
"Mereka kenal Fikran?" Syahdu bertanya dalam hati dan menebak-nebak apa yang sekiranya telah diperbuat oleh Fikran sehingga kedua penjahat di depannya sekarang malah mengincar diri Syahdu untuk membalaskan dendam pada pria itu.
"Videokan gadis itu dan langsung kirim ke nomor Fikran!"
"Siap Bos!"
Syahdu menatap wajah perempuan yang dipanggil bos tersebut. Meskipun wanita itu memakai masker, tetapi Syahdu merasa pernah melihat wanita ini dari bentuk jidatnya yang lebar, alis yang tebal dan juga bentuk mata yang lebar serta telinga yang besar dan gemuk.
Syahdu mengingat-ingat wanita dengan ciri-ciri seperti itu pernah dirinya lihat dimana.
"Bukankah dia adalah wanita yang aku lihat ada di kafe pas Itnas muntah-muntah ya?" Syahdu berkata dalam hati.
"Kayaknya iya deh sebab dia seringkali kepergok melihat ke arah kami cuma waktu itu aku sama sekali tidak curiga bahwa dia akan berbuat jahat padaku. Apa dia menyukai Fikran dan cemburu padaku? Ah entahlah aku tidak mengerti dengan semua ini." Berbagai asumsi hadir di dalam benak Syahdu.
"Sudah," lapor pria bertato itu kepada wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Sebab terlalu banyak berpikir Syahdu tidak sadar bahwa posisi dirinya saat ini sedang direkam oleh pria bertato tersebut dan Syahdu yakin hasil video itu sudah di kirimkan kepada Fikran.
"Apa mau mereka sebenarnya?" Hal ini masih belum bisa ditebak oleh Syahdu.
"Baiklah aku lihat saja nanti. lebih baik saat ini pura-pura pingsan saja," cetusnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa dia?" Tanya wanita yang merupakan bos bertato itu pada anak buahnya tersebut melihat Syahdu menjatuhkan kepalanya pada tiang kayu yang menjadi pengikat tubuhnya.
"Tidak tahu biar saya periksa dulu!"
"Oke sana cepetan periksa!"
"Baik bos."
pria itu bergerak mendekati Syahdu dan memeriksanya.
"Sepertinya dia pingsan Bos," lapornya.
"Beres Bos, saya sudah mengirimkan chat kepada anggota kita agar siaga sebab Fikran dan yang lainnya kita arahkan ke tempat ini."
"Oke bagus, mari sekarang kita bergegas pergi sebelum mereka sampai dan menangkap kita berdua."
"Oke Bos ayo!"
Mereka berdua pun langsung bergegas pergi. Syahdu membuka mata dan mencoba melepaskan ikatan tangannya. Namun, tidak berhasil.
__ADS_1
Beberapa saat tidak sengaja tangannya menyentuh sebuah cutter yang sudah mulai berkarat. Buru-buru Syahdu meraih benda tersebut meski tangannya begitu susah untuk mendapatkannya sebab tangannya yang diikat.
Syahdu dengan susah payah mengerat tali yang mengikat tangannya dengan cutter tersebut. Setelah berhasil dia langsung memotong tali yang mengikat dirinya. Setelah meraih tas di tangannya dia langsung bergegas keluar dari bangunan pengap tersebut.
"Eh ponselku mana?" Syahdu yang teringat tadi ponselnya sempat diraih oleh pria bertato segera memeriksa tas di tangannya.
Tak ada. Ponselnya sudah tidak ada di dalam tasnya. Hanya ada kosmetik dan tisu di dalam tas Syahdu kini.
Sial, Syahdu melihat dompetnya juga sudah tidak ada. Wanita itu terlihat panik. Masuk ke dalam dan mencari di lantai ruangan tersebut meskipun agak gelap.
Lega, akhirnya Syahdu menemukan dompetnya di dekat tempatnya tadi disekap. Mungkin saja dompet tersebut jatuh saat pria bertato mengambil ponsel milik Syahdu tadi.
Syahdu meraih dompet tersebut dan memasukkan ke dalam tas. Setelah setelah syahdu langsung berlari keluar mencari jalan untuk bisa keluar dari daerah itu menuju jalan raya.
Belum sempat menemukan jalan raya, ternyata Syahdu melihat pria bertato dan bosnya tadi bersembunyi di balik tempat.
Gadis ini memutuskan untuk memata-matai kedua orang itu sebelum akhirnya mencari jalan pulang.
Bersambung.
__ADS_1