
Seorang pria dengan rambut gondrong yang diikat sedang duduk menunggu seseorang di dalam sebuah kafe sambil meneguk segelas cappucino hangat. Sesekali dia melirik ke arah luar kafe sambil beberapa kali menengok jam di pergelangan tangannya.
"Leon mana sih? Apa nggak jadi kemari karena sekarang sedang hujan atau mungkin diundur sebentar menungggu sampai hujan reda?" Fikran gelisah menunggu kedatangan sahabatnya apalagi saat melihat di luar sana hujan semakin deras dan disertai angin kencang.
Fikran meletakkan gelasnya yang sudah kosong. Matanya memandang ke arah luar kafe menatap hujan yang memberikan hawa dingin lebih pada pagi ini.
Fikran merenung, memikirkan permintaan sang ayah untuk berhenti menjadi seorang polisi intelijen dan beralih memimpin perusahaan milik sang ayah.
"Ayah sudah tua, siapa yang akan memimpin perusahaan nanti kalau ayah sudah tiada?" Mata tua itu tampak lelah dan penuh harap. Sudah beberapa kali permintaannya ditolak oleh sang putra.
"Kan ada Nafisa Pa, biarkan dia yang memimpin perusahaan." Begitu yang selalu menjadi jawabannya saat sang ayah membicarakan tentang penerus perusahaan.
"Adikmu perempuan dan dia baru masuk kuliah, sekarang kemampuan ayah sudah berkurang. Di umur yang sudah melebihi setengah abad ini seharusnya ayah sudah pensiun dari dunia kerja dan lebih menikmati hari tua dengan beristirahat di rumah." Mata pria itu tampak berkaca dan kalau seperti ini kerasnya hati Fikran menjadi rapuh.
__ADS_1
"Baiklah ayah aku akan mengundurkan diri dari kepolisian dan akan memegang perusahaan milik ayah."
Mata yang tadinya sayu dan berkaca-kaca tampak berbinar. Hanya mendengar jawaban seperti itu sang ayah sudah terlihat bahagia. Sebenarnya sederhana itu kebahagiaan seseorang yang sudah lanjut usia.
"Tapi jangan sekarang ayah, Fikran masih ada satu misi yang belum terselesaikan. Nanti kalau penjahatnya sudah tertangkap baru Fikran akan berhenti dan pamit pada atasan."
"Tidak masalah, tuntaskan apa yang ingin kamu tuntaskan dulu, baru setelah itu mengambil langkah selanjutnya, memenuhi janji pada ayahmu yang sudah tua renta ini."
"Iya ayah maafkan Fikran ya." Fikran merangkul bahu sang ayah sambil meneteskan air mata. Dia sadar sudah sering mengecewakan sang ayah dan hingga saat ini merasa belum bisa membahagiakan ayahnya ini.
"Tidak ayah Fikran yang salah." Kedua anak dan ayah itu saling berpelukan dan meneteskan air mata. Tidak ada yang salah dari keduanya. Hanya kewajiban dan tanggung jawab yang diembannya memang sudah harus beralih.
"Oh ya kapan kamu menikah? Jangan karena terlalu fokus dengan pekerjaan kamu malah melupakan hal yang penting dari hidupmu untuk mencari calon pendamping. Sudah ada?" tanya sang ayah penasaran.
__ADS_1
Fikran menggeleng. "Belum ayah, tak ada satu wanita pun yang bisa membuat Fikran jatuh cinta."
Sang ayah menggeleng. "Coba luangkan waktu untuk berjalan-jalan, siapa tahu kamu menemukan gadis di luaran sana yang cocok dengan dirimu."
Fikran terdiam, sebenarnya bukan tidak ada waktu baginya untuk mencari pendamping hidup, dia hanya takut jika menyeret wanita ke dalam bahaya. Dia takut wanita yang menjadi istrinya nanti ikut diserang oleh penjahat yang mungkin saja tahu akan profesinya yang sebenarnya dia sembunyikan dari semua orang itu.
"Nanti Fikran cari dan setelah ketemu Fikran akan langsung menggantikan ayah memimpin perusahaan."
"Bagus, ayah doakan kamu mendapatkan jodoh terbaik," ucap sang ayah sambil menepuk pundak putranya.
"Terima kasih ayah atas doanya."
"Ya, sekarang pergilah kalau kamu masih ada pekerjaan.
__ADS_1
Fikran mengangguk, setelah berpamitan pada sang ayah akhirnya dia keluar rumah dan melakukan tugasnya kembali menjadi seorang intel.
Bersambung.