Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 26. Kabar Buruk


__ADS_3

Siang hari ketika bekerja di kantor Itnas mendapatkan telepon bahwa papanya masuk rumah sakit.


Itnas mendatangi ruangan Leon dan meminta izin langsung.


"Pak saya izin pulang karena papa masuk rumah sakit. Untuk pemotretan produk yang akan di launching besok sudah saya selesaikan kok."


"Ah iya, kamu boleh pulang. Keluarga itu lebih penting dari segalanya, apalagi produk yang lainnya masih akan launching Minggu depan. Apa perlu saya antar?" Pertanyaan sekaligus tawaran dari sang atasan.


"Tidak perlu Pak, sebentar lagi sopir yang mama kirim sudah sampai."


Baiklah kalau begitu. Semoga papa kamu cepat sembuh ya!"


"Terima kasih Pak."


Itnas keluar dari ruangan Leon dengan tergesa-gesa. Sampai di depan pintu dia menabrak seseorang.


"Maaf, maafkan saya. Saya terburu-buru sehingga tidak sengaja menabrak Anda."


Itnas membantu memunguti berkas milik wanita tesebut yang berserakan akibat ulahnya.


"It's oke," jawab wanita tersebut.


Itnas sejenak melirik wajah wanita yang ditabraknya. Sepertinya dia pernah melihat orang ini, tetapi dimana?


Persetan dengan semuanya saat ini dia tidak ingin memikirkan apapun selain papanya.


Itnas kembali melangkahkan kakinya melewati koridor menuju lift dan turun ke lantai bawah.


Sesampainya di lobi dia mengedarkan pandangannya ke luar mencari keberadaan sang sopir. Namun, dia tak menemukannya.


Katanya mama pak Agus sudah hampir sampai tapi kok belum sampai juga ya.


Itnas melangkahkan kaki ke luar dari lobi, dia memilih menunggu pak Agus di pinggir jalan.


Kalau tahu begini aku tadi mau diantar pak Leon.


Sekian lama menunggu pak Agus belum datang juga.


Terdengar suara dering telepon dari dalam tas. Ternyata pak Agus yang menelpon.


"Apa Pak, mobilnya mogok? Yasudah aku naik ojol aja."


Itnas menutup telepon pak Agus dan beralih memesan ojek online.


Itnas duduk di atas tempat duduk yang terbuat dari susunan batu bata. Wajahnya begitu muram memikirkan nasib papanya, dia begitu gelisah ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit.


"Ngapain kamu melamun di situ?" tanya seseorang.

__ADS_1


Itnas menoleh, "Kak Vierdo?"


Vierdo mendekati Itnas dan duduk di sampingnya.


"Ada masalah apa sampai membuatmu begitu lesu seperti ini?"


"Oh itu ..." Itnas masih gugup berbicara dengan Vierdo.


"Papa masuk rumah sakit," lanjutnya.


"Kenapa kamu masih di sini?"


"Aku masih menunggu ojek online karena kebetulan tadi pagi aku tidak membawa kendaraan."


"Kalo begitu ayo aku antar!"


Itnas ingin menolak ajakan Vierdo, tetapi apa daya jasa Vierdo sekarang sangat dibutuhkan agar dirinya bisa sampai di rumah sakit dengan cepat.


Itnas mengangguk, Vierdo lalu menarik tangan Itnas dan membawanya ke dalam mobil. Untung saja mobil Vierdo masih belum sempat masuk area parkir sehingga mereka bisa langsung tancap gas.


Sesampainya di rumah sakit Itnas langsung berlari ke ruangan papanya.


Dia langsung menghampiri ranjang papa Husein. Melihat banyak selang dan kateter yang di pasang di tubuh sang papa Itnas menangis tersedu-sedu. Dia memegangi kedua tangan sang papa.


"Pa maafin Itnas yang tidak bisa jaga papa. Papa harus sembuh ya!Papa tidak boleh ninggalin kita semua."


"Kamu yang sabar ya Nas, kita doakan saja semoga papa kamu bisa melewati masa kritisnya."


"Iya Kak, makasih." Mulutnya menjawab sedang matanya terus saja memandang monitor holter di samping papanya, takut-takut alat untuk memantau ritme jantung yang biasanya menampilkan garis melengkung-lengkung itu berubah datar atau lurus.


