
Sejak berpisah di pintu pagar rumah Kana, Gino dan Kana tidak bertemu lagi. Ini sudah malam kedua sejak mereka berpisah dan kalau tidak diundur ini adalah malam keberangkatan Gino ke Turki. Gino pun juga tidak menelpon lagi padahal selama ini sebelum akrab dengan Kana, Gino begitu cerewet. Menanyakan ini itu terhadap Kana.
'Apa kabar? Sudah makan belum? Sudah shalat? Sudah mau berangkat ngantor? Kalau iya aku jemput sekarang.'
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang sering Gino layangkan pada Kana dan gadis itu selalu kesal karena menganggap Gino mengganggu ketentraman hidupnya dan selalu membuang-buang waktunya sebab pertanyaan itu tidak berbobot sama sekali dan tidak begitu penting untuk Kana.
Kana menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri memikirkan keanehan pada Gino. "Tumben dia tidak nelpon, apa dia baik-baik saja?" Kana tidak habis pikir dengan dirinya sendiri mengapa dia seolah merindukan Gino saat ini.
Kana meraih ponsel yang ada di atas nakas lalu menimang-nimang apakah akan menelponnya apakah tidak. "Mengapa aku jadi kepikiran sama dia ya? Aneh." Bergumam sendiri.
"Telepon aja deh." Beberapa saat berpikir akhirnya memutuskan untuk menelepon Gino saja daripada dirinya dilanda penasaran.
"Halo Kan, ada apa? Tumben kamu nelpon?" tanya Gino dari balik telepon.
"Kamu yang tumben kenapa malah nggak nelpon aku lagi?" Kana terlihat cemberut.
"Ish, bukannya kamu yang bilang ya jangan nelpon kalau tidak ada yang penting." Gino mengingatkan ucapan Kana tempo hari.
Mendengar ucapan Gino, Kana langsung tepuk jidat. Memang benar dia pernah mengatakan hal itu saat malam sebelum pernikahan Itnas dan Vierdo. Sebenarnya malam itu Gino hanya ingin menyampaikan akan menjemput dirinya. Namun, Kana malah ngegas marah-marahin Gino dan berkata bahwa Gino mengganggu malamnya.
"Oh iya ya, aku lupa. Sorry ya Gin waktu itu aku ada sedikit masalah jadi badmood dan imbasnya pada semua orang yang ngajak aku bicara," sesal Kana. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa sekarang dia malah berbalik menyukai pria itu.
"Nggak perlu minta maaf kamu tidak salah kok, seharusnya aku yang minta maaf sudah selalu mengganggumu."
"Nggak kok Gin kamu tidak salah apa-apa cuma kadang aku yang terlalu sensitif. Jadi kalau aku ada masalah dikit maka imbasnya pada semua orang. Aku labil Gin."
"Nggak apa-apa semua bisa diperbaiki kok," ucap Gino maklum.
__ADS_1
"Gin makasih ya."
"Makasih apa?"
"Atas perhatianmu selama ini."
Gino yang mendengar kalimat itu terucap dari mulut Kana menjadi senyum-senyum sendiri. Akhirnya Kana menyadari ketulusan hatinya. Gino memang menyukai Kana, memberikan perhatian lebih pada gadis itu dengan tulus dan pada akhirnya jika memang Kana tidak bisa membalas perasaannya, Gino ikhlaskan saja. Nyatanya sepertinya Tuhan mendukung hubungan mereka hingga dalam waktu dekat Kana bisa merasakan semuanya.
Selama berbincang-bincang ternyata di bandara, di belakang dirinya duduk disiarkan bahwa pesawat jurusan Turki akan segera berangkat.
"Kan udah dulu ya, aku mau mode pesawat ini."
"Udah mau nerbang ya Gin?"
"Iya Kan."
"Oke, kamu juga hati-hati ya Kan, saya pasti akan merindukanmu di sana. I always miss bye." Setelah mengatakan itu Gino langsung menutup teleponnya dan menonaktifkan ponselnya.
"Ayo Nak kita berangkat," ajak sang mama.
"Iya Ma." Mereka pun menarik koper dan berjalan menuju pesawat.
***
Sampai di Turki setelah menaruh barang-barangnya Gino langsung video call-an dengan Kana. Kana senang sekali akhirnya Gino bisa memberikan perhatiannya kembali membuat Kana sedikit demi sedikit lupa akan perasaannya pada Wendi.
"Wah spot di belakangmu indah banget Gin." Kana benar-benar takjub dengan pemandangan yang terpampang di belakang Gino dimana salju-salju beterbangan seperti kapas.
__ADS_1
"Makanya aku ajak kamu, kamu malah tidak mau," protes Gino.
Kana diam, dia pikir Gino waktu itu hanya basa-basi saja mengajak dirinya. Namun, meskipun benar sekalipun dia tidak akan pernah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya bila pergi dengan seorang laki-laki yang bukan muhrimnya.
"Kok bengong?"
"Ah nggak aku masih mengangumi pemandangan yang ada di belakangmu itu."
"Ya udah lain kali kalau aku ke sini lagi aku pasti akan mengajak dirimu."
"Aku sebenarnya sangat ingi sih Gin ikut ke sana, cuma mana boleh sama orang tuaku."
"Emang kalau aku nikahin kamu masih nggak boleh sama orang tuamu?"
"Ih gombal selalu ngomongnya begitu."
"Kok gombal sih Kan? Dengar! Dengar! Aku ingin ngomong sesuatu yang penting buat kamu."
"Sesuatu yang penting apaan?"
"I love you," ucap Gino lalu tersenyum manis.
"Ih gombal." Kana tampak cemberut.
"Nggak gombal kok. Entar sepulang dari sini aku akan melamar dirimu."
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Gino, tubuh Kana membeku seketika.
__ADS_1
Bersambung.