Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 36. Alasan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Setelah menemui mama Elvi mereka langsung menuju rumah Itnas untuk menyemangati Itnas akan perceraiannya. Namun, sampai di sana dia melihat Itnas sedang panik.


"Ada apa Mbak kok sepertinya Mbak khawatir?" tanya Thalita.


"Iya ada apa Nas?" sambung Juno.


"Papa di culik sama Mas Yudha," ujar Itnas sambil mengeluarkan motornya dari garasi.


"Ayo aku antar saja," saran Juno.


"Iya Mbak kita sama-sama aja," ujar Thalita.


Itnas pun mengangguk dan ikut naik ke dalam mobil Juno.


"Kemana ini?" tanya Juno sambil menyalakan mobilnya.


"Aku tidak tahu, ini salah satu anak buah papa tengah mengikutinya," ucap Itnas sambil menunjukkan ponselnya yang sedang menunjukkan pergerakan posisi anak buah papa Husein yang mengikuti Yudha.


Juno pun melajukan mobilnya mengikuti posisi anak buah papa Husein. Ternyata posisinya mengarah ke sebuah vila kosong. Juno pun melajukan mobilnya dengan cepat dan memarkirkan mobilnya di sebalik semak agar tidak terlihat oleh Yudha.


Itnas turun dari mobil dan menghampiri suruhannya. "Bagaimana pak Bagas?" tanya Itnas.


"Dia mengarah ke vila kosong itu Non," ucap pak Bagas menunjuk vila yang berada di atas bukit.


"Pak Bagas telepon polisi aku mau menyusul mereka!" perintah Itnas.


"Baik Non." Pak Bagas menghubungi polisi sedang Juno segera menghubungi Vierdo agar segera menyusul ke tempat tersebut.


Setelah sama-sama menutup teleponnya Juno dan pak Bagas segera menyusul Itnas ke arah vila.


"Pak Bagas apa tidak sebaiknya Bapak tidak usah ikut ke sana. Lebih baik bapak berjaga-jaga di sini siapa tahu Yudha tidak sendiri. Barangkali ada anak buahnya yang berkeliaran di sini yang mengintai musuh."


"Mas nya tenang saja itu ada pak Fathor di belakang yang mengawasi dari sini."


"Oke kalau begitu Lit kamu di sini saja ya sama Pak Fathor tidak usah ikut ke Vila," ujar Juno. Namun, Thalita menggeleng dia tetap ngotot ingin ikut ke atas dia ingin ikut andil dalam menyelamatkan papanya Itnas seperti halnya Itnas yang telah ikut andil dalam menyelamatkan hidupnya dari jeratan Yudha.


"Tapi ini bahaya Lit bisa saja Yudha mengancam keselamatan kamu ataupun anak kita," ujar Juno.


"Tapi aku bisa jaga diri Mas," elak Thalita.

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu tetap ngotot, tapi aku minta kamu harus berhati-hati," ujar Juno lagi.


"Iya Mas," ucap Thalita sambil mengangguk.


Mereka pun akhirnya melangkah bersama naik ke atas.


Di dalam Vila mata Papa Husein terbelalak ketika tali yang mengikat matanya dibuka. Dia tidak percaya bahwa yang telah berani menculik dirinya adalah Yudha.


"Yudha? Ternyata kau yang telah berani menculik diriku!" bentak Papa Husein.


"Hahaha ..." Yudha hanya menjawab dengan suara tawanya.


"Apa maumu?" tanya Papa Husein sedikit berteriak.


"Paman ingin tahu kenapa aku menculik Paman?" Malah balik bertanya sepertinya Yudha ingin mempermainkan lawan bicaranya.


"Cepat katakan apa yang kau mau!"


"Menghancurkan hidup keluarga Paman seperti halnya Paman menghancurkan keluarga kami," ucap Yudha dengan suara yang lantang dan keras.


"Omong kosong, apa yang kau bicarakan?" tanya Papa Husein masih tidak mengerti.


"Pinter sekali ya paman berakting," ujar Yudha sambil tersenyum yang dipaksakan.


"Apa maksudmu? Siapa sebenarnya dirimu?"


"Paman mau tahu siapa aku? Aku adalah Hendra putra dari pak Anton," ucap Yudha angkuh sambil menepuk dada.


