Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 105. Dunia Terasa Sempit


__ADS_3

Syahdu sudah menghabiskan jatah makanan yang dirinya pesan tadi. Nasi dan chicken nya sudah tandas di piring, tetapi dia masih merasa lapar. Namun, untuk nambah makanan lainnya dia merasa malu sebab baru saja kenal dengan Fikran. Dia takut Fikran akan menganggapnya sebagai gadis yang rakus. Andai saja sekarang dia duduk bersama Leon, Leona, dan Thalita, dia pasti akan memanggil pelayan untuk memesan makanan lagi.


"Kok sudah berhenti? Ayo makan lagi, temenin aku!" Fikran tahu apa yang ada di dalam pikiran Syahdu saat ini. Syahdu hanya tersenyum malu-malu dan dia terlihat ragu antara mau menyentuh gelas minum untuk mengakhiri makannya ataukah nambah nasi lagi.


Melihat keraguan pada sikap Syahdu akhirnya Fikran berinisiatif mengambil dan meletakkan nasi serta daging rendang di piring Syahdu.


"Nanti kalau masih kurang nambah lagi," saran Fikran sambil mengulas senyum dan Syahdu pun membalas dengan senyum malu-malu.


"Kalau masih lapar makan aja sebab rasa malu tidak akan membuatmu kenyang. Lagipula kalau aku lihat tubuh kamu kayaknya nggak akan gemuk deh meskipun seumpama doyan makan sekalipun."


"Kok tahu sih?" Syahdu tidak bisa percaya ternyata tebakan Fikran benar.


"Cuma nebak aja, kayaknya body-body seperti punyamu memang doyan makan tapi nggak gemuk-gemuk," tebak Fikran lagi.


"Akh, jadi malu." Syahdu menutup wajah dengan kedua tangannya, tetap tidak sampai menyentuh wajah hanya menghalangi saja dari pandangan Fikran sebab kalau sampai menyentuh maka wajahnya akan belepotan karena Syahdu tadi makan menggunakan tangan.


"Kenapa harus malu? Kan sudah kubilang kalau malu tidak bisa membuat orang kenyang. Ayo makan lagi!"


Syahdu mengangguk dan mulai menyentuh nasi di piringnya lagi. Dia makan dengan lahap kembali.


"Nah gitu dong, punya body yang nggak gemuk-gemuk meski makan banyak itu bagus. Jadi, kamu bisa bebas makan apapun. Manfaatkan itu selagi badanmu sehat sebab kalau sakit mau makan apa ya nggak akan masuk sebab selera makan tetap tidak enak."


Syahdu mengangguk dan kembali fokus menatap makanan.


"Kamu nggak malu ya punya teman rakus seperti aku?" tanya Syahdu setelah mereka berdua mengakhiri makannya.


"Kalau menurutku sih kamu nggak rakus cuma sedang lapar saja. Makan segitu mah belum bisa dibilang rakus apalagi cuaca yang dingin seperti ini memang membutuhkan makanan lebih untuk pembakaran kalori di dalam tubuh agar badan menjadi hangat."


"Terima kasih ya, tapi teman-temanku bilang aku rakus."


"Alah mereka cuma bercanda aja jangan diambil hati."


Syahdu mengangguk lagi.


"Besok kamu ada acara nggak?" tanya Fikran.


"Besok aku kerja," sahut Syahdu.


"Jam makan siang boleh nggak aku jemput ke kantor kamu?"


"Mau ngapain?"

__ADS_1


"Mengajak kamu makan sekaligus ngajak kamu agar nemenin aku potong rambut."


"Potong rambut minta temenin aku?" tanya Syahdu tak percaya. Baru kenal saja Fikran sudah manja.


"Iya biar sesuai sama keinginan kamu."


Syahdu mengernyit. "Apa hubungannya dengan aku?"


"Biar nanti kalau mandang aku kamu nggak kesal dan ilfil lagi."


Syahdu terkekeh mendengar perkataan Fikran.


"Ada-ada saja. Bolehlah hitung-hitung aku pengen jalan-jalan.


Fikran mengangguk. "Oke besok siang aku jemput di kantormu ya?"


"Oke siap."


"Eh alamat kantormu masih yang dulu ya?"


