Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 6. Kunjungan Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Ekhem." Tiba-tiba ada suara orang berdeham.


Kana menoleh. "Nas, elo ternyata udah sadar, tapi kenapa elo nggak ngasih tahu gue?"


"Gue masih capek Kan, makanya gue diam dan tetap menutup mata," kata Itnas dengan suara lirih.


"Dan juga kalau gue sampai membuka mata pasti akan mengganggu momen lo sama Pak Asisten itu." Lanjut Itnas masih dengan suara lemah dan lirih.


"Momen apa? Kami cuma bicara biasa aja, nggak ada yang istimewa."


"Ya paling tidak gue nggak ganggu lo yang lagi curi-curi pandang pada Pak Wendi."


"Apaan sih lo Nas!"


"Oh ya. Bisa minta tolong teleponin mas Yudha nggak?"


"Yudha, siapa itu Yudha?" Tanya Kana yang memang tidak tahu siapa itu Yudha.


"Suami gue."


"Hah!" Kana terkejut mendapati kenyataan bahwa Itnas telah bersuami.


"Itnas, lo dalam keadaan sakit pun masih aja bercanda. Suami, suami. Emang kapan lo nikah? Gue aja nggak pernah dapat undangan pernikahan dari lo," protesnya.


"Udahlah Kan! Nggak usah banyak nanya kenapa sih? Entar kalo gue udah sehat gue jelasin deh semuanya."


"Oke. Berapa nomornya?"


"Sini hape lo!"


"Yaelah, katanya mau diteleponin kalo begitu kenapa nggak bilang aja mau pinjem hape."


"Kana bisa nggak sih lo nggak usah banyak protes. Lama-lama kamu nyamain si Syahdu loh cerewetnya."


"Ini." Kana menyodorkan ponselnya dengan wajah masam. Sepertinya dia agak kesal pada Itnas karena dibilang cerewet.


Itnas mengetik nomor Yudha kemudian menelponnya. Namun yang terdengar di sana hanya suara operator yang menginfokan bahwa nomor yang dihubungi sedang tidak aktif.


Kemana saja sih tuh orang dari Minggu kemarin nggak pernah nongol. Lupa kali kalau punya istri pertama.


Itnas mendesah kesal.


"Huufth." Ia menarik nafas panjang. Dalam pikirannya saat ini Yudha pasti bersenang-senang dengan istri mudanya itu.


"Ini." Dia mengembalikan ponsel Kana.


"Gimana?" tanya Kana.


"Nomornya nggak aktif."


"Lagi sibuk kali."

__ADS_1


"Gue telepon Tante Refi aja ya?"


"Gak usahlah. Takutnya nyokap khawatir padahal gue nggak apa-apa."


"Trus siapa yang bakal jagain lo nanti kalo aku pulang?"


"Nggak usah dijaga lah! gue kan sudah mendingan. Lo kalo mau balik, balik aja. Ntar gue pulang sendiri aja."


"Nggak lah gue kan udah dapet izin gak masuk sekarang dari pak asisten. Kapan lagi coba dapet kesempatan kayak gini."


"ciee.. yang berbunga-bunga karena bisa deket ama belahan jiwa."


"Apaan sih Nas, nggak nyambung orang aku seneng karena bisa libur lo malah mikir ke arah situ. Istirahatlah biar lekas sembuh!"


"Aduh!" Tiba-tiba Itnas meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.


"Lo kenapa Nas?"


"Kepalaku sakit banget dan tubuhku rasanya dingin sekali."


Kana meraba dahi Itnas kemudian beralih ke lengannya. "Kamu panas banget Nas, tunggu aku panggilkan dokter." Setelah berkata seperti itu Kana beranjak dari duduknya dan pergi memanggil dokter.


Selang beberapa menit dokter datang dan memeriksa keadaan Itnas. Kana keluar dari ruangan Itnas dirawat dan menelpon Mama Refi.


"Hallo Tante, ini Kana."


"Ya. Ada apa Kana?" Terdengar suara dari balik telepon.


"Apa? Itnas sakit? Baiklah Tante segera ke sana."


Selang tiga puluh menit mobil Mama Refi sudah terparkir di depan rumah sakit. Ia menuju ruang administrasi untuk menanyakan kamar rawat sang anak. Setelah mendapat informasi di kamar nomor berapa sang anak dirawat ia bergegas menuju ke ruangan tersebut.


Ceklek


Mama Refi membuka pintu kamar rawat dan mendapati sang anak yang terbaring lemah di atas ranjang dengan Kana di sampingnya yang sedang mengompres dahi Itnas.