"Apa katamu? Anton sudah meninggal?" tanya papa Husein keheranan sebab selama dirinya berpindah ke kota dia tidak pernah mendengar kabar dari sahabatnya itu. Dia pikir Anton baik-baik saja dan sekarang dia sudah bahagia bersama keluarganya. Pantas saja setiap Papa Husein menelpon, keluarga di sana tidak ada yang menjawab, rupanya dia sudah meninggal.


"Paman jangan pura-pura tidak tahu," ujar Yudha.


"Aku tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan!" ucap Husein mengelak karena memang bukan dia pelakunya.


"Seharusnya kau mencari pelaku yang sebenarnya bukan malah menuduh saya yang sama sekali tidak tahu menahu tentang semuanya!"


"Paman tidak perlu beralibi," ujar Yudha.


"Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya pada ibumu!"

__ADS_1


"Hem, Paman memang benar-benar ya, benar-benar tukang akting," ucap Yudha sambil tersenyum kecut.


"Aku tidak pernah berbohong! Memang terakhir kali aku menemui ayahmu di pinggir tambak itu, tapi itu aku hanya pamit pada ayahmu karena kami sekeluarga ingin pindah ke kota."


"Iya tapi sebelum ayah datang paman menabur racun kan di tambak ayah sehingga ketika Paman pergi tiba-tiba saja semua ikan pada mati dan gara-gara itu ayah pun stroke dan meninggal di tempat dan ibu pun stres karena kehilangan ayah dan ikut meninggal dunia. Itu semua gara-gara paman!"


Papa Husein menarik nafas berat di satu sisi dia sok sekaligus simpati terhadap kepergian Anton tapi di sisi lain dia begitu membenci cara Yudha bersikap.


"Kamu jangan menuduh sembarangan ya kalau tidak ada bukti. Aku benar-benar tidak melakukan apa yang kau tuduhkan," bantah papa Husein.


"Jadi itu mengapa kamu mengabaikan anakku?" tanya papa Husein lagi.


"Cih, siapa yang sudi menyentuh anak dari seorang pembunuh. Tadinya aku ingin menyiksa Itnas, tapi tak apalah lebih baik aku bunuh saja Paman biar Itnas pun bernasib sama sepertiku. Sama-sama tidak memiliki ayah dan semoga saja Tante Refi mengalami apa yang ibuku alami biar kita impas," kata Yudha sambil mengulurkan senjatanya.


"Jangan!" teriak Itnas sambil berlari menghampiri Papa Husein.


"Wah rupanya anak paman ingin menjadi jagoan, baiklah membunuh anak Paman juga boleh," ujar Yudha sekarang berbalik arah sambil menarik senapan.


Melihat Itnas akan ditembak oleh Yudha reflek Thalita berlari ke arahnya. "Awas Mbak!"


Dor!


Akhirnya peluru keluar dari pistolnya dan mengenai bahu Thalita.


"Thalita!" Juno berteriak melihat keadaan Thalita. Reflek Juno dan Itnas menghampiri Thalita. Sedang papa Husein tiba-tiba penyakit jantungnya kambuh karena melihat darah mengucur dari bahu Thalita.


"Papa!" Akhirnya Itnas pun berlari ke arah papanya yang kini sedang menekan dadanya. Sedangkan Juno dibantu pak Bagas mengangkat Thalita ke mobil.


"Ayo Pak cepetan aku tidak ingin kita terlambat," ucap Juno kepada pak Bagas. Mereka pun melangkahkan kakinya lebih cepat lagi.


"Kumohon bertahanlah Thalita," ujar Juno dengan mata berkaca-kaca. Dia begitu takut akan kehilangan calon istri dan anaknya tersebut.


"Jun kenapa dia?" tanya Vierdo yang baru saja datang.


"Kena tembak, kau temuilah Itnas di dalam, sepertinya dia membutuhkan pertolonganmu."


"Baiklah." Vierdo berlari dan masuk ke dalam vila. Sampai di sana dia melihat Itnas berkutat seorang diri. Vierdo pun membantu melepaskan ikatan tangan Papa Husein dan segera membawanya ke rumah sakit menyusul Thalita.


Sedangkan Yudha setelah menembak dia melarikan diri keluar villa untuk menyelamatkan dirinya sendiri karena mendengar sirine mobil polisi.

__ADS_1


Bersambung....


Novel ini slow up date ya, sambil menunggu biar tidak bosen bisa mampir ke karya Author yang satunya. Di sana lebih rame dan insyaallah akan di update setiap hari. Terima kasih.🙏


__ADS_2