Tiba-tiba pak Dafid muncul.


"Lho kok kamu ada di sini?" tegur pak Dafid pada Vierdo.


"Iya Pa aku tadi nganterin Itnas ke sini."


"Oh," ucap pak Dafid yang sebenarnya tidak tahu bahwa Itnas sudah ke luar dari perusahaannya.


"Tapi Itnas ngapain ke sini?" tanya pak Dafid yang tidak tahu bahwa Itnas adalah anak dari pak Husein.


"Ya jagain papanya lah pa," jawab Vierdo.


"Jadi kamu anaknya pak Husein?" Pak Dafid hanya tahu kalau pak Husein punya anak kembar. Dan pak Husein sering membawa mereka ketika bertemu waktu mereka masih kecil. Waktu itu pak Dafid juga sering membawa Keysa.


"Iya Pak."Jawab Itnas.


"Jangan panggil bapak panggil saja Om. Aku kan temannya papa kamu."

__ADS_1


"Baik Om."


"Aku tidak menyangka kalau pak Husein punya anak lain selain si kembar. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan papa kamu?"


"Seperti yang Om lihat sendiri keadaannya kritis."


Mama Refi datang dengan terburu-buru sambil menenteng makanan dan baju ganti yang di antar Dafa tadi makanya ketika Itnas datang Mama Refi tidak ada di ruangan karena dia keluar sebentar untuk menghampiri Dafa.


"Mana Yudha?" tanyanya pada Itnas.


Itnas hanya mengendikkan bahu.


"Aku belum ngasih kabar sama dia."


"Biar mama yang ngasih kabar. Enak saja mertuanya sakit, dia pasti asyik-asyikan sama istri mudanya. Keenakan tuh madu kamu kalau selalu di keloni sedang kamu ditelantarkan begitu saja. Kamu harus bertindak biar madumu itu tidak menguasai suamimu." Mama Refi berbicara tanpa jeda. Dia sedang tidak sadar bahwa disampingnya ada Vierdo dan pak Dafid yang mendengarkan omongannya.


"Ma Thalita nggak seperti itu." Bukan tanpa alasan Itnas berkata seperti itu kejadian penyiksaan yang dilihatnya beberapa hari yang lalu sudah cukup membuktikan bahwa rumah tangga Yudha dan Thalita pun tidak harmonis.


"Cih, kamu malah membela madumu itu."


"Jadi kamu di poligami?" Vierdo yang terkejut mendengar ucapan Mama Refi langsung bertanya.


"Ups, ada Nak Vierdo. Apa kabar Nak Vierdo?" tanya Mama Refi untuk mengalihkan perhatian.


"Eh ada pak Dafid juga. Apa kabar Pak?" Sepertinya Mama Refi salah tingkah.


Sedang pak Dafid yang sedari tadi berencana dalam hati untuk menjodohkan Vierdo dengan Itnas setelah pak Husein sembuh mengurungkan niatnya mendengar Itnas sudah punya suami.


"Ah saya dan anak saya baik Bu," jawab pak Dafid melihat Vierdo tidak menjawab.


Sedangkan Itnas jangan ditanya dia begitu malu memandang wajah Vierdo.


Tanpa menjawab pertanyaan Vierdo dia malah mengajukan pertanyaan lain kepada sang mama.


"Ma tolong ceritain kenapa papa bisa seperti ini!" Sontak semua mata kini fokus menatap pak Husein.


"Mama tidak tahu yang mama tahu setelah menerima telepon dari pak Ilham tiba-tiba papa kamu shock dan penyakit jantung papa kamu kambuh. Yang mama dengar sedikit dari pembicaraan ayah kamu dengan pak Ilham bahwa ada satu karyawan di pabriknya yang korupsi tapi mama tidak tahu siapa orang itu dan itupun kalau mama tidak salah dengar."


Mendengar pernyataan sang mama Yang ambigu Itnas lalu mengambil ponsel dan menghubungi pak Ilham.


"Hello Pak ini Itnas boleh saya tahu Bapak membicarakan apa ya tadi siang dengan papa?"


"........."


"Apa?!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2