"Maksudnya?"


"Iya tempatnya itu di depan tempat pas aku hampir nabrak kamu."


"Oke, boleh tukaran nomor telepon biar kita enak ngobrolnya."


"Mana hapemu?"


Fikran merogoh ponsel dari saku celana dan mengulurkan ke arah Syahdu.


"Oke." Syahdu mengambil ponsel Fikran dan menulis nomornya di kontak ponsel Fikran.


"Ini nomorku."


"Oke." Fikran pun mencoba menelpon Syahdu dan ternyata benar, nomornya tersambung sebab ponsel Syahdu berdering seketika.


Syahdu memeriksa ponselnya takut ada orang lain yang menelponnya.


"Itu nomor teleponku, jangan lupa disimpan ya. Nanti nggak diangkat lagi," saran Fikran.


"Baiklah aku save." Syahdu pun menyimpan nomor Fikran.

__ADS_1


Fikran mengangguk keduanya pun saling pandang sambil tersenyum.


"Nih anak pacaran nggak bilang-bilang." Terdengar suara seorang wanita dan derap langkah yang berjalan ke arahnya.


Syahdu dan Fikran langsung menatap ke arah datangnya suara.


"Itnas? Vierdo?" Fikran tidak menyangka bisa bertemu kedua sahabatnya di tempat ini.


Syahdu terlihat kaget. "Kamu mengenal mereka?"


"Ya Vierdo ini kakak senior di kampus sedangkan Itnas adik kelas," terang Fikran.


Syahdu menggeleng tidak percaya, benar kata orang-orang dunia terasa sempit. Kemarin saat Kana bersama dengan Gino ternyata Gino adalah teman Vierdo dan sekarang saat dirinya bersama Fikran ternyata pria itu adalah teman Vierdo dan juga Itnas.


Apakah ini pertanda aku berjodoh juga dengan Fikran? Akh, aku belum tahu sebenarnya Fikran seperti apa, benar-benar baik atau mungkin sebaliknya?"


"Dan kamu kenal mereka darimana?" Fikran balik bertanyalah.


"Pak Vierdo ini pemilik perusahaan tempat aku bekerja kalau Itnas pernah menjadi teman kerja dan sekarang malah jadi sahabat baik."


Fikran manggut-manggut mendengarkan penjelasan Syahdu.


"Oh jadi Itnas yang ini istrinya Vierdo?" tanya Fikran sambil mencoba mengingat-ingat nama yang tertera di surat undangan pernikahan Vierdo yang sempat ia terima. Dia sebenarnya tidak tahu nama kepanjangan Itnas dan berpikir wanita yang menikah dengan Vierdo itu adalah Itnas yang lain sebab yang Fikran tahu suami Itnas adalah Yudha.


"Hmm, makanya kalau diundang teman hadir biar tahu," protes Vierdo.


"Iya sorry saat itu aku ada pekerjaan mendadak dan genting jadi tidak bisa ditinggalkan. Sorry ya," sesal Fikran.


"Sorry-sorry," keluh Vierdo.


"Ya mau gimana lagi, pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan begitu saja, tidak seperti pekerjaanmu yang bisa ditunda."


"Makanya beralih aja pegang perusahaan, paman sudah tua bukan? Kenapa kamu tega membiarkan dia terus bekerja di usia tuanya? Papaku aja yang lebih muda dari paman sudah pensiun dan hanya kadang-kadang membantuku."


"Iya rencananya begitu, aku mau gantikan ayah setelah dapat jodoh."


"Cih mau alih profesi aja masih harus menunggu jodoh. Pokonya aku nggak setuju kalau kamu nikahi Syahdu masih dengan pekerjaanmu sekarang."


"Vier, nik kakak kelas bukannya membantu malah mengacau, pergi gih sana!" Fikran nampak kesal. Sudah-sudah dirinya mendekati Syahdu malah dikacaukan oleh Vierdo.


"Aku hanya tidak ingin dia masuk ke dalam bahaya," ujar Vierdo membuat Syahdu berpikir keras apakah pekerjaan Fikran yang sebenarnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan dia memang preman," batin Syahdu. Gadis itu tersenyum getir.


Bersambung.


__ADS_2