"Vierdo?"
"Bukan Non."
"Vi siapa ya Bik?" Syahdu tampak berpikir siapa orang yang dimaksud oleh pembantunya itu.
"Apa Fikran?" tanya syahdu kaget sebab kata sang pembantu pemuda itu datang bersama orang-orang yang tidak dikenalnya. Kalau Fikran kenapa harus datang dengan orang-orang? Apa ada masalah yang gawat?
"Nah itu benar Nona."
"Ngapain Bik dia bawa orang ramai-ramai segala?"
"Mana bibi tahu Non, temui saja mereka dulu dan tanyakan langsung biar bibi buatkan minuman sama membawakan camilan untuk mereka semua."
"Sudah lah Non. Mereka semua sudah duduk di kursi ruang tamu dan Nyonya sama Tuan juga sudah menemui mereka."
"Oke bagus kalau begitu. Saya mau mandi dulu kalau sudah ada bunda sama ayah di sana."
"Iya Non, tapi jangan lama-lama takutnya nanti dicariin sama nyonya dan Tuan."
"beres Bik, Syahdu mandi kilat aja deh."
"Oke Non nanti bibi kabari sama Tuan dan Nyonya bahwa Non Syahdu masih ingin mandi dulu."
Syahdu mengangguk lalu bergegas keluar dapur dan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Setelah mandi dan berdandan ia turun lagi ke lantai bawah dan menemui tamunya.
"Hai apa kabar? Baru bangun ya?" sapa Fikan melihat Syahdu berjalan ke arahnya.
Syahdu hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Biasa Nak Fikran dia lagi datang bulan jadi bangunnya kesiangan," jelas bunda dari Syahdu.
"Oh." Fikran mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya Du kedatangan mereka ke sini sebenarnya ingin melamar kamu. Bunda sama ayah menyerahkan semuanya padamu. Kalau kamu suka sama Fikran silahkan diterima, tapi kalau kamu ada pria yang lain yang kamu suka nanti bunda akan minta maaf pada keluarga mereka."
Syahdu terlihat kaget dan langsung menatap Fikran tak percaya. Lelaki itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kau serius Fik?" Syahdu langsung bertanya.
"Apa aku terlihat tidak serius Du? Iyalah aku serius pengen ngelamar kamu, tapi kalau kamu mau sih. Kalau nggak ya nggak apa-apa, aku nggak akan maksa. Benar kata bunda kamu mungkin kamu sudah punya yang lain," ujar Fikran dengan ekspresi wajah yang serius, tetapi terlihat tenang.
"Tuh lihat mereka sudah membawa kue-kue lamaran tuh!" Sang ayah dari Syahdu langsung menunjuk kue-kue yang dibawa oleh keluarga Fikran. "Kasihan mereka sudah repot-repot masa mau ditolak sih," lanjut sang ayah.
"Dan bunda yakin kamu memang belum punya pacar," sambung sang bunda.
"Ah bunda, buka rahasia aja sih," keluh Syahdu.
"Loh iya kan? Soalnya kamu nggak pernah bilang kalau kamu sudah punya pacar. Ya berarti kamu masih jomblo dong."
"Siapa bilang Ma, aku sudah punya kekayaan kok," bantah Syahdu.
"Iyakah?" tanya sang ayah kaget dan semua orang terlihat kecewa termasuk Fikran yang wajahnya terlihat langsung layu. Pria itu menunduk karena merasa malu dan mempermalukan kedua orang tuanya. Seharusnya sebelum melamar Syahdu dia konfirmasi dulu dengan gadis itu mau tidaknya. Kalau sudah begini apa yang akan dia lakukan? Dia terlalu percaya diri bahwa Syahdu akan menerima lamarannya padahal mereka saja belum lama berkenalan.
"Kamu serius Du?" tanya sang bunda lagi.
"Serius Bun dan kekasih Syahdu sekarang ada di depan bunda."
Sontak semua orang langsung melihat ke depan bundanya Syahdu dan mereka merasa kaget sekaligus lega.
"Jadi kau menerima lamaranku?" tanya Fikran dengan wajah yang kembali ceria plus antusias.
Syahdu mengangguk malu. "Iya," katanya.
"Alhamdulillah," ucap Fikran dan semua orang pun ikut mengucapkan hamdalah.
Akhirnya kedua keluar itu segera mendiskusikan tanggal pernikahan keduanya. Kedua keluarga tidak ingin berlama-lama sebab tidak ingin hal-hal yang tidak baik terjadi sebab banyak fenomena di masyarakat saat ini wanita hamil di luar nikah karena menunda-nunda pernikahan sedangkan keduanya sudah terlalu akrab.
__ADS_1
Kedua orang tua dari keduanya tidak ingin hal ini juga terjadi pada Syahdu dan Fikran apalagi usia keduanya sudah cukup matang untuk menikah.
Bersambung.