"Kana, bagaimana keadaannya?"


"Sekarang sudah mendingan Tante. Tadi badannya panas sekali bahkan dia sampai menggigil kedinginan. Namun, setelah diberi obat oleh dokter, panasnya mulai turun dan dia sekarang sudah tidur, tapi tadi pagi dia sempat pingsan Tante."


"Mana biar Tante yg mengompres," ucap Mama Refi sambil meraih kain basah yg dipegang Kana. Sambil mengompres dia meminta Kana menceritakan apa yang telah terjadi dengan anaknya.


"Kana, coba ceritakan kenapa Itnas bisa sampai pingsan!"


"Kana tidak tahu Tante. Tadi pagi Itnas dipanggil ke ruangan bos, mungkin karena dia terlambat. Tidak tahu apa yang terjadi tahu-tahu sekembalinya dari sana Itnas pingsan Tante."


"Jangan-jangan dia dihukum sama bosnya tapi hukuman apa yang diberikan sampai membuatnya pingsan?"


"Kana tidak tahu Tante."


"Awas tuh orang kalau sampai macem-macem sama anakku tak pites dia." Mama Refi terlihat geram.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Mama Refi Kana ingin ketawa. Dalam otaknya dia berfantasi Mama Refi sedang cakar-cakaran dengan Vierdo.


Ah gak mungkin. Mana mungkin pak Vier bertingkah seperti anak kecil, kalo sampai seperti itu maka hilanglah wibawanya.


Kana menutup mulutnya sendiri takut keceplosan ketawa, sambil menoyor kepalanya sendiri yang berpikir aneh-aneh.


"Kenapa kamu sakit kepala juga?" tanya Mama Refi yang melihat Kana memegang kepalanya sendiri.


"Ah nggak kok Tante." Gadis itu hanya nyengir.


"Oh ya kemana si Syahdu?"


"Di kantor Tante."


"Oh iya ya. Tante lupa kalau sekarang masih jam kantor. Terus kamu nggak mau balik ke kantor kan sudah ada Tante yang jagain Itnas?"


"Nggaklah Tante tanggung sudah siang."


"Yasudah kamu pulang saja. Kamu kan juga butuh istirahat."


"Saya pulang sore saja ya Tante mau nemenin Itnas lagipula kalau saya pulang sekarang takut disangka bolos sama orang tua. Namun, Kana mau keluar beli makan dulu ya Tante. Apa Tante mau Kana bawain?"


"Gak usah Tante sudah makan tadi."


"Kalau begitu Kana pergi dulu ya Tante."


"Iya. Kamu hati-hati ya!"


"Iya Tante." Kana melangkah meninggalkan ruangan.


Seperginya Kana Vierdo bersama Wendi datang ke kamar rawat Itnas.


Ceklek


pintu ruangan terbuka menampakkan dua sosok lelaki dari balik pintu yang masih berpakaian resmi kantor. Ya kedua laki-laki itu adalah Vierdo dan Wendi sang asisten. Setelah bertemu klien tadi Vierdo iseng menanyakan siapa karyawan yang dibawa oleh Wendi tadi pagi ke rumah sakit. Setelah mendengar bahwa karyawan tersebut bernama Itnas dia langsung meminta Wendi untuk mengantarnya ke rumah sakit. Timbul sesal dalam hatinya karena sedikit banyak gara-gara dirinya lah yang membuat Itnas harus dirawat di rumah sakit.


Mama Refi mengernyitkan dahi. "Kalian siapa?"


"Perkenalkan nama saya Wendi Tante, temannya Itnas. Apakah Tante orang tuanya?" Sambil mengulurkan tangan. Mama Refi menjabat tangan Wendi.


"Iya saya mamanya, dan dia siapa?"


"Nama saya Vierdo." Meniru jejak Wendi mengulurkan tangan. Namun tidak langsung mendapat respon.


"Tunggu-tunggu. Sepertinya saya kenal nama itu, tapi siapa ya?" Mama Refi tampak berpikir, mengingat-ingat sesuatu.


"Dia pemilik perusahaan tempat kami bekerja Tante."


"Oh jadi dia bosnya. Kamu apakan anak saya hah! Sampai anak saya pingsan dan sakit seperti ini. Kamu tahu seumur hidup anak saya tidak pernah pingsan. Pasti kamu berikan dia hukuman yang berat ya? Dasar bos kejam!" cerocos mama Refi.


Mendengar perkataan Mama Refi Vierdo hanya diam sedangkan Wendi hanya melongo melihat sang bos di interogasi orang tua dari karyawannya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2